Jumat, 23 November 2007

KUMPULAN CERITA HOT

Saya bernama Bambang, usia pada tahun 2000 ini 37 tahun, pekerjaan wiraswasta. Menikah dengan Linda pada tahun 1993, saat ia berusia 29 tahun. Kami telah dikarunia dua orang anak yang lucu-lucu. Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan pengalaman saya dengan ibu mertua saya. Saya memiliki minat seksual khusus terhadap wanita yang lebih tua. Bahkan minat khusus tersebut telah ada sejak saya remaja. Saat remaja, saya ingat bahwa ketika saya bermasturbasi, saya lebih suka membayangkan tante-tante tetangga rumah, teman-teman ibu saya, ibu guru, maupun wanita-wanita lain yang masih terbilang ada hubungan keluarga. Boleh dikata, saya sangat jarang menjadikan cewek-cewek sebaya saya sebagai obyek fantasi ketika bermasturbasi. Minat tersebut rupanya terus bertahan sampai saat ini, walaupun saya sudah berkeluarga. Salah satu wanita yang saya minati dan sering menjadi obyek fantasi seksual saya sampai saat ini adalah ibu mertua saya sendiri yang bernama Nani. Saat ini beliau berusia 57 tahun. Ibu mertua saya ini sudah menjanda sejak tahun 1984, karena bapak mertua saya meninggal karena kecelakaan waktu itu. Rasa tertarik terhadap ibu mertua saya ini sudah timbul pada saat saya pertama kali diperkenalkan oleh pacar (isteri) saya padanya di tahun 1990. Sejak saat itu, saya sering menjadikan beliau menjadi obyek fantasi saat saya bermasturbasi. Begitu besarnya rasa tertarik saya pada beliau, sehingga pernah terlintas pikiran untuk kawin dengan beliau entah bagaimana caranya. Tetapi pikiran tersebut tidak saya kembangkan lebih lanjut karena saat itu beliau sudah menopause, sedangkan saya masih memiliki keinginan untuk memiliki anak. Lagipula, pasti akan banyak masalah dan hambatan untuk mewujudkan pikiran tersebut. Karena itulah akhirnya, saya tetap melanjutkan hubungan saya dengan Linda, sehingga akhirnya kami menikah pada tahun 1993. Saat baru menikah, kami tinggal bersama ibu mertua saya ini. Karena 3 orang kakak isteri saya yang telah menikah telah memiliki rumah sendiri-sendiri, sedangkan 2 orang adik isteri saya sedang kuliah di Bandung dan Yogyakarta. Kami tinggal di rumah ibu mertua saya tersebut, selain untuk menemani beliau, juga karena kondisi keuangan kami saat itu belum memadai untuk memiliki rumah sendiri. Selama kurang lebih satu tahun tiga bulan tinggal bersama mertua inilah, ada sejumlah pengalaman baru, yang makin menunjang saya untuk menjadikan beliau menjadi obyek fantasi favorit saya. Pengalaman baru yang maksud misalnya adalah saya sering mendapat kesempatan melihat paha mertua saya, entah ketika nonton TV, atau sedang bersih-bersih rumah, dan sebagainya. Cukup sering juga saya memergoki beliau keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Bahkan pernah sekali waktu saya beruntung dapat melihat payudara ibu mertua saya tersebut dalam keadaan telanjang ketika ia membuka lilitan handuknya hendak berganti baju. Sayangnya beliau masih memakai celana dalam. Pernah juga saya melihat puting payudaranya menyembul keluar daster secara tidak sengaja ketika beliau nonton TV sambil tidur-tiduran di sofa. Pengalaman-pengalaman baru seperti itulah yang semakin memperkuat minat seksualku pada beliau. Terkecuali, pada saat-saat kesadaran moral dan religius saya sedang baik, saya sering memiliki keinginan untuk dapat menyetubuhi ibu mertua saya tersebut. Namun, saya tidak tahu caranya. Yang dapat saya lakukan saat itu hanyalah berfantasi saja. Bahkan cukup sering, ketika saya bersetubuh dengan isteri saya, yang ada dalam kepala saya adalah bersetubuh dengan ibu mertua saya tersebut. Selain berfantasi, paling jauh saya hanya memiliki kesempatan untuk cium pipi dan memeluk ibu mertua saya tersebut pada tiga kesempatan. Yaitu pada saat hari ulang tahun beliau, ulang tahun saya dan ulang tahun perkawinan saya dengan Linda. Pada kesempatan di hari ulang tahun saya, ketika menerima cium dan peluk dari ibu mertua, untuk pertama kalinya saya merasakan himpitan payudara beliau di dada saya. Pengalaman ini sangat berkesan pada diri saya. Saya ingat bahwa pada malam itu, saya sangat bernafsu dan menggebu-gebu memesrai isteri saya. Saat itu, saya sanggup sampai empat kali mengalami ejakulasi ketika kami bersetubuh. Padahal, biasanya paling banyak saya hanya tahan dua kali saja. Yang pasti, ketika memesrai isteri saya, yang terbayang saat itu adalah ibunya. Pengalaman lebih jauh yang saya alami dengan ibu mertua saya tersebut terjadi ketika saya dan isteri saya menemani beliau ke Semarang untuk menghadiri pernikahan salah satu keluarga dekat dari almarhum bapak mertua saya. Ketika itu kami menginap di rumah keluarga calon pengantin. Karena terbatasnya tempat, kami hanya mendapat satu kamar dengan satu tempat tidur ukuran besar. Terpaksa, malam itu kami tidur bertiga di tempat tidur itu. Posisinya adalah, saya di sisi kiri, isteri saya di tengah dan ibu mertua saya di sisi kanan. Lampu kamar dimatikan ketika kami berangkat tidur. Ketika terbangun pagi harinya, saya kemudian sadar bahwa isteri saya sudah tidak ada di tempatnya. Sambil berbaring saya berusaha mencari isteri saya di kamar, tetapi saya tidak dapat menemukannya. Secara samar-samar saya hanya melihat tubuh ibu mertua tidur memunggungi saya. Saya langsung menduga bahwa isteri saya pasti ke kamar mandi sebagaimana kebiasaannya. Isteri saya terbiasa secara teratur bangun jam 04.30 dan kemudian ke kamar mandi untuk buang air besar dan mandi. Saat itu timbul pikiran kotor dan nakal dalam otak saya. Apalagi pada pagi hari biasanya si "Adik Kecilku" berdiri tegak dan kencang. Pikiran saya saat itu tidak jauh dari situ. Dengan bergaya masih dalam keadaan tidur, saya bergeser mendekat ke arah tubuh mertua saya. Setelah cukup dekat (bahkan hampir rapat tapi belum bersentuhan), dengan gaya tidak sengaja saya menggeser tangan kiri saya ke atas pinggul mertua saya. Tidak ada reaksi apa-apa dari mertua saya. Dengan lembut dan perlahan kemudian saya mulai menggerakkan telapak tangan saya di pinggul mertua saya. Juga tidak ada reaksi atau perubahan apa-apa. Saya kemudian memberanikan diri untuk mengelus-elus pantat mertua saya. Empuk dan halus rasanya. Saya juga dapat merasakan tekstur dari bagian pinggir celana dalamnya. Yang terpikir dalam otak saya saat itu, akhirnya ada juga yang jadi kenyataan khayalanku. Sementara itu, si "Adik kecilku" semakin tegak dan keras saja, dan kemudian secara refleks tangan kanan saya mulai meraba-raba si "Adik Kecilku". Ingin rasanya saya mengarahkan tangan kiri saya ke arah kemaluan ibu mertua saya. Namun, saat itu saya takut ibu mertua jadi terbangun. Karena itu, dengan susah payah saya berusaha menahan keinginan tersebut. Kemudian, masih dalam gaya pura-pura masih tidur saya merapat dan memeluk ibu mertua dari belakang. Posisi ibu mertua saya kemudian agak berubah dari memunggungi saya menjadi lebih telentang, walaupun wajahnya masih ke arah yang berlawanan dengan posisi di mana saya berada. Ibu mertua saya saat itu terlihat masih dalam keadaan tidur yang cukup nyenyak. Boleh jadi karena perjalanan dengan kereta api sore-malam itu cukup melelahkannya. Kemudian saya menggeser tangan kiri saya ke arah payudara kiri ibu mertua saya. Merasa tidak ada reaksi apa-apa kemudian saya memberanikan diri untuk menggerak-gerakkan tangan kiri saya. Dengan berhati-hati sekali saya mengusap-usap payudara beliau. Saya kemudian sadar bahwa beliau tidak memakai BH ketika saya merasakan bahwa puting payudara beliau semakin menonjol dan sangat terasa di telapak tangan saya. Lebih jauh lagi, kemudian secara lembut saya sesekali meremas payudara beliau secara perlahan sekali. Nafsu saya semakin meninggi, dan rasanya debaran jantung saya saat itu sangat cepat dan agak keras. Saya terkejut dan takut sekali ketika tiba-tiba tubuh beliau bergerak dan menjadi lebih menghadap tubuhku. Mati aku, pikirku saat itu. Tapi kemudian saya sadar bahwa beliau masih tetap tidur, karena nafasnya masih teratur. Hanya ketika membalikkan badannya saja tampaknya beliau agak menghela nafas. Dengan posisi yang berhadapan, saya dapat melihat dengan cukup jelas, walaupun agak samar-samar juga karena gelap, mulut ibu mertua saya agak sedikit terbuka. Melihat pemandangan yang demikian, apalagi memang bibirnya itu sering saya khayalkan untuk saya kecup, kemudian dengan tekanan ringan saya menempelkan bibir saya ke bibir beliau. Tapi kemudian saya tidak tahan lagi, dan secara refleks kemudian bibir saya mulai mengulum bibir beliau, seraya tubuh saya bergerak menindih tubuhnya dan menekan kemaluan saya ke pahanya. Kejadian yang terjadi dalam waktu yang singkat tersebut akhirnya menyebabkan ibu mertua saya terbangun. Dimulai dengan suatu lenguhan pendek, "Nngggghh...", kemudian beliau terjaga dan kemudian mengatakan, "Heh! apa-apaan ini?". Saya kaget setengah mati waktu itu, dan kemudian menggeser tubuh saya ke samping tubuh ibu mertua saya. Ibu mertua saya kemudian mengangkat punggungnya dan duduk di tempat tidur. Setelah beberapa saat kemudian dia berkata. "Apa yang kamu lakukan pada Ibu Bang? Koq kamu sudah mulai berani kurang ajar?". Setelah terdiam beberapa saat, kemudian sayapun bangkit duduk dan mengatakan. "Maaf Bu, saya kira tadi ibu itu Linda". "Lho, Lindanya mana?", tanya ibu mertuaku. "Tidak tahu Bu", jawabku. Kemudian ibu mertua saya turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamar. Saya hanya dapat duduk diam sambil menutup kedua muka saya dengan tangan saya. Ibu mertua saya kemudian berkata. "Jangan sampai terjadi lagi ya Bang kejadian seperti tadi. Ibu tidak suka. Itu tidak baik dan dosa". "Maaf Bu, saya sungguh-sungguh minta maaf, karena saya tadi tidak sadar. Habis, biasanya kalau pagi kami biasanya melakukan hubungan suami-isteri sih Bu", jawabku dengan refleks sambil bangun dari tempat tidur untuk sungkem kepada ibu mertua saya itu. "Mau ngapain kamu?", sergah ibu mertuaku. "Mau sungkem Bu", jawabku. "Tidak perlu, yang penting jangan sampai terjadi lagi", kata ibu mertuaku sambil membalikkan tubuh dan berjalan menuju pintu. Akhirnya aku duduk terpekur sendiri di tempat tidur. Sambil membaringkan kembali tubuhku, terbayang lagi kejadian-kejadian yang baru terjadi itu. Seingat saya, ada tiga hal yang paling berkesan untuk saya saat itu. Pertama, makin menonjolnya puting payudara ibu mertuaku ketika tanganku mengusap-usapnya. Kedua, persentuhan lidah kami ketika aku mengulum bibirnya yang menyebabkan beliau terbangun. Ketiga, lirikan sepintas ibu mertuaku ke arah selangkanganku ketika beliau berbalik hendak keluar kamar. Yang pasti, semua yang baru saja terjadi saat itu merupakan perwujudan dari sebagian khayalanku terhadap ibu mertuaku. Selain itu, dorongan nafsu yang belum tersalurkan saat itu rasanya agak menyiksa diriku. Tidak berapa lama kemudian isteriku masuk ke kamar. Terlihat rambutnya agak basah, tampaknya ia baru keramas. "Ibu mana?", tanya isteriku. "Keluar" jawabku secara singkat seraya bangkit dari tempat tidur menuju ke arah pintu. Kemudian aku mengunci pintu dan berjalan ke arah isteriku yang sedang berdiri di depan meja rias. "Mau ngapain sih Mas pakai dikunci segala", tanya isteriku. "Biasa, kayak kamu nggak tahu saja. Aku sedikit horny nih", jawabku sambil memeluk dia dari belakang. "Jangan ah Mas..., nggak enak, ini kan di rumah orang", katanya. Tapi aku terus aja meraba-raba dan menciumi tengkuk dan lehernya dari belakang. "Aku nggak tahan nih..., lagian kan masih pada tidur", kataku. Akhirnya isteriku mulai menyambut serangan-seranganku. Dia tahu persis bahwa aku bisa marah dan uring-uringan seharian kalau lagi ingin banget tapi dia tidak mau. "Tapi yang cepetan saja ya Mas...", katanya. Mendengar jawabannya, saya menjadi semakin aktif. Saya menekan tubuhnya sehingga ia membungkuk dan meletakkan tangannya di atas kursi meja rias yang ada di kamar itu. Kemudian saya singkapkan dasternya ke pinggang dan saya tarik celana dalamnya sampai lepas. Batang kemaluan saya yang memang sudah mulai basah sejak kejadian dengan ibu mertua saya tadi kugesek-gesekkan ke selangkangannya. Setelah cukup licin, akhirnya dalam posisi dia berdiri membungkuk dan saya di belakangnya, kumasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, seperti biasanya. Dengan nafsu yang sudah tertahan-tahan sejak tadi, saya tidak dapat bertahan lama, dan kemudian akhirnya ejakulasi sambil membayangkan bahwa yang saya setubuhi itu adalah ibu mertua saya. Ah seandainya saja benar-benar beliau.... Sepulang dari Semarang, untuk beberapa waktu interaksi antara saya dengan ibu mertua saya agak sedikit kaku. Kadang-kadang saya merasa kikuk kalau harus berinteraksi dengan beliau. Kekakuan itu akhir berkurang dengan berjalannya waktu. Apalagi kemudian kami dapat mulai mencicil rumah kami sendiri, dan akhirnya pindah dari rumah mertua saya itu ketika salah satu adik isteri saya lulus dan kembali tinggal di Jakarta. Sejak kejadian di Semarang itu saya semakin sering memfantasikan ibu mertua saya maupun memimpikannya ketika tidur. Cukup sering saya merasa khawatir kalau-kalau saya mengigau dan isteri saya mengetahui bahwa saya mendambakan ibunya. Setelah tinggal di rumah sendiri, saya dapat dikatakan hampir tidak pernah lagi mendapat "pemandangan-pemandangan indah" dari tubuh mertua saya itu. Dan cukup sering saya kangen padanya. Setelah berjalan beberapa waktu akhirnya saya mulai mengenal internet dan berlangganan pada salah satu internet provider yang cukup baik. Dari pengalaman menjelajah internet inilah saya mendapatkan beberapa ide sehubungan dengan ketertarikan saya terhadap ibu mertua saya. Salah satu ide yang ingin saya wujudkan saat itu adalah membuat rekaman video dari ibu mertua saya. Untuk itu, terpaksa saya menabung untuk membeli kamera video. Setelah kamera video terbeli, saya menjadi rajin mengabadikan acara-acara keluarga dengan kamera tersebut. Tentunya juga dengan harapan bahwa ada "pemandangan-pemandangan indah" dari tubuh ibu mertua saya yang dapat saya rekam. Tapi harapan tidak dapat terwujud. Malah pemandangan indah yang sempat terekam adalah paha-paha dari kakak ipar saya yang bernama Susi dan adik ipar saya yang bernama Lena. Dengan hasil itu, saya harus puas bermasturbasi hanya dengan memandangi rekaman ibu mertua saya dalam pakaian lengkap. Tapi saya tetap saja dapat terangsang hanya dengan pemandangan yang demikian. Khususnya pada rekaman yang memperlihatkan ibu mertua saya memakai kebaya. Lekuk-lekuk tubuhnya masih dapat terlihat, walaupun ibu mertua itu dapat dikatakan agak kurus. Pinggul besar yang terbungkus kain itulah yang menggemaskan untuk dicubit. Saya mencoba untuk menjajaki kemungkinan untuk merekam di kamar mandi di rumah mertua saya itu, tapi saya tidak dapat menemukan lokasi-posisi yang aman. Sempat terpikir oleh saya untuk memiliki kamera kecil (Spy Camera) yang sudah mulai banyak ditawarkan di internet saat itu. Namun karena harganya mahal, apalagi dapat dikatakan hanya didistribusikan di Amerika, pikiran itu tidak dikembangkan lebih lanjut. Kesempatan untuk membuat rekaman yang lebih menarik akhirnya datang juga. Dalam rangka pernikahan adik ipar saya, kami (saya dan isteri saya) menginap di rumah mertua saya, karena isteri saya saat itu sedang hamil tua dan agak melelahkan kalau harus pulang pergi Depok-Rawamangun. Ketika menginap itulah timbul ide untuk meletakkan kamera di dalam tasnya sedemikian rupa sehingga lensanya masih tetap dapat merekam gambar di hadapannya. Dalam rencana saya, tas kamera itu akan saya letakkan di kamar ibu mertua saya, yang kebetulan juga dapat dikatakan sudah menjadi kamar umum di rumah itu, siapa saja anak-anaknya yang datang pasti masuk dulu ke kamar tersebut, dan bisanya juga menaruh barang-barang di kamar itu. Setelah mencoba-coba, maka untuk kamuflase saya mempergunakan kain bekas kaos yang berbentuk jaring (jala-jala) yang kebetulan berwarna hitam. Berdasarkan coba-coba itu, saya mendapatkan kesimpulan bahwa kain tersebut tidak akan terekam kalau posisi lensa pada tele (jarak jauh) bukan wide (jarak dekat). Semakin dekat akan semakin jelas terlihat kain tersebut, bahkan dapat dikatakan mendominasi gambar yang terekam. Semakin tele, maka akan semakin kabur gambar kain tersebut. Hasil pertama dan hasil kedua yang saya dapat sangat mengecewakan saya, karena rekaman yang dapatkan hanyalah gambar jala-jala dari kaos hitam tersebut dan beberapa bayangan yang bergerak-gerak. Setelah pengalaman yang pertama, tadinya saya mengira bahwa yang menjadi penyebab karena saya menyetel lensa pada posisi wide. Namun, karena pada hasil yang kedua, rekaman yang saya dapatkan juga sama, saya menjadi sedikit penasaran. Setelah dipelajari, akhirnya saya mengetahui penyebabnya. Yakni, karena saya mempergunakan sarana autofocus dari kamera tersebut. Akhirnya setelah saya menyetelnya ke posisi manual, hasil yang saya dapatkan cukup memuaskan saya. Pada usaha yang ketiga, akhirnya saya mendapat rekaman yang menggambarkan ibu mertua saya sedang berganti baju. Sayangnya, saya tidak mendapat rekaman yang menunjukkan kemaluannya. Hanya payudaranya saja yang telanjang. Namun setidaknya, hasil ini cukup untuk bahan atau alat bantu kalau saya mengkhayalkannya. Apalagi kalau dibandingkan dengan gambar jala-jala hitam. Rekaman yang saya dapatkan ketika hari H dari perkawinan adik ipar saya sungguh mengejutkan dan sangat menyenangkan saya. Karena setelah saya periksa, banyak sekali terdapat pemandangan sangat indah yang hanya berbaju dalam yang didapatkan. Payudara-payudara indah dan montok walaupun sebagian besar masih memakai BH maupun paha-paha mulus bukan hanya milik ibu mertua saja, tapi juga milik kakak-kakak ipar, beberapa sepupu isteri saya dan juga beberapa orang tantenya, yang mempergunakan kamar tersebut sebagai kamar ganti dan dandan. Yang paling mengejutkan, dalam rekaman tersebut terdapat pemandangan tubuh bulat polos tanpa sehelai benangpun milik Mbak Uci, isteri dari kakak ipar saya. Walaupun tubuhnya mungil, tapi proporsional dan menawan. Apalagi rambut di selangkangannya terlihat hitam dan lebat sekali. Setelah memiliki rekaman tersebut, obyek fantasi seksual saya pun bertambah. Bukan hanya semata-mata ibu mertua saya, tetapi juga merembet ke yang lain. Tapi, ibu mertua tetap merupakan obyek yang paling favorit. Sebagaimana umumnya laki-laki lain, saat-saat menanti kelahiran anak pertama merupakan saat-saat yang penuh kekhawatiran. Demikian juga pada diri saya. Selain khawatir terhadap keselamatan calon anak, saya saat itu juga khawatir dengan keselamatan isteri saya. Kekhawatiran yang saya ingat adalah bagaimana nasib bayi saya kalau ibunya tidak selamat (meninggal). Di tengah kekhawatiran seperti itupun sempat terpikir oleh saya seandainya isteri saya meninggal, maka saya berniat untuk menjadi ibu mertua saya menjadi isteri saya. Kalau ingat-ingat hal itu, perasaan saya sukar tidak keruan. Tetapi akhirnya, isteri saya dapat melahirkan dengan selamat. Berhubung anak pertama, maka isteri saya pun meminta ibu mertua saya untuk menemaninya dan mengajarinya terlebih dahulu bagaimana merawat bayi. Artinya, isteri saya meminta ibu mertua saya untuk sementara waktu menginap di rumah kami setidaknya selama seminggu pertama sejak kepulangan dari rumah sakit. Selama ibu mertua menginap di rumah kami tersebutlah saya dapat menambah koleksi rekaman video saya. Dan yang terutama adalah rekaman beliau telanjang bulat di kamar mandi. Kamera video itu sendiri sudah saya pasang di kamar mandi satu hari sebelum isteri saya pulang dari rumah sakit. Kamera saya letakkan di balik kaca satu arah (one way mirror). Setelah saya memiliki kamera video (handy cam), saya memang membuat rak khusus di kamar mandi yang tebalnya kira-kira 12 cm. Di mana salah satu bagiannya adalah kaca selain bagian-bagian untuk menyimpan handuk, dan perlengkapan mandi lainnya. Di balik kaca tersebut terdapat ruang kosong untuk menaruh kamera video. Isteri saya tidak mengetahui bahwa kaca yang saya pergunakan adalah kaca one way mirror. Untuk mengurangi resiko ketahuan, bagian belakang kaca tersebut (dalamnya) saya cat hitam agar selalu lebih gelap dari bagian depan dari kaca. Di depan kaca tersebut (bagian atasnya) saya pasang lampu neon 15 watt untuk lebih mendukung persembunyian kamera video saya sekaligus juga sebagai sumber listrik jika saya menaruh kamera di balik kaca tersebut. Untuk itu saya memasang satu stop kontak di balik kaca tersebut. Karena ketebalannya, di rak itu kamera video hanya dapat diletakkan secara menyamping (lensa tidak langsung berhadapan dengan kaca), sehingga untuk dapat merekam situasi di kamar mandi, maka masih diperlukan satu alat tambahan yang namanya Video Mirror Scope, yang fungsinya adalah merekam gambar ke samping lensa kamera (bukan ke depan kamera). Alat saya dapatkan melalui teman yang pulang dari Amerika ke Indonesia. Kalau tidak salah belinya di ADORAMA di West 18 th Street New York. Harganya sekitar 40 US$. Keberadaan dan fungsi alat itu sendiri saya ketahui dari Majalah Video Maker. Ide untuk membuat rak dan membeli alat tambahan tersebut terutama disebabkan karena saya juga ingin memiliki rekaman video isteri saya ketika dia telanjang bulat. Jangankan telanjang bulat, masih memakai pakaian dalam saja ia marah-marah ketika saya mencoba memvideonya. Selain itu, ketidakmungkinan mewujudkan ide memasang kamera video di kamar mandi di rumah mertua saya, akhirnya saya wujudkan di rumah sendiri. Sejujurnya, pada awalnya tidak pernah terbayang bagi saya kalau pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk merekam ibu mertua saya. Apalagi sampai berhari-hari. Hasil rekaman tersebutlah yang saya pergunakan sebagai bahan masturbasi di hari-hari selanjutnya. Khususnya, ketika saya dan isteri saya tidak dapat melakukan hubungan suami-isteri karena dia baru melahirkan. Tanpa saya sadari sepenuhnya, rekaman-rekaman tersebut justru membuat saya semakin tergila-gila pada ibu mertua saya. Bahkan ketika melihat rekaman yang menunjukkan belahan pantat beliau, yaitu ketika ia membungkuk mengambil sabun yang terjatuh, woww..., mantap! Disuruh menciumi pantatnya pun rasanya saya mau melakukannya dengan senang hati. Pokoknya, menjadi semakin tergila-gila... Kira-kira satu minggu beliau menginap di rumah kami dan kemudian kembali ke rumahnya di Rawamangun. Setelah itu, tidak terlalu banyak perubahan atau kemajuan yang saya dapatkan. Paling-paling, koleksi video bertambah ketika lahir anak saya yang kedua. Itupun cuma satu hari beliau menginap di rumah kami. Tapi meskipun demikian aku merasa cukup puas dengan kehadiran ibu mertuaku di sampingku.


Aku seorang laki-laki biasa, hobbyku berolah raga, tinggi badanku 178 cm dengan bobot badan 75 kg. Tiga tahun yang lalu saya menikah dan menetap di rumah mertuaku. Hari-hari berlalu kami lewati tanpa adanya halangan walaupun sampai saat ini kami memang belum dianugrahi seorang anak pendamping hidup kita berdua. Kehidupan berkeluarga kami sangat baik, tanpa kekurangan apapun baik itu sifatnya materi maupun kehidupan seks kami. Tetapi memang nasib keluarga kami yang masih belum diberikan seorang momongan. ***** Di rumah itu kami tinggal bertiga, aku dengan istriku dan Ibu dari istriku. Sering aku pulang lebih dulu dari istriku, karena aku pulang naik kereta sedangkan istriku naik kendaraan umum. Jadi sering pula aku berdua di rumah dengan mertuaku sampai dengan istriku pulang. Mertuaku berumur sekitar kurang lebih 45 tahun, tetapi dia mampu merawat tubuhnya dengan baik, aktif dengan kegiatan sosial dan bersenam bersama Ibu-Ibu yang lainnya. Kadang sering kulihat Ibu mertuaku pakai baju tidur tipis dan tanpa BH, melihat bentuk tubuhnya yang masih lumayan dengan kulitnya yang putih membuatku kadang bisa hilang akal sehat. Pernah suatu hari, selesai Ibu mertua selesai mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang dililitkan ke badannya. Gak lama dia keluar kamar mandi telpon berdering, sesampai dekat telpon ternyata Ibu mertuaku sudah mengangkatnya, dari belakang kulihat bentuk pangkal pahanya sampai ke bawah kakinya begitu bersih tanpa ada bekas goresan sedikitpun. Aku tertegun diam melihat kaki Ibu mertuaku, dalam hati berpikir "Kok, udah tua begini masih mulus aja ya.. ?". Aku terhentak kaget begitu Ibu mertuaku menaruh gagang telpon, dan aku langsung berhambur masuk kamar, ambil handuk dan mandi. Selesai mandi aku membuat kopi dan langsung duduk di depan TV nonton acara yang lumayan untuk ditonton. Gak lama Ibu mertuaku nyusul ikutan nonton sambil ngobrol denganku. "Bagaimana kerjaanmu, baik-baik saja" tanya Ibu mertuaku. "Baik, Bu. Lho Ibu sendiri gimana" tanyaku kembali. Kami ngobrol sampai istriku datang dan ikut gabung ngobrol dengan kira berdua. ***** Malam itu, jam 11.30 malam aku keluar kamar untuk minum, kulihat TV masih menyala dan kulihat Ibu mertuaku tertidur di depan TV. Rok Ibu mertuaku tersibak sampai celana dalamnya kelihatan sedikit. Kulihat kakinya begitu mulus, kuintip roknya dan terlihatlah gumpalan daging yang ditutupi celana dalamnya. Pengen banget rasanya kupegang dan kuremas vagina Ibu mertuaku itu, tetapi buru-buru aku ke dapur ambil minum lalu membawa ke kamar. Sebelum masuk kamar sambil berjalan pelan kulirik Ibu mertuaku sekali lagi dan burungku langsung ikut bereaksi pelan. Aku masuk kamar dan coba mengusir pikiranku yang mulai kerasukan ini. Aku telat bangun, kulihat istriku sudah tidak ada. Langsung aku berlari ke kamar mandi, selesai mandi sambil mengeringkan rambut yang basah aku berjalan pelan dan tanpa sengaja kulihat Ibu mertuaku berganti baju di kamarnya tanpa menutup pintu kamar. Aku kembali diam tertegun menatap keseluruhan bentuk tubuh Ibu mertuaku. Cuma sebentar aku masuk kamar, berganti pakaian kerja dan segera berangkat. ***** Hari ini aku pulang cepat, di kantor juga nggak ada lagi kerjaan yang aku harus kerjakan. Sampai di rumah aku langsung mandi, membuat kopi dan duduk di pinggir kolam ikan. Sedang asyik ngeliatin ikan tiba-tiba kudengar suara teriakan, aku berlari menuju suara teriakan yang berasal dari kamar Ibu mertuaku. Langsung tanpa pikir panjang kubuka pintu kamar. Kulihat Ibu mertuaku berdiri diatas kasur sambil teriak "Awas tikusnya keluar..!" tandas Ibu mertuaku. "Mana ada tikus" gumanku. "Lho.. kok pintunya dibuka terus" Ibu mertuaku kembali menegaskan. Sambil kututup pintu kamar kubilang "Mana.. mana tikusnya..!". "Coba kamu lihat dibawah kasur atau disudut sana.." kata Ibu mertuaku sambil menunjuk meja riasnya. Kuangkat seprei kasur dan memang tikus kecil mencuit sambil melompat kearahku. Aku ikut kaget dan lompat ke kasur. Ibu mertuaku tertawa kecil melihat tingkahku dan mengatakan "Kamu takut juga ya?". Sambil berguman kecil kembali kucari tikus kecil itu dan sesekali melirik ke arah Ibu mertuaku yang sedang memegangi rok dan terangkat itu. Lagi enak-enaknya mencari tiba-tiba Ibu mertuaku kembali teriak dan melompat kearahku, ternyata tikusnya ada di atas kasur. Ibu mertuaku mendekapku dari belakang, bisa kurasakan payudaranya menempel di punggungku, hangat dan terasa kenyal-kenyal. Kuambil kertas dan kutangkap tikus yang udah mulai kecapaian itu trus kubuang keluar. "Udah dibuang keluar belum?" tanya Ibu mertuaku. "Sudah, Bu." jawabku. "Kamu periksa lagi, mungkin masih ada yang lain.. soalnya Ibu dengar suara tikusnya ada dua" tegas Ibu mertuaku. "walah, tikus maen pake ajak temen segala!" gumamku. Aku kembali masuk ke kamar dan kembali mengendus-endus dimana temennya itu tikus seperti yang dibilang Ibu mertuaku. Ibu mertuaku duduk diatas kasur sedangkan aku sibuk mencari, begitu mencari di bawah kasur sepertinya tanganku ada yang meraba-raba diatas kasur. Aku kaget dan kesentak tanganku, ternyata tangan Ibu mertuaku yang merabanya, aku pikir temennya tikus tadi. Ibu mertuaku tersenyum dan kembali meraba tangaku. Aku memandang aneh kejadian itu, kubiarkan dia merabanya terus. "Gak ada tikus lagi, Bu..!" kataku. Tanpa berkata apapun Ibu mertuaku turun dari kasur dan langsung memelukku. Aku kaget dan panas dingin. Dalam hati aku berkata "Kenapa nih orang?". Rambutku dibelai, diusap seperti seorang anak. Dipeluknya ku erat-erat seperti takut kehilangan. "Ibu kenapa?" tanyaku. "Ah.. nggak! Ibu cuma mau membelai kamu" jawabnya. "Udah ya.. Bu, belai-belainya..!" kataku. "Kenapa, kamu nggak suka dibelai sama Ibu" jawab Ibu mertuaku. "Bukan nggak suka, Bu. Cumakan.. ?" tanyaku lagi. "Cuma apa, ayo.. cuma apa..!?" potong Ibu mertuaku. Aku diam saja, dalam hati biar sajalah nggak ada ruginya kok dibelai sama dia. Ibu mertuaku terus membelaiku, rambut trus turun ke leher sambil dicium kecil. Aku merinding menahan geli, Ibu mertuaku terus bergerilya menyusuri tubuhku. Kaosku diangkat dan dibukanya, pentil dadaku dipegang, diusap dan dicium. Kudengar nafas Ibu mertuaku makin nggak beraturan. Dituntunnya aku keatas ranjang, mulailah pikiranku melanglang buana. Dalam hati aku berpikir "Jangan-jangan Ibu mertuaku lagi kesepian dan minta disayang-sayang ama laki-laki". Aku tidak berani bertindak atau ikut melakukan seperti Ibu mertuaku lakukan kepada saya. Aku diatas ranjang dengan posisi terlentang, kulihat Ibu mertuaku terus masih mengusap-usap dada dan bagian perutku. Dicium dan terus dielus, aku menggelinjang pelan dan berkata "Bu, sudah ya..". Dia diam saja dan tangan kananya masuk ke dalam celanaku, aku merengkuh pelan. Tangan kirinya berusaha untuk menurunkan celana pendekku. Aku beringsut untuk membantu menurunkan celana pendekku, tidak lama celanaku sudah lepas berikut celana dalamku. Burungku sudah berdiri kencang, tangan kanan Ibu mertuaku masih memegang burungku dan menoleh kepadaku sambil tersenyum mesum. Kepala burungku diciumnya, tangan kirinya memijit bijiku, aku nggak tahan dengan gerakan yang dibuat Ibu mertuaku. "Ah, ah.. hhmmh, teruss.." itu saja yang keluar dari mulutku. Ibu mertuaku terus melanjutkan permainannya dengan mengulum burungku. Aku benar-benar terbuai dengan kelembutan yang diberikan Ibu mertuaku kepadaku. Kupegang kepala Ibu mertuaku yang bergerak naik turun. Bibirnya benar-benar lembut, gerakan kulumannya begitu pelan dan teratur. Aku merasa seperti disayang, dicintai dengan Ibu mertuaku. "Ah, Bu.. aku nggak tahan lagi Bu.." jelasku. "Hhmm.. mmh, heh.." suara Ibu mertuaku menjawabku. Gerakan kepala Ibu mertuaku masih pelan dan teratur. Aku makin menggelinjang dibuatnya. Badanku menekuk, meliuk dan bergetar-getar menahan gejolak yang tak tahan kurasakan. Dan tak lama badanku mengejang keras. Kurasakan nikmat yang amat sangat kurasakan, kulihat Ibu mertuaku masih bergerak pelan, bibirnya masih menelan burungku dengan kedua tangannya yang memegang batang burungku. Dia melihatku dengan tatapan sayunya dan kemudian kembali menciumi burungku, geli yang kurasakan sampai ke ubun-ubun kepala. "Banyak banget kamu keluarnya, Do..!" tanyaku Ibu mertuaku. Aku terdiam lemas sambil melihat Ibu mertuaku datang menghampiriku dan memelukku dengan mesra. Aku balas pelukannya dan kucium dahinya. Kubantu dia membersihkan mulutnya yang masih penuh spremaku dengan menggunakan kaosku tadi. Aku duduk diranjang, telanjang bulat dan menghisap rokok. Sedang Ibu mertuaku, tiduran dekat dengan burungku. "Kenapa jadi begini, Bu..?" tanyaku. "Ibu cuma pengen aja kok.." jawab Ibu mertuaku. Aku belai rambutnya dan kuelus-elus dia sambil berkata "Ibu mau juga.?". Dia menggangguk pelan, kumatikan rokokku dan terus kucium bibir Ibu mertuaku. Dia balas ciumanku dengan mesra, aku melihat tipe Ibu mertuaku bukanlah tipe yang haus akan seks, dia haus akan kasih sayang. Berhubungan badanpun sepertinya senang yang pelan-pelan bukannya seperti srigala lagi musim kawin. Aku ikut pola permainan Ibu mertuaku, pelan-pelan kucium dia mulai dari bibirnya terus ke bagian leher dan belakang kupingnya, dari situ aku ciumi terus ke arah dadanya. Kubantu dia membukakan pakaiannya, kulepas semua pakaiannya. Kali ini aku benar-benar melihat semuanya, payaudaranya masih sedikit mengencang, badannya masih bersih untuk seumurannya, kakinya masih bagus karena sering senam dengan teman-teman arisannya. Kuraba dan kuusap semua badannya dari pangkap paha sampai ke payudaranya. Aku kembali ciumi dia dengan pelan dan beraturan. Payudaranya kupegang, kuremas pelan dan lembut, kucium putingnya dan kudengar desahan nafasnya. Kunikmati dengan pelan seluruh bentuk tubuhnya dengan mencium dan membelai setiap inchi bagian tubuhnya. Puas di dada aku terus menyusuri bagian perutnya, kujilati perutnya serta memainkan ujung lidahku dengan putaran lembut membuat dia kejang-kejang kecil. Tangannya terus meremas dan menjambak rambutku. Sampai akhirnya bibirku mencium daerah berbulu miliknya, kucium aroma vaginanya serta kujilati bibir vaginanya. "Oucchh.. terus sayang, kamu lembut sekali.. tee.. teruss.." kudengar suaranya pelan. Kumainkan ujung lidahku menyusuri dinding vaginanya, kadang masuk kadang menjilat membuat dia seperti ujung kenikmatan luar biasa. Kemudian ditariknya kepalaku dan melumat bibirku dengan panas. Dia kembali menidurkan aku dan terus dia menaikiku. Dipegangnya kembali burungku yang sudah kembali siap menyerang. Diarahkan burungku ke lobang vaginanya dan slepp.. masuk sudah seluruh batangku ditelan vagina Ibu mertuaku. Diangkat dan digoyang memutar-mutar vaginanya untuk mendapatkan kenikmatan yang dia inginkan. "Ah.. uh, nikmat banget ya..!" kata Ibu mertuaku. Dengan gerakan seperti itu tak lepas kuremas payudaranya dengan pelan sesekali kucium dan kujilat. "Aduh, Ibu nggak tahan lagi sayang.." kata Ibu mertuaku. Aku coba ikut membantu dia untuk mendapatkan kepuasan yang dulu mungkin pernah dia rasakan sebelum denganku. Gerakannya makin cepat dari sebelumnya, dan dia berhenti sambil mendekapku kembali. Kurangkul dia dan terus menggoyangkan batang burungku yang masih didalam dengan naik turun. "Ahh.. ah.. ahhss.." desah Ibu mertuaku. Kupeluk dia sambil kuciumi bibirnya. Dia diam dan tetap diatas dalam dekapanku. "Enak ya.. Bu. Mau lagi.. ?" tanyaku. Dia menoleh tersenyum sambil telunjuknya mencoel ujung hidungku. "Kenapa? Kamu mau lagi?" canda Ibu mertuaku. Tanpa banyak cerita kumulai lagi gerakan-gerakan panas, kuangkat Ibu mertuaku dan aku menidurkan sambil menciumnya kembali. Kutuntun dia untuk bermain di posisi yang lain. Kuajak dia berdiri di samping ranjangnya. Sepertinya dia bingung mau diapain. Tetapi untuk menutupi kebingunggannya kucium tengkuk lehernya dan menjilati kupingnya. Kuputar badannya untuk membelakangiku, kurangkul dia dari belakang. Tangan kanannya memegang batang burungku sambil mengocoknya pelan. Kuangkat kaki kanannya dan terus kupegangi kakinya. Sepertinya dia mengerti bagaimana kita akan bermain. Tangan kanannya menuntun burungku ke arah vaginanya, pelan dan pasti kumasukkan batang burungku dan masuk dengan lembut. Ibu mertuaku merengkuh nikmat, kutarik dan kudorong pelan burungku sambil mengikuti gerakan pantat yang diputar-putar Ibu mertuaku. Kutambah kecepatan gerakanku pelan-pelan, masuk keluar dan makin kepeluk Ibu mertuaku dengan dekapan dan ciuman di tengkuk lehernya. "Ah.. ah.. Dod.. Dodo, kammuu..!" suara Ibu mertuaku pelan kudengar. "Ibu keluar lagi.. Do.." kata Ibu mertuaku. Makin kutambah kecepatan sodokan batangku dan.., "Acchh.." Ibu mertuaku berteriak kecil sambil kupeluk dia. Tubuhnya bergetar lemas dan langsung jatuh ke kasur. Kubalik tubuhnya dan kembali kumasukkan burungku ke vaginanya. Dia memelukku dan menjepit pinggangku dengan kedua kakinya. Kuayun pantatku naik turun membuat Ibu mertuaku makin meringkih kegelian. "Ayo Dodo, kamu lama banget sih.. Ibu geli banget nih.." kata Ibu mertuaku. "Dikit lagi, Bu..!" sahutku. Ibu mertuaku membantu dengan menambah gerakan erotisnya. Kurasakan kenikmatan itu datang tak lama lagi. Tubuhku bergetar dan menegang sementara Ibu mertuaku memutar pantatnya dengan cepat. Kuhamburkan seluruh cairanku ke dalam vaginanya. "Ahhcckk.. ahhk.. aduhh.. nikmatnya" kataku. Ibu mertuaku memelukku dengan kencang tapi lembut. "Waduh banyak juga kayaknya kamu keluarkan cairanmu untuk Ibu.." kata Ibu mertuaku. Aku terkulai lemas dan tak berdaya disamping Ibu mertuaku. Tangan Ibu mertuaku memegang batang burungku sambil memainkan sisa cairan di ujung batang burungku. Aku kegelian begitu tangan Ibu mertuaku negusap kepala burungku yang sudah kembali menciut. Kucium bibir Ibu mertuaku pelan dan terus keluar kamar terus mandi lagi. ***** Semenjak hari itu aku sering mengingat kejadian itu. Sudah empat hari Ibu mertuaku pergi dengan teman-temannya acara jalan-jalan dengan koperasi Ibu-Ibu di daerah itu. Jam 05.00 sore aku sudah ada di rumah, kulihat rumah sepi seperti biasanya. Sebelum masuk ke kamar tidurku kulihat kamar mandi ada yang mandi, aku bertanya "Siapa didalam?". "Ibu! Kamu sudah pulang Do.." balas Ibu mertuaku. "O, iya. Kapan sampainya Bu?" tanyaku lagi sambil masuk kamar. "Baru setengah jam sampai!" jawab Ibu mertuaku. Kuganti pakaianku dengan pakaian rumah, celana pendek dan kaos oblong. Aku berjalan hendak mengambil handukku untuk mandi. Begitu handuk sudah kuambil aku berjalan lagi ke kamar mau tidur-tiduran dulu sebelum mandi. Lewat pintu kamar mandi kulihat Ibu mertuaku keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk yang dililitkan ke badannya. Aku menunduk coba untuk tidak melihatnya, tetapi dia sengaja malah menubrukku. "Kamu mau mandi ya?" tanya Ibu mertuaku. "Iya, emang Ibu mau mandi lagi"? candaku. Dia langsung peluk aku dan cium pipi kananku sambil berbisik dia katakan "Mau Ibu mandiin nggak!". "Eh, Ibu. Emang bayi pake dimandiin segala" balasku. "Ayo sini.. biar bersih mandinya.." jawab Ibu mertuaku sambil menarikku ke kamar mandi. Sampai kamar mandi aku taruh handukku sedangkan Ibu mertuaku membantu melapaskan bajuku. Sekarang aku telanjang bulat, dan langsung mengguyur badanku dengan air. Ibu mertuaku melepaksan handuknya dan kita sudah benar-benar telanjang bulat bersama. Burungku mulai naik pelan-pelan melihat suasana yang seperti itu. "Eh, belum diapa-apain sudah berdiri?" kata Ibu mertuaku sambil nyubit kecil di burungku. Aku mengisut malu-malu diperlakukan seperti itu. Kuambil sabun dan kugosok badanku dengan sabun mandi. Kita bercerita-cerita tentang hal-hal yang kita lakukan beberapa hari ini. Si Ibu bercerita tentang teman-temannya sedangkan aku bercerita tentang pekerjaan dan lingkungan kantorku. Ibu mertuaku terus menyabuni aku dengan lembut, sepertinya dia lakukan benar-benar ingin membuatku mandi kali ini bersih. Aku terus saja bercerita, Ibu mertuaku terus menyabuni aku sampai ke pelosok-pelosok tubuhku. Burungku dipegangnya dan disabuni dengan hati-hati dan lembut. Selesai disabun aku guyur kembali badanku dan sudah itu mengeringkannya dengan handuk. Begitu mau pakai celana Ibu mertuaku melarang dengan menggelengkan kepalanya. Aku lilitkan handukku dan kemudian ditariknya tanganku ke kamar tidur Ibu mertuaku. Sampai di kamar aku didorongnya ke kasur dan segera dia menutup pintu kamarnya. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, dia lepaskan handuk di badannya dan di badanku. Burungku memang sudah hampir total berdiri. Selepasnya handukku dia langsung mengulum burungku, aku terdiam melihatnya bergairah seperti itu. Cuma sebentar dia ciumi burungku, langsung dia menaikku dan memasukkan burungku ke vaginanya. Dalam hati aku berpikir kalau Ibu mertuaku memang sudah kangen banget melakukannya lagi denganku. Dia angkat dan dia turunkan pantatnya dengan gerakan yang stabil. aku pegang dan remas-remas payudaranya membuat dia seperti terbang keawang-awang. Gerakannya makin cepat dan bersuara dengan pelan "Oh.. oh,.ahcch..". Dan tak lama kemudian badannya menegang kencang dan jatuh ke pelukkanku. Kupeluk dia erat-erat sambil mengatakan "Waduh.. enak banget ya?". "He-eh, enak" balasnya. "Emang ngeliat siapa disana sampai begini?" tanyaku. "Ah, nggak ngeliat siapa-siapa, cuma kangen aja.." balas Ibu mertaku. Kali ini aku kembali bergerak, kuciumi dia terlebih dahulu sambil kuremas payudaranya. Kubuat dia mendesah geli dan kubangkitkan lagi gairahnya kembali. Sampai di daerah vaginanya, kujilati dinding vaginanya sambil memainkan lobang vaginanya. Ibu mertuaku kadang merapatkan kakinya mendekapkan wajahku untuk masuk ke vaginanya. "Ayo ah.. kamu ngebuat Ibu gila nanti" kata Ibu mertuaku. Aku beranjak berdiri dan menidurnya sambil mengarahkan burungku masuk ke dalam vaginanya. Pelan-pelan aku goyangkan burungku, kadang kutekan pelan dengan irama-irama lembut. Tak lama masuk sudah burungku ke dalam dan Ibu mertuaku mendesis kayak ular cobra. Kugoyang pantatku, kunaikkan dan kutekan kembali burungku masuk ke dalam vaginanya. Aku terus bergerak monoton dengan ciuman-ciuman sayang ke arah bibir Ibu mertuaku. Ibu mertuaku hanya mengeluarkan desahan-desahan dengan matanya yang merem melek. Kulihat dia begitu nikmat merasakan burungku ada dalam vaginanya. Dia jepit pinggangku dengan kedua kakinya untuk membantuku menekan batang burungku yang sedari tadi masih terus mengocok lobang vaginanya. "Aku nggak kuat, Do.." desah ibu mertuaku. Aku semakin menambah kecepatan gerakanku apalagi setelah Ibu mertuaku memintaku untuk keluar berbarengan, aku menggeliat menambah erotis gerakanku. "Acchh.. sshh.. ah.. oh" desah Ibu dengan dibarengi pelukannya yang kencang ke badanku. Tiba-tiba kurasakan cairanku ikut keluar dan terus keluar masuk ke dalam vagina Ibu mertuaku. Aku benar-benar puas dibuat Ibu mertuaku, sepertinya cairanku benar-benar banyak keluar dam membasahi lubang dan dinding vagina Ibu mertuaku. Ibu mertuaku masih memelukku erat dan menciumi leherku dengan kelembutan. Aku beranjak bangun dan mencabut batang burungku, kulihat banyak cairan yang keluar dari lobang vagina Ibu mertuaku. "Mungkin nggak ketampung makanya tumpah", kataku dalam hati. Aku pamit dan langsung ke kamar mandi membersihkan badan serta burungku yang penuh dengan keringat serta sisa sperma di batangku. ***** Itulah terakhir kali kami melakukan perbuatan itu bersama. Sebenarnya aku berusaha untuk menghindar, tetapi kita hanyalah manusia biasa yang terlalu mudah tergoda dengan hal itu. Ibu mertuaku pindah ke rumah anaknya yang sulung, aku tahu maksud dan tujuannya. Tetapi istriku tidak menerimanya dan berprasangka bahwa istriku tidak mampu menjaga ibunya yang satu itu.

Aku sungguh berterima kasih atas respons pembaca atas cerita-ceritaku sebelumnya. Banyak pertanyaan yang intinya menanyakan kebenaran kisahku. Supaya tidak ada keraguan, aku tegaskan di sini bahwa semua ceritaku benar adanya. Tetapi aku mengolahnya sedemikian rupa untuk menyamarkan identitas dan setting peristiwa sesungguhnya. Bagi yang belum mengenalku, aku adalah Fire Maker. Berusia dua puluh tahunan. Untuk identitasku lainnya, silakan baca di cerita-ceritaku sebelumnya. Melalui halaman ini pula, aku memohon rekan-rekan pembaca untuk tidak mengirimkan email yang berisi file yang mengandung virus, trojan, worm dan spam. Alangkah baiknya jika email itu berisi komentar dan ajakan berkenalan. Dengan senang hati pasti kubalas. Silakan kirim email untuk bisa menjalin persahabatan denganku. Aku sangat membutuhkan informasi dari para wanita khususnya, apakah sex merupakan hal yang paling utama bagi wanita? Terima kasih sebelumnya. ***** Sewaktu aku pertama kali mengenalnya, Tante Yeni berusia 35 tahun. Sudah menikah dan mempunyai tiga orang anak, dua laki-laki bernama Edy dan Johan serta si bungsu Cynthia. Waktu itu aku masih bekerja freelance sebagai programmer. Tante Yeni adalah pengusaha mini market dan dia menghubungiku untuk membuatkan sebuah program database yang akan digunakan di mini marketnya. Tante Yeni seorang keturunan chinese dan jawa. Orangnya mungil dengan tinggi 155 cm dan berat 50 kg. Cukup seksi untuk seorang berusia 35 dengan tiga orang anak. Payudaranya berukuran 36A. Rambutnya lurus dan berkacamata minus. Tante Yeni cukup cantik karena sebagai pengusaha dia sangat memperhatikan penampilan dan kebugaran tubuhnya. Orangnya teliti, tegas, agak acuh dan tipikal wanita yang mandiri Setelah aku menyelesaikan program mini marketnya, aku mengantarkannya ke rumahnya yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumahku. Tante Yeni tidak ada dan di rumahnya hanya ada si bungsu Cynthia dan pembantunya, Mbak Ning. Cynthia yang masih kelas 4 SD sedang bermain-main boneka. Aku sangat menyukai anak kecil. Melihat Cynthia, aku jadi ingin bermain-main dengannya. Beralasan menunggu Tante Yeni pulang, aku kemudian meluangkan waktuku untuk bercakap-cakap dengan Mbak Ning dan bermain boneka dengan Cynthia. Tak lama aku mulai akrab dengan Mbak Ning dan Cynthia. Mbak Ning ini, biar pun pembantu rumah tangga, tetapi sikap dan cara berpikirnya tidak seperti gadis desa. Dia cukup cerdas dan bagiku, hanya kemiskinanlah yang membuatnya harus rela menjadi pembantu. Seharusnya dia bisa menjadi lebih dari itu dengan kecerdasannya. Setelah hampir satu jam aku di sana, Tante Yeni pulang. Kulihat dia agak heran melihatku bermain-main dengan Cynthia dan mengobrol santai dengan Mbak Ning. "Kamu bisa akrab juga dengan Cynthia.. Padahal si Cynthia ini agak sulit berinteraksi lho dengan orang baru.." sapa Tante Yeni ramah. Harum tubuhnya membuatnya terlihat semakin cantik. "Iya nih.. Mungkin Cynthia suka dengan Om Boy yang lucu.. Ya kan Cynthia?" candaku sambil mengusap kepala Cynthia. Gadis kecil itu tersenyum manis. "Kau bawa programnya ya? Ada petunjuk pemakaiannya kan?" "Ada dong. Tapi untuk mempercepat, sebaiknya aku menerangkan langsung pada karyawanmu, Cie." Aku sengaja memanggil Tante Yeni dengan panggilan "Cie" karena dia masih terlihat sebagai wanita Chinese. Lagipula, panggilan "Cie" akan membuatnya merasa lebih muda. Sejak hari itu, aku semakin akrab dengan keluarga Tante Yeni. Apalagi kemudian Tante Yeni memintaku untuk memberikan kursus privat komputer pada Edy dan Johan, dua anaknya yang masing-masing kelas duduk di kelas 1 SMP dan kelas 6 SD. Sedangkan untuk Cynthia, aku memberikan privat piano klasik. Karena rumahnya dekat, aku mau saja. Lagi pula Tante Yeni setuju membayarku tinggi. Aku dan Tante Yeni sering ber-SMS ria, terutama kalau ada tebakan dan SMS lucu. Dimulai dari ketidaksengajaan, suatu kali aku bermaksud mengirim SMS ke Ria yang isinya, "Hai say.. Lg ngapain? I miz u. Pengen deh sayang-sayangan ama u lagi.. Aku pengen kita bercinta lagi.." Karena waktu itu aku juga baru saja ber-SMS dengan Tante Yeni, refleks tanganku mengirimkan SMS itu ke Tante Yeni! Aku sama sekali belum sadar telah salah kirim sampai kemudian report di HP-ku datang: Delivered to Ms. Yeni! Astaga! Aku langsung memikirkan alasan jika Tante Yeni menanyakan SMS itu. Benar! Tak lama kemudian Tante Yeni membalas SMS salah sasaran itu. "Wah.. Ini SMS ke siapa ya kok romantis begini.." Wah, untung aku dan Tante Yeni sudah akrab. Jadi walaupun nakalku ketahuan, tidak masalah. "Maaf, Cie. Aku salah kirim. Pas lagi horny nih. :p Maaf ya Cie.." balasku. Aku sengaja berterus terang tentang 'horny'ku karena ingin tahu reaksi Tante Yeni. "Wah.. Kamu ternyata sudah berani begituan ya! SMS itu buat pacarmu ya?" "Bukan Cie. Itu TTH-ku. Teman Tapi Hot.. Hahaha.. Tidak ada ikatan kok, Cie.." Beberapa menit kemudian, Tante Yeni tidak membalas SMS-ku. Mungkin sedang sibuk. Oh, tidak, ternyata Tante Yeni meneleponku. "Lagi dimana Boy?" Tanya Tante Yeni. Suaranya lebih akrab daripada biasanya. "Di kamar sendirian, Cie. Maaf ya tadi SMS-ku salah kirim. Jadi ketahuan deh aku lagi pengen.." jawabku. Kudengar Tante Yeni tertawa lepas. Baru kali ini aku mendengarnya tertawa sebebas ini. "Aku tadi kaget sekali. Kupikir si Boy ini anaknya alim, dan tidak mengerti begitu-begituan. Ternyata.. Hot sekali!" "Hm.. Tapi memang aku alim lho, Cie.." kataku bercanda. "Wee.. Alim tapi ngajak bercinta.. Siapa tuh cewek?" "Ya teman lama, Cie. Partner sex-ku yang pertama." Aku bicara blak-blakan. Bagiku sudah kepalang tanggung. Aku rasa Tante Yeni bisa mengerti aku. "Wah.. Kok dia mau ya tanpa ikatan denganmu?" tanyanya heran. Aku yang dulu juga sering heran. Tetapi memang pada kenyataannya, sex tanpa ikatan sudah bukan hal baru di jaman ini. "Kami bersahabat baik, Cie. Sex hanya sebagian kecil dari hubungan kami." Jawabku apa adanya. Aku tidak mengada-ada. Dalam beberapa bulan kami berteman, aku baru satu kali bercinta dengan Ria. Jauh lebih banyak kami saling bercerita, menasehati dan mendukung. "Wah.. Baru tahu aku ada yang seperti itu di dunia ini. Kalau kalian memang cocok, kenapa tidak pacaran saja?" "Kami belum ingin terikat. Terkadang pacaran malah membuat batasan-batasan tertentu. Ada aturan, ada tuntutan, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Dan kami belum menginginkan itu." "Lalu, apa partnermu cuma si Ria dan partner Ria cuma kamu?" selidik Tante Yeni. "Kalau tentang Ria aku tidak tahu. Tapi tidak masalah bagiku dia bercinta dengan pria lain. Aku pun begitu. Tapi tentu saja kami sama-sama bertanggung jawab untuk berhati-hati. Kami sangat selektif dalam bercinta. Takut penyakit, Cie." "Oh.. Safe Sex ya? " "Yup! Oh ya dari tadi aku seperti obyek wawancara. Tante sendiri bagaimana dengan Om? Kapan terakhir berhubungan sex?" tanyaku melangkah lebih jauh. Kudengar Tante Yeni menarik nafas panjang. Wah.. Ada apa-apa nih, pikirku. "Udah kira-kira 2 bulan yang lalu, Boy." Jawabnya. Lama sekali. Pasti ada yang tidak wajar. Aku jadi ingin tahu lebih banyak lagi. "Ko Fery Impotent ya Cie?" "Oh tidak.. Entah kenapa, dia sepertinya tidak bergairah lagi padaku. Padahal dia dulu sangat menyukai sex. Minimal satu minggu satu kali kami berhubungan." "Lho, Cie Yeni berhak minta dong. Itu kan nafkah batin. Setiap orang membutuhkannya. Sudah pernah berterus terang, Cie?" tanyaku. "Aku sih pernah memberinya tanda bahwa aku sedang ingin bercinta. Tetapi dia kelihatannya sedang tidak mood. Aku tidak mau memaksa siapa pun untuk bercinta denganku." "Oh.. Kalau Boy sih tidak perlu dipaksa, juga mau dengan Cie Yeni.." godaku asal saja. Toh kami sudah akrab dan ini memang waktu yang tepat untuk mengarah ke sana. "Boy, kamu itu cakep. Masa mau dengan orang seumuran aku? Suamiku saja tidak lagi tertarik denganku.." "Cie Yeni serius? Aku tidak menyangka lho Cie Yeni bisa bicara seperti ini. Cie Yeni masih muda. 35 tahun. Seksi dan modis. Kok bisa-bisanya rendah diri ya? Padahal Cie Yeni terlihat sangat mandiri di mataku.." aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Bagaimana bisa, sebuah SMS salah sasaran, dalam waktu singkat bisa berubah menjadi obrolan sex yang sangat terang-terangan seperti ini. "Kamu lagi nganggur kan? Datang ke rumahku sekarang ya? Suamiku tidak ada di rumah kok. Dia masih di kantor." Telepon ditutup. Darahku berdesir. Benarkah ini? Seperti mimpi. Sangat cepat. Bahkan aku tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk mendapatkan Tante Yeni. Selama ini aku sangat menghormatinya sebagai clientku. Sebagai orang tua dari murid privatku. Bergegas aku mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah Tante Yeni. Di sepanjang jalan aku masih tak habis pikir. Apakah benar nanti aku akan bercinta dengan Tante Yeni? Rasanya mustahil. Ada Cynthia dan Mbak Ning di rumahnya. Belum lagi kalau ternyata Edy dan Johan juga sudah pulang dijemput sopirnya. Sampai di rumah Tante Yeni, ternyata rumahnya sedang sepi. Cynthia sedang tidur dan hanya Mbak Ning yang sedang santai menonton televisi. "Di tunggu Ibu di ruang computer, Kak." Kata Mbak Ning. Dia memanggilku 'kakak' karena usiaku masih lebih tua darinya. "Oh iya.. Terima kasih, Ning. Ada urusan sedikit dengan programnya nih." Kataku memberikan alasan kalau-kalau Mbak Ning bertanya-tanya ada apa aku datang. Aku masuk ke ruang computer yang di dalamnya juga ada piano dan lemari berisi buku-buku koleksi Tante Yeni. "Tutup saja pintunya, Boy." Kata Tante Yeni. Tiba-tiba jantungku berdebar sangat keras. Entah mengapa, berbeda dengan menghadapi Lucy, Ria dan Ita, aku merasa aneh berdiri di depan seorang wanita mungil yang usianya di atasku. Setelah aku menutup pintu, belum sempat aku duduk, Tante Yeni sudah melangkah menghampiriku. Dia memelukku. Tingginya cuma sebahuku. Harum tubuhnya segera membuatku berdesir. Pelukannya sangat lembut. Kepalanya disandarkan ke dadaku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan wanita yang usianya di atasku. Aku takut salah. Apa aku harus berdiam diri saja? Memeluknya? Menciumnya? Atau langsung saja mengajaknya bercinta? Pikiranku saling memberi ide. Banyak ide bermunculan di otakku. Beberapa saat lamanya aku bingung. Pusing tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku memilih tenang. Aku ingin tahu apa yang Tante Yeni inginkan. Aku akan mengikutinya. Kali ini aku main safe saja. No risk taking this time. "Cie Yeni adalah masalah?" bisikku. Kurasakan pelukan Tante Yeni semakin erat. Dia tidak menjawab. Aku juga diam. Benar-benar situasi baru. Pengalaman baru. Kurasakan penisku tidak bergerak. Rupanya pelukan Tante Yeni tidak membangkitkan gairahku. "Aku cuma ingin memelukmu. Sudah lama aku tidak merasa senyaman ini di pelukan seorang laki-laki. Kamu tidak keberatan kan aku memelukmu?" akhirnya Tante Yeni berbicara. "Tentu saja aku tidak keberatan, Cie. Peluk saja sepuas Cie Yeni. Apapun yang Cie Yeni inginkan dariku, kalau aku mampu, aku akan melakukannya." Kurasakan tangannya mencubitku. "Sok romantis kamu, Boy. Aku bukan gadis remaja yang bisa melayang mendengar kata-kata rayuanmu.. Wuih, apapun yang kau inginkan dariku.. Aku akan melakukannya.. Hahaha.. Gak usah pakai begituan. Aku sudah sangat senang kalau kamu mau kupeluk begini.." Benar juga kata Cie Yeni. Hari itu aku belajar menghadapi wanita dewasa. Belajar apa yang mereka butuhkan. Bagi Tante Yeni, kata-kata manis tidak diperlukan. Tapi tentu saja, aku tidak seratus persen percaya. Bagiku, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pujian dengan tulus. Perasaan wanita sangat peka. Wanita punya sense untuk mencerna setiap kata-kata pria. Apakah rayuan, apakah pujian yang tulus, atau hanya bunga bahasa untuk tujuan tertentu. Dan aku memilih untuk memujinya dengan setulus hatiku. "Cie Yeni, aku beruntung bisa dipeluk wanita sepertimu. Siapa sangka SMS salah kirim bisa berhadiah pelukan?" candaku. Memang benar aku merasa beruntung. Ini bukan bunga bahasa, bukan rayuan. Dan aku yakin perasaan Cie Yeni akan menangkap ketulusanku. "Yah.. Aku simpati denganmu yang bisa bergaul akrab dengan anak-anakku. Kamu juga tidak merendahkan si Ning. Kulihat memang pantas kau mendapatkan pelukanku, Boy.." bisik tante Yeni lagi. Kali ini wajahnya mendongak menatapku. Ada senyum tipis menghias bibirnya. Ugh.. Aku jadi ingin menciumnya. Di satu sisi aku tahu bahwa aku salah. Tante Yeni sudah berkeluarga dan keluarganya harmonis. Tapi di sisi lainnya, sebagai cowok normal aku menikmati pelukan itu. Bahkan aku ingin lebih dari sekedar pelukan. Aku ingin menciumnya, melepaskan pakaiannya, dan memberinya sejuta kenikmatan. Apalagi Tante Yeni sudah 2 bulan lebih tidak mendapatkan nafkah batin. Pasti dia sangat haus sekarang. Aku mulai memperhitungkan situasi. Kami dalam ruang tertutup yang walaupun tidak terkunci, cukup aman untuk beberapa saat. Mbak Ning tidak mungkin masuk tanpa permisi. Satu-satunya kemungkinan gangguan adalah Cynthia. Perlahan aku memberanikan diri menyentuh wajah Tante Yeni. Dengan dua buah jariku, aku membelai wajahnya lembut. Mataku menatapnya penuh arti. Kulihat Tante Yeni gelisah, tetapi ia menikmati sentuhanku di wajahnya. Aku menggerakkan wajahku menunduk mencari bibirnya. Sekejap kami berciuman. Bibirnya sangat penuh. Sangat hangat. Baru beberapa detik, ciuman kami terlepas. Tante Yeni menyandarkan kepalanya ke dadaku. "Aku salah, Boy. Aku mulai menyayangimu.." bisiknya nyaris tak kudengar. Aku yang sudah merasakan ciumannya mendadak ingin lebih lagi. Dasar cowok!, rutukku dalam hati. Apalagi aku sedang horny. Aku mencoba mengangkat wajahnya lagi. Ada sedikit penolakan, tapi wajahnya menatapku kembali. Aku tak berani menciumnya. Dan Tante Yeni menciumku, menghisap bibirku, memasukkan lidahnya, menggigit kecil bibirku. Dan akhirnya kami bercumbu dengan hasrat membara. Kami sama-sama kehausan.. Agh.. Aku tak peduli lagi. Wanita yang kuhormati ini sedang kupeluk dan kucumbu. Dia membutuhkanku dan aku juga membutuhkannya. Yang lain dipikirkan nanti saja. Nikmati saja dulu, pikirku cepat. Aku segera menggendongnya dan membantunya duduk di atas meja. Dengan begini aku akan lebih leluasa mencumbunya. Bibir kami saling melumat. Bergerak lincah saling berlomba memberi kenikmatan tiada tara. Tanganku mulai bergerak ke arah payudaranya. Aku meraba payudaranya dari luar. Memberi remasan ringan dan gerakan memutar yang membuat Tante Yeni menggelinjang. Perlahan aku menyusupkan tanganku ke balik pakaiannya. Kurasakan tanganku tertahan. Tante Yeni menolak. Rupanya dia hanya ingin bercumbu denganku. Dasar cowok, aku mana tahan? Sudah kepalang tanggung. Aku nekat tetap memasukkan tanganku dan dengan cepat aku berhasil melepas kait bra-nya. Payudaranya terasa utuh di tanganku, masih sangat kencang, masih sangat peka dengan rangsangan. Buktinya Tante Yeni bergetar hebat saat aku meremas payudaranya. "Gila kamu, Boy. Aku tidak memerlukan ini semua.. Cukup peluk aku!" tegur Tante Yeni. Aku tahu pikirannya memang menolak, tapi tubuhnya tidak. Aku tetap merangsang payudaranya. Gerakan menolak tante Yeni melemah. Dan akhirnya hanya desahan nafasnya yang memburu yang menandakan birahinya telah bangkit. Dengan mulutku aku membuka kancing-kancing kemejanya. Cukup sulit, karena ini baru pertama kali kulakukan. Tapi berhasil juga. Tante Yeni tertawa melihat ulahku. Kini aku bebas mencumbu payudaranya. Kujilat dan kuhisap puting susunya. Tante Yeni melenguh panjang. Kedua tangannya mencengkeram kepalaku. Wajahnya mencium rambutku. Sesekali dia menggigit telingaku, sementara kepalaku, lidahku, bergerak bebas merangsang payudaranya. Ugh, begitu enak dan nikmat. Payudaranya tidak terlalu besar namun seksi sekali. Warnanya coklat kekuningan dengan puting yang cukup besar. Aku bermain cukup lama di putingnya. Menggigit ringan, menyapukan lidahku, menghisapnya lembut sampai agak keras. Kadangkala hidungku juga kumainkan di putingnya. Nafas Tante Yeni semakin memburu. Tentu saja untuk masalah nafas, aku lebih kuat darinya karena aku rajin berolahraga menjaga stamina. Tak lama tanganku menyusup ke balik roknya untuk mencari vaginanya dan membelainya dari luar. Kurasakan celana dalamnya telah basah. Tante Yeni merapatkan kakinya. Itu adalah penolakan yang kedua. Kepalanya menggeleng ketika kutatap matanya. Aku terus menatap matanya dan kembali mencumbunya. Aku tidak akan memaksanya. Tetapi aku punya cara lain. Aku akan membuatnya semakin terangsang dan semakin menginginkan persetubuhan. Perlahan cumbuanku turun ke lehernya. "Ergh," kudengar lenguhannya. Wah, lehernya sensitif nih, pikirku. Dengan intensif aku mencumbunya di leher. Bergerak ke tengkuk hingga membuatnya semakin erat memelukku dan mencumbu telinganya. "Boy.." rintihnya. Telinganya juga sensitif. Aku bersorak. Semakin banyak titik tubuhnya yang sensitif, semakin bagus. Lalu tanganku meraba punggungnya. Membuat gerakan berputar-putar dan seolah menuliskan sesuatu di punggungnya. Tante Yeni semakin bergairah. "Ka.. mu.. Na.. kal. Kamu pin.. Pintar sekali membuatku.. Bergairah.." jawabnya terputus-putus. Nafasnya semakin memburu. "Cie Yeni cantik sekali. Aku sangat menginginkanmu, Cie.. Aku ingin membuatmu merasakan kenikmatan tertinggi bersamaku.." bisikku sambil terus mencium telinganya. "Aku juga menginginkanmu Boy.. Tapi aku takut.." jawab tante Yeni. Ya, aku harus membuatnya merasa aman. Dengan gerakan cepat aku melepaskan pelukanku, mengganjal pintu dengan kursi dan kembali mencumbunya. Saat itu di pikiranku cuma satu. Mengunci pintu justru tidak baik. Mengganjal pintu jauh lebih baik. Kulihat Tante Yeni merespons ciumanku dengan lebih kuat. Tanganku kembali mencoba merangsang vaginanya. Kali ini kakinya agak terbuka. Aku berhasil memasukkan jariku dan menyentuh vaginanya. "Aahh.." Tante Yeni semakin terangsang. Kakinya terbuka semakin lebar. Kini aku sangat leluasa merangsang vaginanya. Jariku masuk menemukan klitoris dan membuatnya makin hebat dilanda badai birahi. Entahlah, aku sangat tenang dalam melakukannya. Semakin intensif aku merangsang titik-titik lemah tubuhnya, aku semakin tenang. Aku seperti maestro yang sangat ahli melakukan tugasnya. Wah, rupanya aku berbakat dalam menyenangkan wanita, pikirku sampai tersenyum sendiri. Tante Yeni semakin dilanda birahi. Tangannya kini tidak malu-malu melepas kancing celanaku dan mencari penisku. Setelah menemukannya di balik celana dalamku, dia meremas dan mengocoknya. Aku semakin terbakar. Kami sama-sama terbakar hebat. Perlahan aku melepas turun celana dalamnya. Tidak perlu dilepas. Aku menatap matanya meminta persetujuannya. Mata Tante Yeni nanar. Dia sangat kehausan dan sudah pasrah menerima apa pun perbuatanku. Perlahan penisku menembus liang vaginanya tanpa kondom. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat. Benar-benar jauh lebih nikmat dibandingkan dengan memakai kondom. Aku berani tanpa kondom karena aku yakin dengan kesehatan Tante Yeni. Aku mulai melakukan tugasku. Mendorong masuk, menarik keluar, memutar, memompa kembali dan kami bercinta dengan dahsyat. Suara penisku yang mengocok vaginanya terdengar khas. Aku mengerahkan segenap kekuatanku untuk menaklukkannya. Tetapi benar-benar tanpa kondom membuatku penisku lebih sensitif hingga belum begitu lama, aku sudah merasakan di ambang orgasme. Segera kuhentikan aksiku. Kucabut penisku dan aku menenangkan diri. Kami berciuman. Aku tak mau birahi Tante Yeni surut. Setelah agak tenang aku kembali memasukkan penisku. Kali ini aku tidak menggebu dalam memompa penisku. Aku memilih menikmatinya perlahan-lahan. Setiap sodokan aku lakukan dengan segenap hati hingga menghasilkan desahan dan rintihan nikmat Tante Yeni yang sudah dua bulan tidak merasakan nikmatnya bercinta. Gelombang badai birahi kembali melanda. Keringat kami bercucuran, lumayan untuk membakar lemak. Kami memang sedang berolahraga, olahraga paling nikmat sedunia. Making love. Bercinta sangat baik untuk tubuh. Tidak hanya tubuh, tetapi pikiran juga jadi fresh. Secara teoretis, ada semacam zat penenang yang dihasilkan tubuh saat kita bersenggama, dan zat itu membuat kita sangat nyaman. Aku heran juga dengan diriku yang ternyata cukup kuat bercinta tanpa kondom. Penisku terasa agak panas. Aku belajar menahan nafas dan sesekali saat kurasakan aku hendak mencapai puncak, aku menghentikan kocokanku. Cukup sulit memang menahan orgasme. Aku berusaha seperti menahan kencing. Dan usahaku berhasil. Setidaknya aku bisa bercinta cukup lama mengimbangi Tante Yeni yang perlahan tapi pasti semakin menuju puncak. Muka tante Yeni semakin kemerahan. Wajahnya yang mungil tampak sangat cantik ketika sedang dilanda birahi. "Cie Yeni cantik sekali.. Hebat juga ketika bercinta.." bisikku. Lidahku kembali mencumbui payudaranya yang semakin penuh dengan keringat. "Arg.., kamu juga.. Enak sekali, Boy.." ceracaunya. Tante Yeni bolak-balik memejamkan mata, membuka mata dan menggigit bibirnya. Nafasnya sangat tidak teratur. Ngos-ngosan dan rambutnya semakin acak-acakan terkena keringat. Wah, pemandangan yang seksi sekali saat seorang wanita bercinta. Sebenarnya aku ingin mengubah posisi lagi. Aku ingin lebih lama bercinta. Tetapi aku agak khawatir juga. Sudah cukup lama kami di dalam ruangan ini. Aku khawatir Mbak Ning nanti tiba-tiba mengintip atau mencuri dengar. Aku khawatir karena Mbak Ning cukup punya kecerdasan untuk berpikir yang tidak-tidak. Dari bahasa tubuh Tante Yeni, aku yakin orgasmenya sudah semakin dekat. Gerakan tubuhnya semakin cepat. Cengkeraman tangannya di punggungku kurasa telah melukai punggungku. Terkadang giginya bergemeretak menahan nikmat. Dia tampak sekali berusaha untuk tidak menjerit. "Agh.. Arrhhk.. Aku sudah ham.. pir.." rintihnya. Tanganku meraih bra Tante Yeni dan meletakkannya di mulutnya supaya dia bisa menggigit bra itu. Daripada menjerit, lebih baik menggigit bra sekuatnya. Penisku semakin gencar menghunjam vaginanya. Sodokanku semakin kuat dan temponya kupercepat. Aku belajar untuk sama-sama mencapai orgasme dengan Tante Yeni walaupun menurutku sangat sulit untuk bisa orgasme bersamaan. Setidaknya, aku berencana membiarkannya orgasme terlebih dulu, baru aku menyusul. "Arghh.. Ya.. Terus.. Yah.. Dikit lagi.." erang Tante Yeni agak tidak jelas karena sambil menggigit bra. Aku menjaga semangat dan menjaga penisku agar tetap kuat bertempur. Kurasakan penisku juga semakin panas. Aku juga sudah mendekati puncak. Aliran sperma dari bawah sudah merambat naik siap menyembur. Gerakan Tante Yeni semakin menyentak-nyentak. Untung meja di ruangan itu adalah meja kayu yang kosong. Kalau seandainya ada buku atau ballpoint pasti sudah berantakan terlempar. Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh Tante Yeni bergetar hebat. Menghentak-hentak dan tangannya mencengkeram sangat-sangat-sangat-kuat. Dia memelukku sangat erat. Dari mulutnya keluar semacam raungan yang tertahan.. Seandainya ini di kamar hotel, pasti dia sudah menjerit sepuasnya. "Aargghh.. Sstt.." Aku merasakan ada cairan hangat meleleh keluar. Tidak seberapa banyak tetapi membuat penisku semakin panas. Tante Yeni orgasme sementara aku juga sudah semakin dekat. Inilah saatnya. Aku mempercepat kocokanku. Cepat.. Dan aku mencabut penisku. Crot..!! Srr.. R.. Srr.. Srr.. Spermaku berhamburan muncrat di perut dan dada Tante Yeni. Ah.., nikmat sekali mencapai puncak. Perjuanganku tidak sia-sia. Aku yang selama ini rutin berlatih menahan kencing, melatih otot-otot perut dan penisku, sukses mengantarkan Tante Yeni menggapai orgasmenya. Dibandingkan ketika making love dengan Ria dan Ita, kali ini lebih mendebarkan dan menantang. I did it. Tante Yeni segera mencari tissue dan membersihkan ceceran spermaku. Kurang dari semenit kemudian dia sudah memakai bra dan kemejanya kembali. Celana dalam dan roknya tinggal merapikan saja. Aku pun tinggal merapikan celanaku. Beberapa saat kami berpandangan. Ada rona puas di wajah Tante Yeni. Dia tersenyum manis. Sekarang dia bukan lagi sekedar clientku. Bukan lagi sekedar orang tua muridku. Sekarang dia adalah partner sex-ku. Ada rasa aneh menjalar di tubuhku. Aku tiba-tiba merasa begitu menghormati wanita di hadapanku ini. Sinar matanya yang tegas, pembawaannya yang mandiri, dikombinasi dengan senyum dan kelembutannya, sungguh mempesona. Aku sangat bangga bisa memberinya kenikmatan. "Maaf Cie.. Sudah melangkah jauh sekali.." kataku. "Ya! Kamu tidak sopan sekali, tadi!" katanya bergurau tetapi dalam nada agak tegas. Kami pun tertawa bersama. Aku memeluknya. Mencium dahinya. Merapikan rambutnya yang agak basah terkena keringat. AC di ruangan itu sangat membantu tubuh kami cepat kering. "Habis Cie Yeni, sudah tahu aku lagi horny malah diundang kemari.." kataku membela diri. "Terus terang aku juga lagi pengen, Boy. Begitu tahu kamu ternyata sudah pengalaman, aku jadi tergoda denganmu. Tapi memang tadi aku sangat takut melangkah. Untung kamunya nekat.. Aku jadi terpuaskan, deh. Makacih ya.." Ya ampun.. Bisa-bisanya Tante Yeni bicara manja seperti ini. Aku sampai merasa bagaimana.. gitu. Aneh. Wanita memang makhluk paling aneh sedunia. Di balik penampilannya yang keras dan tegar, toh dia tetap wanita juga. Sisi lembutnya tetap ada. "Ya.. Aku juga senang sekali bisa memuaskan Cie Yeni. Aku juga belajar banyak lho. Sepertinya tadi Cie Yeni kurang suka dengan permainan tanganku di vagina ya?" "Bukan begitu. Aku tidak tahu apakah tanganmu bersih atau tidak. Tapi lama kelamaan karena enak, ya sudah.. diteruskan saja.." "Oh jangan kuatir.. Aku selalu sedia handy desinfectant kok. Biar tanganku bebas kuman." Kataku menenangkannya. Aku tadi memang pakai handy desinfectant, tapi kan tetap saja aku pegang setir mobil. Haha.. Yang ini tidak aku ceritakan. (Kalau Cie Yeni baca cerita ini, maafin ya..) "Yah baguslah. Aku juga suka karena kamu selalu terlihat bersih dan harum.." tante Yeni mencium bibirku lagi. Kami kembali berpagutan. Lidahku kembali menerobos mulutnya. Menekan lidahnya, saling bergelut. Kami terus berciuman sambil berpelukan. Banyak pria melupakan kenyataan bahwa ada hubungan yang harus dibina setelah kita berhubungan sex. Setelah terjadi orgasme, wanita tetap membutuhkan sentuhan, pelukan dan ciuman. Wanita sangat berharga. Jangan sampai kita para pria, begitu mendapatkan orgasme, langsung selesai begitu saja. Harus Ada after orgasm service. Ini adalah salah satu kunci yang aku pegang untuk membuat wanita merasa nyaman bersamaku. Kami berpelukan dan dengan jelas aku mendengar suara Tante Yeni.. "Aku menyayangimu, Boy. Terima kasih buat semuanya. Aku merasa dihargai dan dibutuhkan olehmu.." kata-kata ini tidak akan pernah aku lupakan. Kalau Cie Yeni membaca cerita ini, Cie Yeni pasti ingat bahwa kata-katanya sama persis dengan yang kutulis. (Kecuali namaku, yaa.. Hehe). Sebetulnya aku harus menanyakan arti sex bagi Tante Yeni. Tapi aku menundanya. Aku pikir aku bisa menanyakannya lain kali. Entah mengapa aku tidak bertanya. Lalu kami keluar dari ruangan itu. Aku tidak melihat Mbak Ning. Sengaja aku ke kamar mandi dan kemudian aku mengintip ke kamar Mbak Ning dari kaca nako kamarnya. Astaga, dia sedang berganti baju. "Hayo.. Ngintip! Dasar cowok!" hardik Mbak Ning. Aku terkejut tapi tertawa. "Maaf-maaf, kupikir dimana tadi kok tidak ada.. Aku pulang dulu ya.." "Ya.. Ya.. Buka sendiri pagarnya yaa" ***** Itulah kisah nyata yang kualami dengan tante Yeni. Jika ada saran dan kritik, atau ingin berkenalan denganku, silakan kirim email. Pasti kubalas. Sekali lagi tolong jangan menyertakan file attachment yang berisi virus karena pasti akan langsung aku hapus.


Menjelang kelahiran anak pertama saya, ayah mertua meninggal. Keluarga besar istri saya sangat terpukul. Terutama ibu mertua dan Rosi. Kedua perempuan ini memang yang paling dekat dengan almarhum. Rumah ini terasa murung berhari-hari lamanya. Tetapi segalanya berangsur pulih setelah selamatan 40 hari dilaksanakan. Semuanya sudah bisa menerima kenyataan, bahwa semua pada akhirnya harus kembali. Apalagi semenjak anak saya lahir, tiga bulan setelah kematian almarhum. Rumah ini kembali menemukan kehangatannya. Seisi rumah dipersatukan dalam kegembiraan. Bayi lucu itu menjadi pusat pelampiaskan kasih sayang. Saya juga semakin mencintai istri saya. Tapi dalam urusan tempat tidur tidak ada yang berubah. Seringkali saya tergoda untuk mencari pelampiasan dengan wanita PSK terutama jika teman-teman sekantor mengajak. Namun saya tak pernah bisa. Sekali waktu saya diajak kawan ke sebuah salon esek-esek. Saya pikir tidak ada salahnya untuk sekedar tahu. Salon itu terletak di sebuah kompleks pasar. Kapsternya sekitar 15 orang. Masih muda-muda, cantik, dan seksi dengan celana pendek dan tank top di tubuhnya. Para pengunjung seluruhnya laki-laki, walaupun di papan nama tertulis salon itu melayani pria dan wanita. Di salon itu para pria minta layanan lulur, dan konon, di dalam ruang lulur itulah percintaan dilakukan. Sungguh aneh, saya tidak birahi. Benak saya dipenuhi pikiran bahwa perempuan-perempuan itu telah dirajam oleh puluhan penis laki-laki. Mungkin ketika seorang pria menyetubuhinya, saat itu masih ada sisa-sisa sperma milik pria-pria lain. Inilah yang membuat saya tak pernah bisa menerima diri saya bersetubuh dengan perempuan PSK. Jadi bukan alasan moral. Saya lebih suka onani sambil membayangkan perempuan-perempuan lain. Ketika anak saya berumur tiga bulan, istri saya sudah mulai masuk kerja dan kegiatan luar kota tetap dijalankan seperti biasa. Dia sudah dipromosikan dalam jabatan supervisor. Istri saya tampak senang dengan jabatan barunya, dan makin giat bekerja. Tioap kali ke luar kota anak saya diasuh tante-tantenya. Rosi atau Mayang atau kadang-kadang Mak Jah. Hanya jika makan (bubur bayi) saja tante-tantenya tidak sabaran. Mereka tak sanggup menyuapi bayi. Saya sendiri geli melihat bayi makan. Bubur itu sepertinya tidak pernah mau masuk ke dalam perut. Hanya keluar masuk dari bibirnya. Ibu mertua saya yang paling telaten. Kadang-kadang satu mangkuk kecil masih nambah jika ibu yang menyuapi. Jika siang saya sering tidur dengan anak saya. Saya senang sekali menatap wajah mungilnya, Saya juga mulai pintar mengganti popok dan memberinya susu. Hanya kalau malam anak saya tidur dengan ibu mertua. Soalnya kalau tidur malam, saya susah bangun. Biar anak menangis keras-keras saya sulit bangun. Siang itu, sepulang dari kantor, seperti biasa saya cuci muka dan tangan lalu rebahan di kamar. Badan saya agak meriang. Mungkin saya akan terkena radang tenggorokan. Kerongkongan saya agak sakit buat menelan. Ketika ibu hendak menaruh anak saya untuk tidur (kalau siang anak saya biasa tidur dua-tiga kali), dengan terbata-bata saya bilang, "Bu, boleh Nisa tidur sama Ibu?" Nisa anak saya terlanjur ditaruh di sebelah saya. "Ya boleh tho. Memangnya kenapa?" tanya ibu melepas selendang gendongan. "Badan saya agak meriang, saya ingin istirahat," kata saya. "Rosi dan Niken sudah pulang Bu?" Ibu tidak menjawab. Punggung tangannya ditempelkan ke dahi saya. "Wah, badan kamu panas. Ya sudah Nisa biar tidur di kamar Ibu. Kamu istirahat saja. Ayuk cucu, bobo sama eyang ya?" Ibu pelan-pela mengangkat Nisa. Lega rasanya saya. Saya benar-benar ingin istirahat tanpa diganggu tangisan anak. Setelah Ibu keluar dari kamar, saya segera tidur mendekap guling. Benar-benar sakit semua badan saya. Kepala juga mulai berat. Saya mencoba mengurangi rasa sakit dengan memijit-mijit dahi dan kening. "Nak Andy sudah minum obat?" tanya Ibu di ambang pintu. "Belum, Bu. Nggak usah. Nanti saja." Dengan badan seperti ini rasanya saya pengin dikerik. Dulu waktu masih bujang saya sealu minta kerik ibu saya. Jika sudah dikerik badan terasa ringan dan bugar. Tapi mau minta kerik sama ibu mertua sungkan. Dulu memang pernah sih dikerik ibu mertua. Tapi itu karena setelah ibu melihat saya dan istri saya bersitegang soal kerik-mengerik. Istri saya tidak mau mengerik saya. Bukan apa-apa, dia tidak suka cara itu. Katanya itu berakibat buruk bagi tubuh. Istri saya memang doctor minded. Maklum dia dealer obat-obatan, Dia lebih mempercayai dokter dan obat daripada cara-cara penyembuhan tradisional. Melihat kami bersitegang ayah mertua saya membela saya, dan menyuruh ibu mengerik saya. Kini saya sebenarnya sangat ingin dikerik. Seolah tahu pikiran saya, ibu menawarinya. "Mau ibu kerik ?" "Mm terserah ibu saja," kata saya. Dalam hati saya bersorak. Ibu memanggil Mak Jah minta diambilkan minyak bayi (baby oil) dan ulang logam. Sejurus kemudian Mak Jah datang. "Kamu lagi ngapain?" tanya mertua saya. "Setrika baju, Bu" "Ya sudah.." Ibu duduk di tepi ranjang. "Lepaskan bajunya," kata ibu. Saya melepas baju dan celana panjang saya. Saya bungkus bagian bawah tubuh saya dengan kain sarung, lalu tengkurap. Ibu mulai mengerik bagian punggung. Nikmat rasanya. Kadang-kadang saja terasa sakit. Mungkin itu karena di daerah situ ada penyumbatan aliran darah. Entahlah. "Merah semua nih Nak Andy," komentar ibu mertua. Saya hanya bergumam. Ibu mertua memang pandai mengerik. Bahkan lebih pandai dibanding ibu saya. Secara keseluruhan tidak menimbulkan rasa pedih. Bahkan seperti dipijat utur. Saya benar-benar rileks dibuatnya, Apalagi kalau ngerik ibu ini sangat sabar. Hampir tiap jengkal badan saya dikerik. Ibu menarik kain sarung, dan sedikit menurunkan CD saya, lalu mengerik bagian pantat. Sudah itu bagian paha. Selesai paha aku diminta membalikkan badan. Dikeriknya dada saya. Yang ini agak berat. Saya banyak gelinya. Alalagi kalau arah kerikan menuju bagian ketiak. Uhh seperti digelitik. Saya berkali-kali merapatkan tangan saya menahan geli. Ibu tersenyum melihatnya. Setelah beberapa saat badan saya mulai beradaptasi. Rasa geli berkurang. Saya mulai membuka mata yang tadi ikut terpicing menahan geli. Saya liat wajah ibu mertua saya. Mungkin kalau tua nanti istri saya akan seperti ini ya. Umur ibu sekitar 50 tahun. Masih ada sisa-sisa kecantikan. Bagian wajahnya masih terlihat kencang. Hanya bagian leher dan lengan yang tampak memperlihatkan usianya. Kasihan sebenarnya, usia segitu sudah ditinggal suami. Tiba-tiba badan saya tergelinjang. Refleks saya mencengkeram lengan ibu. Rupanya ibu mulai mengerik bagian perut. Ini yang membuat saya geli. Bahkan sangat geli. Bulu kuduk saya ikut berdiri. Ibu terus mengerik perut saya, dan saya terus mencengkeram lengan ibu. Sesekali saya mengangkat bagian perut dan pinggul saya hingga menyentuh tubuh ibu. Gesekan-gesekan itu ternyata mnimbulkan rangsangan pada penis saya. Sedikit demi sedikit penis saya mengembang. Tegang. Gila. Nafsu saya juga muncul perlahan-lahan. Saya bahkan dengan sengaja menempelkan bagian penis saya ke pinggang ibu. Sedikit menekannya dengan berpura-pura geli oleh kerikannya. Padahal tidak. Saya sudah mulai beradap tasi lagi. Tangan saya masih mencengkeram lengan ibu. Jantung saya berdebar-debar ketika ibu menurunkan sarung. Di hadapannya tubuh bawah saya terbungkus CD dengan isi yang menegang dengan sempurna. Maksimal. Sesekali saya lihat ibu melirik ke arah penis saya. Diturunkannya bagian atas CD saya. Hanya sedikit. Ahhh padahal saya berharap seluruhnya ditanggalkan. Saya rasakan ujung penis saya tersembul keluar. Mustahil ibu tak meihatnya. Saya tatap wajahnya. Wajahnya tak menampakkan reaksi apa-apa. Mungkinkah perempuan ini sudah tawar terhadap seks? Ataukah dia menganggap saya tak lebih dari anaknya sendiri? Apakah dia pernah melihat penis lain selain milik suaminya? Kerikan di bagian bawah perut menimbulkan sensasi yang luar biasa. Sesekali secara tak sengaja tangan ibu menyentuh ujung penis saya. Seperti dikocok dengan lembut. Saya telah benar-benar terangsang. Birahi saya membakar kepala saya. Saya beranikan diri mengelus lengan ibu. "Ibu makasih sudah mau mengerik badan saya," kata saya gemetar. Ibu cuma tersenyum. Saya tak tahu artinya. Ia terus mengerik. Saya memberanikan diri menurunkan sedikit lagi CD saya, sehingga separuh penis saya keluar. "Bagian sini juga kan Bu?" kata saya menunjuk selangkangan. "Iya," suara ibu bergetar. Sentuhan tangannya ke arah penis saya makin sering. Makin nikmat rasanya. Saya makin tak tahan. Saya turunkan sedikit lagi CD saya, dan kini terbukalah seluruhnya. Saya rasakan kerikan ibu sudah mulai kacau. Saya tahu ibu mulai terpengaruh oleh pemandangan di depannya. Ya. Mustahil kalau tidak. Bagaimana pu dia perempauan biasa, dan saya laki-laki asing. Saya pegang tangan ibu, saya bimbing dengan pelan dan cemas menuju penis saya. Saya taruh tangan itu di sana. Tak ada reaksi. Tangan itu hanya diam. Saya berusaha menggerak-gerakan penis saya. Sekali waktu saya sentakkan. "Bu.." saya mendesis dan menggerak-gerakkan pinggul saya. Ibu sudah tak konsentrasi lagi di kerikan. Gerakannya sudah bukan lagi gerakan mengerik, tapi lebih menyerupai garukan. Saya usap punggung ibu. Saya telusuri lekuk badannya. Dia mengenakan daster. Saya rasakan tali BH di punggungnya. Saya jadi penasaran seperti apa rupa payudara perempuan 50 tahun. Ibu meremas-remas penis saya, mengocoknya perlahan. Saya buka resluiting dasternya. Saya buka kancing BH-nya. Saya remas kulit punggung. Memang tidak sekenyal istri saya atau Rosi. Tapi putihnya tetap membuat saya makin terangsang. Saya rebahkan tubuh ibu, saya cium pipinya, telinga, leher dan bibirnya. Kami berciuman penuh nnafsu. Saya lepaskan dasternya di bagian atas. Hmm, payudara yang kendur. Tapi apa peduli saya. Saya telah dikuasai oleh nafsu. Saya ciumi payudara itu, saya hisap, saya remas. Ibu menggeliat-geliat dan mengocok penis saya. Saya turukan CD-nya. Ahh seperti apakah rupa memek perempuan 50 tahun? Seperti apakah rasanya? Memek itu dibalut rambut yang amat lebat. Sepintas tak ada bedanya dengan milik istri saya. Sama-sama kenyalnya. Perbedaan baru saya ketahu setelah penis saya menyentuh lubang vaginanya. Terasa kendurnya. Tetapi gerakan-gerakan yang dilakukan ibu memberikan efek yang fantastis bagi saya. Saya belum pernah merasakan yang seperti itu. Istri saya seperti telah saya ceritakan, tidak enjoy dengan seks. Tampaknya seks adalah bagian dari kewajiban rumah tangga, sehingga persetubuhan kami pun lebih mirip formalitas. Orgasme yang dia dapatkan tampakya tak pernah mengubah sikapnya terhadap seks. Kini di bawah saya, ibu mertua seperti mengajarkan kepada saya, bagaimana seorang perempuan sejati di atas ranjang. Penis saya seperti diputar-putar, diremas-remas oleh memeknya. Luar biasa. Saya lebih banyak diam. Hanya bibir dan tangan saya yang bergerak ke sana-kemari, sedangkan bagian pinggul hanya diam menerima semua perlakukan ibu. Ibu merintih-rintih, mengerang, lalu mendekap saya. Gerakannya makin hebat, membuat saya tak tahan lagi. Saya menggenjot pinggul sekuat tenaga, dengan kecepatan penuh. Kedua kaki ibu menekan betis saya, bibirnya mencium dan mengisap leher saya. Lalu diciumnya bibir saya dengan rakus. Hampir digigitnya. Dan srrt srtt srtt sperma saya memancar di dalam vaginanya. Saya tahu ini akan aman bagi rahim ibu. Senyap di dalam kamar. Tubuh saya lemas, tapi pikiran jadi jernih. Ibu bergegas membetulkan letak dasternya, mengenakan CD, dan menghilang dari hadapan saya. Saya tertidur. Malas mau ke kamar mandi. Peristiwa itu membuat hubungan saya dengan ibu menjadi kaku. Ibu berusaha menghindari berdua dengan saya. Beliau juga hanya bicara seperlunya. Tampaknya beliau amat terpukul atau malu. Saya sendiri berusaha bersikap wajar. Apa yang telah terjadi antara saya dengan Mbak Maya dan Rosi telah mengajarkan saya bagaimana bersikap wajar setelah terjadinya skandal. Beda dengan ibu dan Mbak Maya yang berubah drastis. Mereka cenderung murung.


Sore itu aku baru saja mengantar istriku Ine piknik ke Bali bareng-bareng murid SMU dan teman-temannya sesama guru. Aku antar sampai bis berangkat menuju Bali diiringi lambaian tangan istriku tercinta. Sebelum berangkat istriku berpesan agar segera mengembalikan uang yang dipinjamnya kepada istri kakaknya, yang berarti adalah kakak iparku juga yang bernama Arti. Walaupun cuaca agak mendung, tetapi kuantarkan juga uang itu kepada kakak ipar istriku. Sampai di sana ternyata sepi, nggak ada orang dan pintu rumah tertutup rapat. Ku ketuk pintu rumah "Dok..dok..dok....kula nuwun", sapaku. Nggak ada jawaban. Berulang-ulang kuketuk pintu juga nggak ada jawaban. Akhirnya iseng-iseng pegangan pintu ku dorong, ternyata pintu nggak terkunci. Teledor benar kakak iparku ini, begitu pikirku. Aku masuk ke kamar tamu, sepi. Sayup-sayup ku dengar suara gemercik air di kamar mandi belakang. Segera aku ke sana dan menyapa kakak iparku. "Mbak.. mbak" sapaku agak keras, karena suara air mandipun keras juga. "Siapa itu?" jawab dari dalam. "Aku...Unang" jawabku. "Ada apa.." tanyanya lagi. "Ini mbak aku disuruh Ine mengembalikan uang yang dipinjam kemarin" jawabku. "Ya..tunggu sebentar" jawab mbak Arti dari dalam kamar mandi. Akhirnya aku duduk-duduk di depan TV sambil menonton acaranya. Lima menit berlalu, sepuluh menit, limabelas menit sudah aku menunggu, ternyata mbak Arti belum juga kelar acara mandinya. Iseng-iseng aku bangkit menuju kamar mandi dan mencoba melihat dari luar apa yang sedang dilakukan kakak iparku ini. Waah....ada lubang kunci, itu cukup buatku untuk mengintipnya. Deg..plasss...jantungku seakan rontok melihat pemandangan yang belum pernah aku saksikan. Kulihat kakak iparku ini sedang menggosok-gosok badannya dengan sabun mandi sambil duduk di pinggir kamar mandi dengan kaki mengangkang. Terlihat jelas di mataku, karena posisi duduknya menghadap ke pintu kamar mandi. Wajahnya terlihat memerah, matanya tertutup rapat dan bibirnya menganga sambil sesekali mengeluarkan erangan halus, "ahhhhgg...ahhhhhg...ssshh". Kulihat payudaranya ranum banget, walaupun agak kecil, putingnya merah dan menegang, indah sekali. Pandangan ku alihkan ke bawah. Srettt..darahku mendidih seketika, karena vagina-nya terlihat sangat bagus, seperti mawar merah yang sedang merekah, yang sekelilingnya dihiasi dengan bulu-bulu halus membentuk lingkaran di sekitar mulut luar dan sekitar perut. Mbak Arti terus menggosok payudara dan vaginanya sambil pantatnya bergoyang-goyang. Diantara keluarga kami, mbak Arti ini mempunyai pantat yang paling bagus, padat dan besar, tetapi serasi dengan bentuk tubuhnya. Ohhh. Rupanya kakak iparku ini sedang masturbasi. Aku tak begitu saja menyia-nyiakan kesempatan ini. Kuteruskan kegiatanku mengintip. Pantat mbak Arti semakin bergetar keras ketika jarinya menyentuh klitoris yang menyembul di antara vagina-nya. Digosoknya vagina-nya dengan gerakan memutar seirama dengan goyangan pantatnya. Mungkin sudah klimaks, karena kulihat mbak Arti mengejang dan meluruskan kakinya sambil menciumi ketiaknya sendiri. Khawatir ketahuan aku segera berjingkat-jingkat menuju depan TV dan kembali duduk, Pura-pura membaca Koran yang ada di depanku. Jegleggg...pintu kamar mandi dibuka. Kakak iparku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan daster tipis tembus pandang, hingga membuat tenggorokanku kering menahan gejolak seksku yang kian meninggi. Tetapi aku pura-pura acuh dan bertanya "Mas Dwi pergi ke mana to mbak" tanyaku basa-basi. "Masmu baru penataran di Ungaran selama 3 hari, tadi siang baru berangkat, mbak mengantar sampai terminal" sahutnya. Wahhh..duda ketemu janda nich, pikirku. "Ini mbak titipan dari Ine, mohon maaf karena baru sekarang baru bisa ngembali’in" kusampaikan permintaan maaf istriku sambil memberikan amplop berisi uang "Ah..nggak apa-apa" sahutnya. Baru berbincang-bincang sebentar, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seakan-akan mengguyur bumi ini. "Waduh..hujan" kataku memecah suara hujan yang jatuh di atas genting. "Ya berteduh dulu to di sini, nggak usah sungkan, wong di rumah saudara aja. Sebentar mbak buat’in minuman hangat" sahutnya. Mbak Arti berjalan ke dapur. Cleguk...aku menelan ludah karena kulihat pantat mbak Arti bergoyang ke kanan dan ke kiri, seakan-akan menantang setiap lelaki untuk menjamahnya. Kulihat terus setiap gerakan tubuhnya dengan seksama. Darahku seakan berhenti ketika kakak iparku ini mengaduk minuman di gelas. Seluruh tubuhnya bergoyang, payudaranya, perutnya, pantatnya pokoknya syuur banget. Tiba-tiba dia lari dari dapur menuju ke arahku dan memelukku erat-erat sambil berteriak, "Dik Unang, kakak jijik lihat kecoa di dekat gelas itu" katanya sambil menunjuk ke arah dapur. "Tenang mbak, tenang, ayo kita bunuh kecoa itu" sahutku sambil tetap memeluk kakak iparku itu dan berjalan menuju dapur. Dengan sebuah gagang sapu, kubunuh kecoa itu dan kubuang ditempat sampah, tetapi anehnya kegiatan itu kulakukan dengan tetap berpelukan dengan kakak iparku itu. Jantungku mulai berdetak sembarangan. Nafsu mulai naik ke ubun-ubun. Tiba-tiba kedua mata kami beradu pandang, lama sekali sambil nafas kami terengah-engah. Sementara hujan berubah menjadi rintik-rintik, mendukung suasana menjadi dingin dan sepi. Nggak sadar, entah siapa yang memulai, bibir kami saling berpagut, hangat. Kulumat bibir kakak iparku itu dengan penuh nafsu. Sekali-sekali kugigit bibirnya dan kumainkan lidahku di atas langit-langit mulutnya. Nafsu seks sudah mengasai kami berdua. Aku tahu itu tidak boleh, tetapi kami nggak kuasa untuk menghentikannya. Kami semakin tenggelam dalam birahi. Kini leher jenjang kakak iparku menjadi sasaranku berikutnya. Kuciumi dan kujilat sepuasnya. Hampir saja aku mencipok lehernya itu, kalau tidak ditepis oleh kakak iparku itu dan memprotes, "Jangan dik..nanti membekas", larangnya. Kemudian kujilat kuping belakang mbak Arti sambil kubisikkan sesuatu. Ia mengangguk. Sambil masih tetap berdiri di pinggir wastafel dapur kulepas pakaiannya satu per satu. Hingga kini tak selembar benangpun melilit tubuhnya. Kupandangi tubuh indah itu sampai lama, hingga lidahku tahu-tahu sudah memainkan puting payudara yang sudah memerah tegang itu. Pelan-pelan kaki kanannya ku angkat dan kuletakkan di pinggir wastafel itu. Jemarikupun refleks memainkan bulu-bulu halus di sekitar vaginanya. Kudengar kakak iparku melenguh-lenguh tanda terangsang. "Ah.... ouhgh..... sshh.... nikmat.. terus....". Dengan penuh nafsu serangan kuteruskan dengan lidah di bibir vaginanya yang sudah basah oleh cairan hangat itu. Kujilat–jilat mesra sambil sesekali menggigit bagian dalam bibir vagina itu. Rupanya seranganku membuahkan hasil. Mbak Arti bergetar keras dan mengajakku pindah ke sofa. Kami duduk berpangkuan sambil terus melakukan kontak seksual. Kini giliran Mbak Arti yang gantian menyerangku. Dicopotinya semua pakaianku. Ia sempat terbelalak begitu melihat penisku. Entah apa yang dirasakannya. Yang jelas ia langsung melahap penisku sampai habis. Diisap-isap, dikocok-kocok dan dijilati sampai puas. Gantian aku yang menggelinjang hebat, karena terus terang aku sudah terangsang ketika aku mengintip kakak iparku ini mandi. "Mmmmhhhh....srup....srup.." penisku dihisap-hisap sampai badanku merinding semua. Ia memandang mataku dan memberi tanda agar pindah ke kamar tidurnya. Kami berbaring dengan ambil posisi 69. Kini didepan wajahku terpampang vagina yang menganga dan memerah. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, langsung ku serang vagina itu hingga Mbak Arti menggelinjang penuh kenikmatan. Tetapi sebaliknya Mbak Artipun semakin gencar menyerang peny-ku dengan tak kalah hebatnya. Tiba-tiba ia bangun dan mendorongku hingga jatuh telentang. Hujan belum juga berhenti. Dalam hati kunyayikan lagu anak-anak yang kugubah syairnya, TIK..TIK...TIK BUNYI HUJAN DI ATAS RANJANG. Ia mulai ambil posisi membelakangiku dan membimbing peny-ku masuk ke dalam lobang vagina yang sudah becek itu disertai gerakan naik turun. Pelan-pelan....agak cepat....sampai seperti kesetanan ia terus menggoyang pantatnya naik turun. Kuimbangi gerakannya dengan mendorong peny-ku maju mundur. Mulutnya menceracau tak karuan. Dengan masih melakukan gerakan tadi kuremas-remas payudara yang kini semakin mengeras itu. Hingga akhirnya ia menjerit kecil "Ohhhh..aku sudah nggak tahan lagi dik....Ahsh..". Segera kuambil posisi konvensional. Kutelentangkan ia, pahanya ku buka lebar-lebar dan tumitnya kuletakkan di bahuku. Kuterobos lubang menganga itu dengan rudalku, dan kuserang habis-habisan. Permainan ini kami lakukan hampir 1 jam, sampai kakak iparku berdesah hebat sambil berkata "Ahg....ough..sh... Aku mau keluar dik. Ohhhg". Kutambah kecepatan permainanku karena akupun sudah mendekati detik-detik orgasme. Kurasakan darah mengalir dari seluruh tubuh ke peny-ku Kugoyang, kugoyang dan kugoyang terus, sampai masing-masing kami mencapai puncak kenikmatan dengan kusemburkan mani ku ke dalam vagina kakak iparku itu sambil memeluknya erat-erat. Sepuluh menit kami berpagut mesra. Hingga akhirnya kami kenakan pakaian kami kembali. "Mbakkk.." panggilku. "Mmhhhhh.." jawabnya manja. "Aku sebetulnya sudah mengintip waktu mbak tadi mandi" godaku. "Ahhhh..kamu nakal.." sungutnya sambil mencubit lenganku keras-keras. Senda gurau berakhir sampai aku berpamitan pulang dan kebetulan hujan sudah agak reda. Sebelum pulang kucium mesra pipi dan bibirnya sambil kubisikkan di telinganya "Mbak adalah kakak iparku tersayang".

Lazimnya tradisi tahunan untuk pulang mudik lebaran, aku bersama istri dan anak-anakku pun pada hari lebaran kemarin ikut mudik ke rumah mertuaku di kota P, Jawa Barat. "Aduh senangnya Oma dan Opa kalau kalian datang..", kata mama mertuaku sambil memeluk dan mencium kedua anak-anakku. "Apa kabar, Pa?", kataku sambil menyalami Papa mertua. "Baik, Roy..", jawab Papa mertuaku sambil tersenyum. "Apa kabar, Ma?", kataku sambil menyalami mama mertua. "Mama baik, Roy..", jawab mama mertuaku sambil memeluk dan cium pipiku kiri kanan. "Mama kangen..", bisik mama mertuaku ketika mencium pipiku. Aku hanya tersenyum. Seperti ceritaku sebelumnya ("Aku dan Mertua"), aku sudah lama menjalin hubungan cinta kasih dengan ibu mertuaku. Begitulah, kami semua berkumpul dan melewati hari lebaran di kota P selama 3 hari, dan sesuai dengan rencanaku sebelumnya, aku sekeluarga akan segera pergi menuju kota lain untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara yang lain esok harinya. "Kalian akan pulang kapan?", tanya Papa mertua kepada istriku. "Rencananya besok pagi kami akan segera ke Bandung, Pa..", kata istriku. Terlihat wajah mama mertuaku berubah sambil mencuri pandang ke arahku. "Kalian akan ke sini lagi tidak?", tanya mama mertua. "Sepertinya tidak, Ma..", jawab istriku. "Kami dari Bandung nanti akan langsung pulang ke Jakarta..", lanjut istriku. "Ya kalau begitu, kalian nanti malam harus istirahat agar kuat untuk jalan besok", kata mama mertuaku. "Ya, Ma..", kataku sambil bangkit berdiri. "Mau kemana, Pa?", tanya istriku. "Aku mau periksa kondisi mobil dulu, Ma..", jawabku sambil pergi meninggalkan mereka di ruang keluarga. Ketika aku sedang memeriksa kondisi mobil, mama mertuaku datang menghampiri. "Roy..", tanya mama mertua. "Ya ada apa, Ma?", kataku. "Mama kangen kamu. Apakah kamu tidak?", tanya mama mertua. Selintas kulihat istri dan anak-anakku masih mengobrol dengan Papa mertua beserta beberapa saudara. "Saya juga kangen dengan Mama..", kataku sambil menatap matanya. Mama mertuaku tersenyum manis. Walau umurnya sudah kepala empat, tapi kecantikan dan kemolekan tubuh mertuaku itu masih tampak jelas di mataku. "Nanti sore atau malam, bisa tidak kalau kita jalan sebentar, Roy?", tanya mama mertuaku penuh harap. "Mm.. Kita coba nanti, Ma..", kataku sambil tersenyum. Kami lalu saling melempar senyum penuh arti. Kemudian mama mertuaku pergi dan masuk ke dalam rumah. Sore harinya.. "Pa, Mama ada perlu ke supermarket dulu..", kata mama mertuaku kepada suaminya. "Emannya mau beli apa?", tanya Papa mertua. "Mama mau belikan sesuatu untuk anak-anak si Roy untuk di jalan besok pagi, sekalian Mama mau beli keperluan Mama..", kata mama mertua. "Mama mau pinjam dulu si Roy ya, Sayang..?", kata mama mertua kepada istriku. "Ya, Ma..", kata istriku. "Mana anak-anak?", tanyaku pada istriku. "Udah pada tidur sore..", kata istriku. "Ya sudah, aku pergi ngantar Mama dulu ya, Sayang..", kataku sambil mencium kening istriku. Istriku mengangguk. Kemudian aku dan mama mertua langsung pergi. "Senang sekali Mama bisa berduaan dengan kamu, Roy", kata mama mertua sambil mengusap pahaku. Aku hanya tersenyum sambil melirik ke mertuaku yang tangannya mulai nakal naik dan masuk ke dalam celana Hawaii-ku, lalu jarinya mulai mengelus selangkanganku. "Sudah beberapa bulan Mama tidak merasakan..", kata mama mertua sambil mengusap-ngusap dan meremas kontolku yang sudah mulai bangkit dari luar celana dalamku. "Kita kemana, Ma?", tanyaku sambil merasakan desiran kenikmatan ketika tangan mertuaku meremas dan mengocok kontolku pelan. "Ke tempat biasa saja, Roy..", kata mertuaku. "Iya, Ma.. Tapi tangan Mama udah dulu dong, ah.. Nanti saya tidak bisa jalan..", kataku sambil tersenyum. "Hi.. Hi.. Iya deh..", kata mama mertuaku nakal sambil tertawa. Tak lama kemudian kumasukkan mobil ke pelataran hotel kelas melati di kota P tersebut. Setelah check-in, segera aku dan mama mertua masuk ke kamar yang telah ditentukan. "Mama sangat kangen, Roy..", kata mama mertua sambil memelukku erat setelah di dalam kamar. "Saya juga kangen sama Mama..", kataku sambil mengecup bibirnya. "Mm.. Mmhh..", gumam mama mertua sambil belas melumat bibirku sementara tangannya langsung masuk ke dalam celana Hawaii-ku, lalu masuk lagi ke celana dalam. "Ohh.. Enak, Ma..", bisikku ke telinganya sambil meremas buah dadanya yang besar. "Mama selalu pengen dekat dengan kamu, Roy..", bisik mama mertua sambil menurunkan celana Hawaii-ku dan memerosotkannya hingga lepas. Akupun segera melepas kaos yang kupakai dan celana dalam yang sudah menggembung. Sementara mama mertua juga sama melepas semua pakaiannya hingga telanjang bulat. "Sudah berapa lamu saya tidak bersama Mama?", tanyaku sambil memeluk tubuh telanjang mama mertuaku. Kontolku yang sudah tegang dan tegak menyentuh-nyentuh bulu memek dan perut mertuaku. "Sudah tiga bulan kamu tidak kunjungi Mama, Roy..", kata mama mertua sambil memegang dan mengocok kontolku. "Mama rasanya hampir gila tidak bisa bersama kamu selama itu", katanya lalu melumat bibirku. Lama kami berciuman sambil saling usap, saling raba, saling remas tubuh masing-masing. "Ohh.. Mmhh..", desah mama mertua ketika tanganku mengusap belahan memeknya lalu jariku masuk ke lubang memeknya yang sudah sangat basah. "Royy.. Oohh..", desah mama mertua makin keras ketika aku menurunkan kepala ke dadanya lalu kujilati puting susunya bergantian sembari tangan dan jariku masih tetap memainkan memeknya. "Royy.. Mama sudah tidak kuat lagiihh..", bisik mama mertuaku sambil menggerakan pinggulnya seiring tusukan jariku ke memeknya. "Setubuhi Mama sekarang..", pintanya lirih sambil melepaskan diri dari pelukanku lalu dia berbaring di ranjang. Aku tersenyum, lalu aku pun segera naik ke atas ranjang dan kunaiki tubuh telanjang mama mertuaku. "Ayo lekas lakukan, Roy..", katanya sambil meraih kontolku lalu diarahkan ke lubang memeknya. "Mama nggak sabar amat sih..", kataku sambil tersenyum lalu kukecup bibirnya, kemudian kutekan kontolku perlahan sampai akhirnya kontolku masuk semua ke dalam memek mertuaku. "Ohh.. Shh.. Enakk, Royy..", desah mertuaku sambil menggoyang pinggulnya. "Mama tidak sabar karena sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan dari kamu, sayang..", bisik mama mertuaku. "Makanya ketika Mama mendapat kabar kalau kamu akan datang berkunjung, hati Mama sangat senang.. Ohh..", lanjut mertuaku. "Apalagi ketika melihat kamu datang, gairah Mama langsung muncul.. Hanya saja Mama tahan terus..", katanya sambil melumat bibirku. "Saya juga waktu melihat Mama menyambut, langsung pengen..", kataku sambil terus memompa kontol di memeknya. "Ohh.. Nikmat sekali, Royy..", desah kenikmatan keluar dari mulutnya. "Setubuhi mama lebih cepat, sayang..", pintanya sambil mencengkram tubuhku erat. Aku mengerti kalau mama mertuaku hampir mencapai orgasmenya, maka aku segera mempercepat pompaan kontolku. "Ohh.. Ohh.. Mama mau keluarr.. Ohh..", lenguhan panjang terdengar dari mulut mertuaku sambil memejamkan matanya. Serr! Serr! Lendir birahi mama mertua menyembur disertai dekapan yang sangat erat di tubuhku. "Rooyy.. Nikmat sekalii..", desah mama mertua sambil badannya terkulai lemas. Aku tersenyum melihat mama mertua memejamkan matanya karena menikmati kenikmatan yang tiada tara. "Ma, balikkan badannya dong..", pintaku sambil mencabut kontolku dari memeknya. "Apa, Roy? Nungging?", tanya mama mertua. "Bukan, Ma.. Mama tengkurap saja", kataku. Mama mertuaku menuruti apa permintaanku. Dia tengkurap sambil membuka kakinya agak lebar sehingga memeknya tampak merekah merangsang. Lalu kuarahkan kontolku ke lubang memeknya kemudian kutekan hingga masuk semua. "Mmhh.. Enak sekali, Ma..", kataku sambil mengeluarmasukkan kontolku di memeknya. "Ohh.. Roy.. Enak sekali..", kata mama mertuaku sambil menggoyangkan pantatnya. Aku terus mengeluarmasukkan kontolku sambil meremas-remas bongkahan pantat mama mertua yang besar dan bulat. Sesekali kusentuh lubang pantatnya dengan jariku. "Roy, kamu ngapain?", tanya mama mertua ketika aku mencoba memasukkan sedikit ujung jariku ke lubang pantatnya. "Nggak apa-apa, Ma.. Tapi enak kan, Ma?", tanyaku sambil tetap memompa kontolku di memeknya. "Iya sih enak.. Tapi jijik kan, Roy..", kata mama mertua sambil memejamkan mata ketika kumasukkan jariku sedikit lebih dalam lagi ke lubang pantatnya. Tak lama kurasakan sesuatu yang ingin menyembur dari kontolku. Kupercepat gerakan kontolku sambil menikmati perasaan nyaman yang mulai meningkat di kontolku. "Saya mau keluar, Ma..", kataku serak. "Keluarkan di memek Mama saja Roy.. Biar enak..", kata mama mertua. Croott! Crott! Croott! Air maniku menyembur banyak di dalam memek mama mertuaku. Kutekan kontolku dalam-dalam ke memeknya. Terasa kontolku berdenyut-denyut nikmat. Kudekap mama mertua dari belakang tanpa melepas kontolku dari lubang memeknya. "Nikmat sekali, Ma.. Memek mama masih nikmat..", pujiku. "Makanya, sering-seringlah kamu kunjungi Mama agar Mama bisa berikan semua kasih sayang dan kenikmatan buat kamu..", bisik mama mertuaku. Setelah beres-beres, aku dan mama mertua segera keluar dari hotel tersebut lalu menuju supermarket untuk berbelanja keperluan yang dibutuhkan. Kulihat wajah mama mertuaku sangat cerah dan ceria. Sangat jauh berbeda daripada saat sebelum kami bersetubuh lebih dari 1 jam yang lalu tadi. Selesai berbelanja, kami lalu segera pulang. Di rumah, mama mertua dan aku berlaku seperti tidak ada apa-apa yang telah terjadi di antara kami sehingga tidak ada yang curiga. Keesokan paginya aku sekeluarga segera pergi menuju Bandung untuk mengunjungi sanak saudara lainnya.







Bagian pertama kisah ini dimulai ketika jam dua siang itu Surti, meninggalkan pasar sambil membawa bungkusan isi dagangan batik, menuju ke hotel Melati. Pegawai hotel yang sudah mengenalnya segera mengantar ke kamar Mas Jamal, langganannya pijat. Sudah tiga bulan ini selain jualan batik Surti juga berusaha menambah penghasilan dengan menjadi juru pijat. Surti mengikuti jejak rekan seprofesi yang banyak bertebaran di pasar, terutama setelah beberapa bulan belakangan ini dagangan batik sepi. Kadang Surti memijit ibu-ibu atau wanita pedagang yang capai, namun lebih banyak memijat pria. Seminggu dua atau tiga kali dipanggil, lumayanlah untuk menambah nafkah dua-tiga ratus ribu rupiah per bulan. "Sore Mas. Sudah nunggu lama ya?" sapa Surti. "Nggak, Mbak Surti. Baru juga selesai keliling. Duduk dulu Mbak, aku mandi sebentar" sahut Jamal, salesman keliling yang setiap mampir ke kota ini selalu memanggil Surti untuk memijatnya. Ini kali yang keempat Surti dipanggilnya. Jamal masuk ke kamar mandi sementara Surti duduk di kursi melepas penat. Surti menyeka sekitar leher yang berkeringat, dia merapikan baju dan rok. Tak lama kemudian Jamal keluar berbalut handuk. Tinggi tubuhnya sekitar 170 cm lumayan kekar dan berotot. "Saya permisi cuci tangan ya, Mas," pinta Surti sambil menuju ke kamar mandi. "Silahkan, Mbak." Selesai cuci tangan Surti mendapati Jamal sudah tengkurap di ranjang tanpa melepas handuknya. Surti mendekat ke bagian kakinya. "Tumben pakai handuk, Mas?" Tanya Surti. Biasanya Jamal pakai celana pendek atau CD. "Anu Mbak, celanaku kotor semua. Tiga hari keliling belum sempat nyuci Eee, biar lebih gampang mijatnya, naik ke ranjang aja, Mbak" kata Jamal. Ranjangnya memang agak besar sehingga susah dapat memijat dengan enak kalau tidak naik. Surti naik ke ranjang dan berlutut di kiri Jamal. Mulai memijat telapak kaki, terus naik ke arah betis hingga paha. Ikatan handuk Jamal yang agak kencang menutupi paha agak menyulitkan memijat bagian itu. "Maaf Mas, handuknya tolong dilonggarkan" Jamal mengangkat perutnya dan membuka simpul handuknya sehingga handuk itu sekarang jadi longgar bahkan disisihkannya ke samping kiri-kanan hingga seperti selimut yang menutup pantat. Surti dapat merasakan di balik handuk itu tidak ada apa-apa lagi yang dikenakan Jamal. Jantung janda 40 tahunan ini, jadi berdegup agak keras. Tapi Surti coba tidak berpikir buruk karena pernah tiga kali memijat Jamal dan pria itu selalu sopan. Agak hati-hati Surti pijat bagian paha dan pantatnya. Beberapa kali handuk itu tergeser sampai kadang-kadang tak mampu lagi menutupi. Beberapa kali pula Surti membetulkan letaknya namun sempat pula terlihat pantat Jamal, bahkan ceruk hitam di antara pangkal pahanya. Dada Surti jadi berdesir. Bagian pantat ke bawah selesai, lalu Surti memijit bagian pinggang ke atas. Ia menggeser lututnya. "Kelihatannya cape sekali, Mas?" sapa Surti mencairkan suasana diam. "Iya Mbak. Sudah cape keliling, ordernya tambah sedikit aja. Dagangan sekarang lagi sepi Mbak," jawab Jamal. "Dagangan batik, Mbak sendiri gimana?" "Sama saja, Mas. Sepi banget. Kalau nggak sepi nggak bakalan saya jadi tukang pijit" "Tapi pijitan Mbak enak lho" "Ala Mas ini menghina. Saya kan cuma belajar dari teman-teman" "Bener lo Mbak, kalau nggak masak aku jadi langganan Mbak Kalau malam sampai jam berapa, Mbak?" "Saya nggak terima pijit malam Mas. Pokoknya sebelum maghrib sudah harus sampai rumah. Saya nggak mau anak-anak saya tahu pekerjaan sampingan ibunya. Mereka hanya tahu saya jualan batik di pasar" "Ooo kenapa mesti malu, Mbak?" "Saya sih nggak malu, tapi kasihan kan kalau anak-anak saya ketahuan teman-temannya punya ibu tukang pijit? Sudah, sekarang balik Mas" Jamal memutar tubuhnya, tentu saja handuknya ikut terlibat pantatnya sehingga nampaklah bagian depannya yang polos. Beberapa saat sempat Surti melihat zakar Jamal yang mulai tegang. Buru-buru Surti membantu Jamal menutupinya, namun tetap saja tonjolan itu membentuk pemandangan yang bikin dada Surti berdesir. Bagaimana pun Surti tetap wanita yang beberapa tahun silam pernah melihat hal demikian pada diri suaminya yang telah tiada. Dada Surti berdegup semakin cepat, tubuhnya agak gemetar. Buru-buru Surti konsentrasikan pijatan pada kaki Jamal. "Maaf, Mbak, adikku nggak mau tidur. Kalau lagi dipijat wanita memang selalu gitu sih Mbak" "Ah, nggak apa, Mas. Biasa laki-laki" Surti coba bergurau. Pemandangan demikian buat tukang pijit perempuan memang bukan hal aneh lagi. Malah kadang beberapa pria yang sudah tak bisa menahan nafsu memegang tangannya dan menempelkan pada batangannya. Tapi dengan halus Surti berusaha mengelak. Satu dua kali Surti remas benda di balik celana dalam itu tapi setelah itu di lepaskan lagi. "Waktu mijit apa pernah dijahilin laki-laki Mbak?" "Kadang-kadang ada sih Mas laki-laki yang nakal" "Nakal gimana, Mbak?" "Yah, maunya tidak sekedar dipijit tapi juga mijit hihihi" "Lalu Mbak juga mau hehehe..?" "Ah, enggaklah Mas, nggak baik. Takut" "Apa ada yang pernah maksa Mbak?" "Iya sih, kasar sekali orang itu. Aku dipeluk-peluknya Ya aku marah dong" "Apa dia sampai meng anu Mbak?" "Nggak sampailah, Mas Saya buru-buru keluar kamar" Pijitan Surti sampai ke paha Jamal. Mau tak mau bagian handuk yang menonjol itu selalu terpampang di depan mata Surti. Malah kadang tonjolan itu seperti sengaja digerak-gerakkan Jamal. Lebih-lebih sewaktu tangan Surti bergerak di sekitar paha dalamnya dan mengenai rambut-rambut lebat di situ. "Ufhhh maaf, ya Mbak terus terang aku jadi terangsang lo setiap dipijit Mbak, Adikku jadi bangun terus" Jamal berterus terang tapi dengan nada bergurau. Hal ini membuat Surti tersenyum. Surti percaya pria ini tidak bakal berbuat macam-macam, toh sudah tiga kali di pijat tanpa kejadian luar biasa. "Nggak apa, Mas. Asal bisa menahan diri saja. Eh, maaf" tanpa sengaja tangannya menyenggol telur dan sebagian penis Jamal sehingga pria itu mendesis sambil mengangkat pantat dan menegakkan adiknya sehingga handuknya tergelincir ke arah perut. Batang keras kaku itu segera saja membuat mata Surti agak terbelalak karena ukuran panjang dan besarnya yang agak luar biasa. Mungkin sekitar 20 cm dengan diameter 3 cm. Cepat Surti tutup dengan handuk namun bayangan benda itu di benak Surti tak kunjung hilang. "Kalau aku nggak bisa nahan diri gimana, Mbak?" "Jangan bikin saya takut ah, Mas" Surti menekan dada Jamal dan mulai memijat ke arah pundak. Mata mereka bertatapan dan Jamal tersenyum. Surti buru-buru menunduk. "Sebenarnya Mbak nggak cocok jadi tukang pijit lo" "Kan sudah saya bilang ini terpaksa Mas, karena dagang batik tambah sepi" "Eh, Mbak, aku tanya serius nih, tapi maaf ya sebelumnya" "Tanya apa Mas?" "Kalau Mbak lagi mijit laki-laki yang sedang terangsang kayak aku gini, apa Mbak nggak ikut terangsang?" "Ah eh oh Mas ini kok tanya itu sih" "Aku serius pingin tahu lho Mbak Soalnya Mbak kan juga wanita yang masih butuh seks kan? Apalagi Mbak sudah menjanda beberapa tahun" "Sudah ah Mas, jangan tanya soal itu" "Jujur sajalah Mbak Aku nggak yakin Mbak sudah mati rasa sama seks. Iya kan?" Surti diam saja, cuma pipinya terasa panas. Pijatan Surti di bagian dada jadi melemah dan tangannya bergeser turun ke perut Jamal. "Iya kan, Mbak?" Mendadak Jamal semakin berani dengan memegang kedua tangan Surti yang sedang memijit perutnya. Surti mengangkat kepala dan coba menentang tatapan Jamal sambil berusaha menarik tangannya. Tapi pegangan Jamal begitu kuat, jadi Surti memilih diam. "Akh aku malu Mas.." "Malu kenapa Mbak?" "Masak soal gituan dibicarakan sama Mas?" "Nggak apa kan Mbak. Kita kan sudah sama-sama dewasa." Jamal tetap memegangi tangan. Surti diam saja dengan wajah menunduk. Pada dasarnya Surti memang pemalu. "Mbak lihat sini dong" "Kenapa, Mas?" "Terus terang nih ya, aku pingin memeluk Mbak, boleh nggak?" Surti terjengak mendengar permintaan Jamal. Tak mampu bersuara. Perlahan Jamal bangun dan duduk mendekati Surti, dipegangnya punggungnya. Katanya, "Sudah sejak pertama ketemu dulu aku ingin sekali memeluk. Boleh kan, Mbak?" Tanpa menunggu jawaban, Jamal semakin kuat memeluk punggung Surti dan menarik ke arah dirinya. Surti yang dalam posisi bersedeku jadi kurang kuat bertahan sehingga mau tak mau tubuhnya tertarik ke tubuh Jamal. Hanya tangan Surti saja yang coba menahan supaya tubuh tidak terhempas ke tubuh Jamal. "Jangan, Mas" Tapi Surti tak berdaya menahan ambruk tubuhnya ketika Jamal kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang sambil tetap memeluk. Tubuh Surti menimpa tubuhnya yang segera menguncikan pelukan ke tubuh sintal Surti tambah ketat. Wajah mereka demikian dekat. "Aku hanya ingin pelukan begini kok Mbak," Jamal berbisik dan ia memang tidak melakukan apa-apa lagi selain memeluk tubuh Surti di atasnya. Surti jadi bingung, mau berontak atau tidak? "Ah, biarkan saja dulu, toh dia tidak melakukan apapun selain memeluk" pikir Surti sambil berusaha lebih santai. Toh Surti pernah mengalami perlakukan lebih kasar dari ini. Surti pernah ditindih pria yang di pijatnya dan diremas-remas tetek Surti. Beberapa lagi malah memaksa Surti mengonani sampai pria itu terjelepak lemas setelah ejakulasi. Perlakuan Jamal yang sekarang ini hanya memeluk Surti termasuk lembut. Entah kenapa dengan pria ini Surti tak banyak memberontak. Apa karena Surti diperlakukan dengan halus? Atau karena Surti menyukai Jamal? Atau? Ah, tiba-tiba Surti merasakan bibirnya dingin karena menyentuh sesuatu. Surti membuka mata dan ternyata Jamal tengah mencium bibir Surti. Ufh Surti segera menggelengkan kepala menghindari bibir Jamal. Namun bibir pria itu dengan gigih mengejar, bahkan tangan kanannya ikut membantu menahan kepala Surti hingga tak bisa menggeleng lagi. Surti pilih mengatupkan mulut dan mata rapat-rapat ketika bibir Jamal menggerayangi. Lidah pria itu berupaya menerobos masuk, tapi Surti tahan dengan katupan gigi. "Buka bibirnya dong, Mbak" bisik Jamal. Surti menggeleng sambil berusaha mendorong tubuhnya ke atas. Namun Jamal menahan tubuh Surti dengan kuat malah sekarang kakinya ikut melibat pahaku dan tubuhnya bangun mendorong tubuh kenyal Surti sampai terbalik. Sekarang gantian Surti telentang sementara tubuh polos Jamal di atas Surti. Bibir Jamal terus memburu bibir Surti. Dengan posisi di bawah ruang gerak Surti semakin sempit. Kecapaian membuat perlawanan Surti kendor. "Jangan, Mas" bisik Surti lemah. "Nggak apa-apa, Mbak, aku cuma ingin ciuman" Desis Jamal sambil bibirnya terus memaksa bibir Surti membuka, sementara lidahnya pun menembus katup gigi Surti. Rasa takut, malu, marah dan bingung melanda Surti. Surti takut Jamal memaksa, memperkosanya. Surti juga malu karena sebagai janda tidak seharusnya diperlakukan begini. Surti ingin marah namun tak berdaya dibanding tenaga Jamal. Surti jadi bingung mau bertindak apa. Dadanya yang membusung pun jadi sesak ditindih tubuh kekar Jamal. Dengan nafas agak memburu, Surti akhirnya tak mampu lagi mempertahakan katupan gigi. Surti membiarkan lidah Jamal menerobos menjilati langit-langit mulutnya. Bibir mereka berpagutan semakin ketat. Air liur dan ludah pun membanjir dan mau tak mau ada yang tertelan. Jamal benar-benar menggila dengan ciumannya. Sepuluh menit lebih ia mencium, menjilat, menyedot lidah Surti tanpa lepas. Akibatnya, Surti jadi ikut terbawa iramanya. Surti yang janda itu lama-kelamaan ikut mengimbangi tingkah Jamal. Ya, Surti yang melihat Jamal tidak melakukan hal lain kecuali mencium, akhirnya membalas ciuman hot Jamal. "Ah, biarlah, toh Jamal hanya pingin berciuman. Tidak lebih" pikir Surti sambil lidahnya memasuki rongga mulut Jamal, dan mendadak disedot dengan kuat oleh Jamal seperti hendak ditelan. Surti jadi gelagapan. Agak lama barulah Jamal melepaskan lidah Surti, lalu beralih menciumi sekujur wajah Surti. Dari mata, hidung, pipi, dahi, telinga, sekitar leher, dagu sampai akhirnya balik lagi ke bibir manis Surti. Selama setengah jam lebih Surti hanya manda saja diciumi pria yang menurut Surti tidak berniat buruk ini. Ya, dibanding pria-pria lain yang pernah memaksa dirinya, Jamal tergolong lembut. Dan entah kenapa, ada rasa suka dengannya. Apa karena kegantengannya, apa karena usianya yang masih muda, atau karena Surti memang butuh sentuhan lelaki setelah beberapa tahun ini tak lagi dirasakannya? Bahkan, Surti hanya mendesah "Jangan, mas" ketika merasakan jemari Jamal mulai meremasi payudara Surti yang masih menantang ini. Namun Surti tak berusaha memberontak. Toh Jamal hanya meremas dari luar, pikir Surti. Sementara bibir pria itu terus melumati bibir Surti. Tangan itu terus bergerilya, satu persatu kancing baju Surti dilepasnya. "Jangan, mas" Desis Surti lagi tanpa menolak dengan serius. Toh, aku masih pakai BH, pikir Surti. Ugh, BH itupun diremas tangan Jamal berkali-kali. Kadang membuat Surti sakit, namun juga memberi rasa lain yang nikmat. Mata Surti malah terpejam erat ketika jemari Jamal bergerilya di bawah BH dan menggapai puting Surti. "Egh jangan, mas" Aduuuh nikmatnya. Toh, dia hanya memainkan payudaraku, tak apa-apa, pikir Surti semakin menikmati. Surti justru hampir tak merasa ketika baju dan behanya sudah dilempar Jamal entah kemana. Yang terasa kemudian adalah payudara Surti kiri-kanan bergantian diremas dan dihisap Jamal. Digigit-gigit, dikemot, disedot, "dimakan", dimainkan putingnya oleh lidah yang lihai dan tubuh Surti semakin tergial-gial ketika perut pun ditelusuri lidah berbisa Jamal. "Aduh, aku tak tahan. Tak apa, toh Jamal hanya menjilati perutku" pikir Surti lagi menerima perlakuan nikmat itu. Malah tangan Surti kini ikut meremasi kepala Jamal yang terus turun dan turun mencapai pusarnya. Menjilati pusar Surti yang berlubang kecil, kemudian meluncur turun lagi, membuat geli sekaligus nikmat. "Jangan, mas" lagi-lagi Surti hanya mampu mendesiskan kata itu ketika terasa rok panjangnya perlahan tertarik ke bawah. Karet elastis di bagian perut tak mampu menahan tarikan itu, apalagi Surti berpikir, "Biar saja, toh aku masih pakai celana dalam" Sekarang tinggal segitiga pengaman melekati tubuh polos Surti. Terasa paha Surti dikangkangkan dan sesuatu terasa mengelus-elus daerah vitalnya. Sesaat kemudian Surti kembali merasa tubuhnya ditindih Jamal yang menekan-nekankan penisnya ke CD-Surti. Mulut mereka berpagutan lagi. Tangan Jamal meremas-remas payudara lagi. "Aduh aku tak tahan lagi" Surti membalas perlakuannya yang liar dan Surti tak mampu lagi mendesis, "Jangan, mas" ketika dengan cepat tangan Jamal menyabet CD hitam Surti dan melorotkannya ke bawah terus melepasnya dari kakinya. Lalu sejurus kemudian Surti merasakan sesuatu yang panjang besar memasuki gua garbanya. Mula-mula perlahan dan agak sulit, menyakitkan. Namun lama-lama semakin dalam, lalu semakin cepat dan cepat keluar masuk, naik turun. Disertai lonjakan-lonjakan tubuh kekar di atasnya yang memaksa paha Surti terkangkang selebar-lebarnya. Rasa sakit pun berubah jadi nikmat. Surti lupa segalanya, tak ingat siapa pria yang sedang menyetubuhinya. Jamal, salesman keliling, yang katanya berasal dari Bandung dibiarkan menyebadani, menggauli, menyenggamai, menembus, mengocok dan menggumuli tubuh Surti. Surti terlena dan yang ada hanya rasa nikmat yang harus kunikmati sepuasnya. Mumpung ada kesempatan, mumpung ada yang memberi, mumpung Surti butuh, mumpung Surti haus, mumpung ada yang memuasinya. Tubuh Surti masih butuh seks, libidonya masih tinggi, bibirku masih butuh diciumi, payudara Surti butuh disedot-sedot, vulvanya butuh penis yang tegar panjang perkasa. Surti masih punya nafsu seks yang harus dipenuhi. Surti tak mau hidup gersang. Dan, Surti pun masih bisa orgasme ketika hunjaman zakar Jamal yang bertubi-tubi mencapai klimaks. Genjotan pantatnya begitu kuat membuat penis itu terbenam dalam-dalam di vulvanya yang sempit. Nikmat bertemu nikmat dan jreeet jreeet jreeet Surti merasakan sperma Jamal menyemprot, sementara hampir bersamaan Surti cepat-cepat menggamit paha Jamal sambil mengejan menumpahkan mani. Tubuh mereka terkejang-kejang kelojotan sambil mengejan menggelegakkan sperma dan mani bertubi-tubi. Kedua kelamin mereka yang bertemu saling berdenyut-denyut, meninggalkan kesan mendalam sehingga mereka lama tidak melepaskannya. Surti membiarkan burung Jamal itu tetap mendekam di sarangnya meski lendir membasahi di mana-mana. "Maaf ya, mbak, aku lupa diri," bisik Jamal. Surti diam memejam, nafasnya tersengal-sengal menahan beban tubuh polos di atasnya. Sementara penis Jamal masih terbenam, Surti hanya bisa kangkangkan paha dan merasakan denyut-denyutnya yang masih tersisa. "Mengapa ini terjadi?" Surti membatin tak habis mengerti bagaimana persetubuhan ini berlangsung begitu saja, padahal selama jadi pemijat Surti selalu menghindarinya. Ya, selama ini ada cap bahwa setiap wanita pemijat pasti bisa diajak main seks. Surti berusaha keras menepis sebutan itu, namun akhirnya bobol juga hari ini. Justru dengan Jamal, pria yang sudah jadi langganan. "Kalau sudah begini, apa bedanya aku dengan pelacur?" Surti masih terbengong-bengong dengan pemikirannya, ketika kembali terasa tubuh Jamal menekan-nekannya. Zakar pria itu pun kembali membesar panjang mengaduk-aduk vulva Surti. Ya, ternyata Jamal dengan cepat bangkit birahiya lagi dan bangunlah "adik"nya yang perkasa itu, kembali menikam-nikam Surti yang perlahan-lahan kembali terbawa arus kenikmatan. Malah ikut mengerang ketika nikmat bersebadan itu menyeruak di vaginanya. Tak ingat lagi, apakah dirinya pelacur atau bukan. Yang penting saat ini dirinya butuh nikmat! Persenggamaan pun terulang lagi, kali ini malah lebih lama. Hampir satu jam Jamal menusuk-nusuknya, menghunjami Surti dengan super torpedonya. Kadang pantatnya diangkatnya atau Surti yang mengangkatnya secara refleks karena terbawa nikmat tiada tara setelah beberapa tahun dirinya tak merasakannya. Sepertinya Surti ingin memuntahkan seluruh kerinduan persetubuhan. Surti kembali menggapit paha Jamal, ini kali yang ketiga Surti orgasme. Tubuhnya mengejang terlonjak-lonjak. Jamal sendiri memang tahan lama dan baru beberapa menit kemudian melenguh mengeluarkan energi terakhirnya menyemprotkan sperma. Sampai Surti rasakan hangat cairan itu memasuki perut. mereka benar-benar habis-habisan. Untuk berdiri pun harus menunggu beberapa menit setelah deru nafas mereda. Jam enam kurang sedikit Surti tinggalkan hotel Melati. Jalannya seperti melayang, tak peduli dua lembar ratusan ribu yang baru saja masuk ke dompet, pemberian Jamal. Surti tak bisa menolak, tapi "Semoga Jamal tidak menganggapku pelacur murahan" pikir Surti. "Kami melakukannya suka sama suka" Surti memanggil becak untuk mengantar ke rumah. Itulah yang menjadi awal kisah Surti selanjutnya yang lebih mengejutkan karena Surti kemudian terperosok ke jurang perzinahan yang lebih dalam dengan orang-orang yang semestinya di peluk dengan kasih sayangnya. Namun, sebaliknya, justru merekalah yang akhirnya memeluknya dengan nafsu. ***** "Sampai malam begini, Laris bu?" sambut Bari, bungsu Surti yang kelas 3 SMU, ketika Surti tiba di rumah. "Lumayan" jawab Surti. "Ini Ibu bawakan gorengan" Surti memberikan sebungkus makanan lalu terus berjalan ke kamar. Banu, kakak Bari, mengangkat bungkusan batik Surti dan menaruhnya di atas lemari. Ia sudah empat bulan ini dipehaka dari pabrik sepatu di Tangerang bersama Basuki kakaknya. Jadilah tiga pemuda tanggung anak Surti sekarang jadi pengangguran dan kembali bergantung padanya di rumah. Ya, semuanya terjadi gara-gara krisis di negeri ini. Banyak perusahaan gulung tikar, pehaka terjadi dimana-mana. Cari pekerjaan pengganti juga sulit bukan main. Mau usaha sendiri, tak ada modal. Hanya kadang mereka jadi makelar jual-beli motor tapi inipun hasilnya cuma cukup buat jajan. Seusai mandi dan makan, Surti ingin cepat-cepat tidur. Tubuh cape sekali setelah tadi bertempur habis-habisan dengan Jamal di Hotel Melati. "Ibu tidur dulu ya" kata Surti pada ketiga anaknya yang sedang asyik main kartu. Surti masuk ke kamar belakang. Rumah itu memang hanya memiliki dua kamar. Sejak dua anak Surti dipehaka maka satu kamar depan untuk Banu dan Basuki dan satunya di belakang untuk Surti dan Bari. Surti mematikan lampu lalu membaringkan dirinya melepas penat. Bayangan pergumulannya dengan Jamal ternyata tak kunjung hilang dari benak. Setengahnya ada rasa penyesalan, namun sebagian lain justru rasa nikmat itu terus bergelenyar di dadanya, di perunya, di kulitnya, di vulvanya. Tak lama kemudian Surti pun terlelap, ada seulas senyum di bibir Surti. Akankah di mimpi Surti berjumpa Jamal lagi? Ya, ternyata harapannya jadi kenyataan. Jamal muncul lagi di mimpinya. Mereka bercumbu bagai sepasang kekasih yang lama tak bertemu. Tubuh telanjang Surti dibaringkannya di ranjang, kemudian dia merangkak di atasnya. Menjilati sekujur tubuh dari perut naik terus hingga bibirnya dan akhirnya agh, terasa sesuatu menusuk bawah perutnya dengan keras dan tubuhnya ditekannya dengan keras. Tubuhnya terasa semakin berat, berat, berat dan argghhh! Surti terbangun, dan.. mendapati sesosok tubuh sedang menindihnya. Surti merasakan selangkangannya telah ngangkang dan sesuatu memasukinya. Surti membuka mata memperhatikan dan dalam sinar lampu yang masuk dari ventilasi terlihat Bari sedang menyetubuhinya! Gila!!! "Bar! Bari! Ini aku, ibumu, Bar!" protes Surti pada bungsunya yang masih 18 tahun sambil mendorong tubuhnya sampai terjengkang ke luar ranjang. Sekilas terasa penisnya yang tegang keluar dari vaginanya. Surti segera duduk di ranjang dan ditutup tubuh telanjangnya dengan selimut sambil memperhatikan Bari yang nampak ketakutan. "Kenapa kau lakukan ini, Bar?" tanya Surti emosi. "Ttt ta tadi Ibu sendiri yang mulai" "Apa? Ibu yang mulai?!" Surti tambah sewot tapi tidak berani teriak keras-keras takut dua anaknya yang lain terbangun. "Bukankah Ibu tadi sudah tidur?" "I..iya bu tapi Ibu seperti mengigau lalu memelukku" bisik Bari. Surti yang mendengar penjelasannya jadi mendelong. Sekilas Surti ingat mimpinya bersama Jamal. "Ibu terus memelukku dan aku jadi terangsang, bu.." Bari terus terang sambil menunduk. Sementara Surti masih bertanya-tanya benarkah itu? "Ceritakan apa yang sudah kulakukan padamu, Bar?" Sambil Surti tarik tangannya ke atas ranjang. Bari menurut sambil menutupi penisnya dengan sarungnya. Di dudukkan ia di sebelah Surti. "Waktu aku tidur, kudengar Ibu mengigau seperti orang gelisah dan tubuh Ibu bergerak-gerak. Lalu mendadak Ibu memelukku dan" Bari diam, Surti pingin tahu kelanjutannya. "Lalu?" "Ibu menciumi aku" "Apa benar?" "Sumpah, bu." Jawabnya, membuat Surti jadi salah tingkah. "Sebenarnya aku sudah berusaha membangunkan Ibu tapi gagal. Malah aku jadi terangsang Apalagi daster Ibu juga tak karuan lagi letaknya sampai paha Ibu terbuka" "Aku tambah terangsang waktu tersenggol payudara Ibu berkali-kali dan terangsang untuk meremasnya Aku tambah berani ketika Ibu hanya mendesis waktu kuremas, sampai akhirnya pelan-pelan, maaf, Ibu kutelanjangi. Maaf Bu, nafsuku, sudah sampai ke kepala sampai aku menyetubuhi Ibu" cerita Bari sambil menunduk. Surti terdiam, tak percaya apa yang dilakukan di dalam mimpi ternyata jadi kenyataan. Sialnya, Surti telah bersetubuh dengan darah dagingnya sendiri. Akhirnya Surtipun menerima penjelasan Bari. "Baiklah, Bari. Ini jadi rahasia kita berdua saja. Sekarang tidurlah kembali," pesan Surti. Bari segera melingkar di bawah sarungnya. Surti pun kembali berbaring sambil berselimut. mereka berdiam diri saling memunggungi. Begitu mengejutkan peristiwa tadi sampai Surti tak ingat untuk memakai dasternya lagi yang entah dilempar kemana. Begitu pula Bari hanya bertelanjang di dalam sarungnya. Namun rasa capai mempercepat tidurnya. Dan, mungkin, inilah salahnya karena menganggap sepele peristiwa ini. Surti menganggap ini peristiwa kecil dan sudah berakhir, namun tidak demikian dengan Bari. Pemuda tanggung ini ternyata tetap memendam hasrat. Malam masih panjang. Surti telah tidur kembali. Sementara itu, Bari justru tetap nyalang matanya. Tak ada lagi kantuk di benaknya. Yang ada justru ingatan bagaimana tadi dia baru saja menyetubuhi ibunya. Sayang, belum tuntas. Namun, kesempatan itu kayaknya masih terbuka, karena tubuh yang barusan digelutinya itu masih tergolek di sisinya. Telanjang dan hanya berselimut lurik. Andai saja selimut itu bisa dilepas, pasti bisa tuntas hasratku, pikir Bari. Setelah terdengar dengkur halus ibunya, Bari mulai berani membalikkan tubuhnya sampai telentang. Diliriknya tubuh di samping kirinya dan tubuh Bari bergetar ketika melihat sebagian punggung atas ibunya tidak tertutup selimut. Sementara kain sarungnya sendiri yang hanya menutupi sekitar perut dan paha tak mampu menyembunyikan gejolak syahwat yang membuat zakarnya tegang berdiri. Dengan tak sabar dilemparnya sarung ke bawah ranjang hingga dirinya bugil, lalu perlahan berguling lagi sampai ia kini menghadap punggung ibunya. Didekatinya tubuh bungkuk udang ibunya dari belakang sampai bau wanita itu tercium kian merangsangnya. Ingatannya saat bagaimana dia meremas tetek ibunya tadi membuatnya berani menarik ke bawah selimut yang menutupi punggung mulus itu. Perlahan punggung itu sekarang terbuka sampai ke pinggang dan otomatis pasti bagian depannya pun terbuka polos pula. Teringat bagaimana tadi ia memeluk ibunya, perlahan Bari melingkarkan tangan memeluk ibunya dan merapatkan zakar ke pantatnya. Kulit dadanya bertemu kulit punggung ibunya, tangan kanannya memeluk perut ibunya dan perlahan jemarinya merambat ke atas. Menggapai dua gunung kembar yang membusung itu. Sementara itu kaki Bari tak tinggal diam membantu menarik selimut ibunya ke bawah. Terus ke bawah sampai paha-paha mulus gempal itu tak tertutup lagi. Maka bugillah kedua ibu dan anak itu. Tidur berdekapan. Satu terlelap, satunya bernafsu. Tak sabar, Bari mulai mengelus dan meremas pelan payudara montok mulus itu. Tangannya agak gemetar ketika menyentuh puting dengan ibu jari dan telunjuknya. Ditempelkan zakar ke pantat ibunya yang cukup besar. Dibiarkannya posisi itu bertahan hampir 30 menit. Dan ketika ibunya tetap lelap tertidur, Bari semakin berani. Sambil pura-pura menggeliat, perlahan ditariknya bahu dan paha ibunya sampai tubuh wanita itu telentang. Kemudian dengan penuh nafsu buah dada yang menggunduk itu dijilatinya. Dikuaknya selangkangan si ibu lalu perlahan mengarahkan zakar ke gua nikmat itu. Tak mau gegabah dan terlalu kasar seperti tadi, kini Bari melakukannya dengan halus. "Bleessss" ditancapkan zakar dalam-dalam ke vagina ibunya lalu pantatnya diam. Tidak menekan terlalu keras. Malah lidahnya mulai menyusuri tetek dan dada ibunya sampai mencapai bibir dan menciuminya sambil tangannya meremasi susu montok itu. Aneh benar, Surti, ibunya, tetap tertidur, seolah tak merasakan apa-apa. Mungkin ia terlalu penat karena cape bergelut dengan Jamal tadi siang dan tidur yang terpotong barusan. "Eeehhghh..." Surti mendesis lirih ketika lidah Bari memasuki mulutnya, namun matanya tetap terpejam. Hanya tubuhnya saja bergeser kecil dan Bari memberinya ruang dengan sedikit mengangkat badannya sehingga tidak terlalu memberati Surti. Setelah ibunya tenang, kembali Bari menumpangkan badan di atas tubuh bugil Surti. Perlahan ia mulai memompakan zakarnya. "Shleeeb.. shlebbb.. jleeeb.. jleebb.." berhenti lalu sambil menekankan zakarnya di kemutnya puting Surti. "Egghh eggh..," desis Surti sambil menggerakkan tubuhnya sedikit namun tetap tidur. Anehnya lagi, Bari merasa zakarnya seperti ada yang menghisap-hisap. Nikmaaat dan membuatnya cepat mencapai puncak. Buru-buru Bari memompa lagi cepat-cepat, dan kini ia tak peduli kalau ibunya bakal bangun karena gerakan kasarnya. "Heeh.. heeh.. heeh.." nafas Bari memburu ketika ia menggerakkan pantatnya dengan gencar naik turun keluar masuk menusuk-nusuk lahan Surti sambil memeluki ketat tubuh ibunya itu dan mencium ketat bibirnya yang menggairahkan. Otomatis diperlakukan demikian Surti terbangun, namun terlambat Dalam keadaan belum sadar benar, mendadak Surti merasakan tubuh di atasnya mengejang-ngejang belasan kali dan terasa semprotan-semprotan sperma di rahimnya. Barulah tubuh itu terjelepak layu menindihnya. Surti segera mendorong tubuh itu dan ia segera sadar bahwa Bari telah berhasil menuntaskan nafsu di atas tubuhnya. "Ooh Bari.. Bari kenapa kamu tega menodai ibu?" ratap Surti sambil menangis dan memukuli tubuh Bari yang hanya diam membisu memunggunginya. Beruntung suasana kamar gelap sehingga mereka tidak dapat melihat kondisi masing-masing. Bayangkan betapa malu bila mereka saling bertatapan mata. "Ma.. maafkan saya, bu. Sss..saya benar-benar khilaf tidak bisa menahan nafsu" jawab Bari lirih. Pelan ia berbalik dan menyelimuti tubuh telanjang Surti. Kemudian turun dari ranjang, memakai sarungnya dan melangkah keluar kamar. Dicarinya air dingin di dapur. Surti sendiri dalam isak tangisnya kembali merebahkan diri. Tak tahu harus berbuat apa pada anak bungsunya itu. Mau dimarahi? Toh ini sudah terlanjur terjadi. Mau diusir dari rumah? Ia tak tega. Ia menyesali dirinya telah tertidur begitu pulas sampai tak merasa sedang disetubuhi anak kandungnya sendiri. Kenapa ia tadi begitu ceroboh dan menganggap sepele kejadian perkosaan yang pertama? Sampai tak memperhitungkan bahwa Bari ternyata nafsunya tetap berkobar-kobar. Pemuda seumur Bari memang sedang panas-panasnya. Nafsunya cepat naik. Apakah sebaiknya mereka tidak tidur seranjang? Bari biar tidur dengan kakaknya saja. Tapi ranjang kamar depan terlalu sempit untuk bertiga. Apakah ia perlu tukar tempat dengan Banu? Namun setelah memikirkan bahwa Banu pun mungkin juga akan terangsang nafsunya bila tidur bersamanya (ini nampak dari bahasa tubuh Banu dan Basuki, si sulung, yang selama dirantau menurut dugaan Surti pasti pernah berhubungan dengan wanita) maka Surti memutuskan tetap tidur sekamar dengan Bari. Biarlah kejadian ini hanya kami berdua yang tahu, pikirnya. Setengahnya ia juga menyalahkan diri karena telah merangsang Bari secara tak sengaja ketika tadi mimpi bersetubuh dengan Jamal. Sambil merenung-renung kejadian yang menimpa dirinya dan Bari, Surti mulai bisa memaklumi tindakan Bari. Ternyata anak bungsuku sudah dewasa dan mampu melakukan kewajibannya sebagai lelaki, bathinnya. Perlahan mata Surti kembali terkantuk-kantuk. Masih sekitar jam 2 dini hari. Sementara itu Bari yang usai minum air dingin duduk melamun di dapur, mengenang apa yang baru saja dilakukan atas tubuh ibunya. Barusan ia juga telah mencuci zakarnya dengan air dingin sampai benda lunak itu mengkerut lagi. Rasa kantuk yang menyerang membuatnya beranjak kembali ke kamar tidur. "Biarlah kalau ibu mau marah lagi," pikirnya pasrah. Perlahan Bari membuka pintu, masuk lalu menutupnya lagi. Ternyata Surti telah tidur kembali. Kali ini ia malah telentang dan lagi-lagi hanya berselimut lurik. Bari mengambil sedikit tempat di pinggir untuk merebahkan tubuhnya. Sekilas diliriknya wajah ibunya dalam gelap, hanya nampak siluet wajah seorang wanita yang belum tua benar. Namun tetap menarik. Bari coba memejamkan mata dan tidur. Tanpa sadar ternyata ia juga tidur hanya berbalut sarung yang melingkari bagian perut ke bawah.Cukup lama pemuda tanggung ini berusaha tidur sewaktu tanpa diduga Surti mengerang dan menggeliat ke arah dirinya. Bari gelagapan ketika tangan Surti justru memeluknya. Dan tubuh Bari kembali berdesir karena dada montok ibunya menekan dadanya meski masih terhalang selimut. Ini merupakan rangsangan hebat buat Bari, namun ia tak mau gegabah seperti tadi. Ia tak mau kejadian tadi terulang. Maka ia harus mampu menahan nafsunya. Kami boleh pelukan tapi zakarku tak boleh tegang, bathinnya. Dengan prinsip itu akhirnya Bari memberanikan diri balas memeluk ibunya. Malah lebih dari itu, lagi-lagi Bari melempar sarungnya yang mengganggu gerakan paha dan kakinya sampai bugil. Perlahan ia masuk ke dalam selimut ibunya dan balas memeluk tubuh bugil montok semok itu. Ibu dan anak itu pun tidur berpelukan. Kali ini Bari hanya menempelkan zakarnya di paha Surti dan bertahan sekuat tenaga supaya tidak ereksi. Beruntung matanya terasa sangat berat sehingga tak lama kemudian ia pun tertidur berpelukan dengan ibunya. Udara panas dini hari itu membuat tubuh mereka berkeringat. Sekitar pukul empat pagi, seperti kebiasaannya, Surti terbangun. Lagi-lagi ia hampir terkejut mendapati dirinya telanjang berpelukan dengan Bari yang bugil. Selimutnya tak cukup lebar menutupi tubuh mereka berdua hingga yang tertutup praktis hanya sekitar pinggul saja, sedangkan bagian lain benar-benar terbuka. Surti ingin mendorong tubuh Bari, namun ia segera menyadari bahwa Bari saat itu sedang tidur nyenyak. Ia jadi tak tega sehingga dibiarkannya posisi tubuhnya yang telentang sementara Bari menindih sambil memelukkan tangan dan satu kakinya berada di sela-sela paha Surti. Surti agak tenang karena tidak merasakan zakar Bari ereksi. Yang menggelisahkan justru tangan Bari yang menelangkupi buah dada kirinya serta ketelanjangan mereka. Bagaimanapun ia masih normal dan gesekan kulit dengan kulit demikian malah menimbulkan rangsangan yang perlahan menggelitikinya syahwatnya. Surti semakin tak tahan dan berusaha menggeser tangan serta menjauhkan tubuh Bari perlahan agar ia tak bangun. "Eeee," terdengar suara erangan Bari yang merasa tidurnya terganggu. Ia malah tak mau melepaskan pelukannya, justru sedikit meremas buah dada Surti, membuat Surti mendesis. "Bari, lepaskan Ibu mau bangun" bisik Surti ke telinga Bari sambil mendorong lebih kuat. "Eeee.. sebentar, Bu" desis Bari sambil mempererat pelukannya, menaikkan tubuhnya dan mengulum puting Surti. "Sudahlah, Bari jangan diulang kejadian semalam" Surti menjangkau kepala Bari sambil menggigit bibir menahan gejolak syahwat yang berputar di pusarnya. "Ibu tidak marah?" desis Bari lagi dengan mata masih setengah terpejam. "Tidak, Bar sekarang sudahlah, nanti kamu terangsang lagi" Perlahan Bari menggeser tubuhnya menjauhi ibunya. Ia melanjutkan tidurnya, sementara Surti segera bangun, mencari dasternya yang tercecer di lantai dan mengenakannya sebelum beranjak keluar kamar. Sekilas diliriknya tubuh bugil Bari. "Ia ternyata sudah dewasa" bathinnya. Dan, sejak itulah saat-saat tidur bersama seranjang dengan Bari mulai memasuki babak baru. Surti tak mampu menolak manakala Bari dengan manja memeluknya, menindihnya, bahkan dengan nakal meremasi teteknya atau malah memaksa Surti membuka dasternya dan menetek seperti anak kecil. Bagi Surti sendiri pelukan, tindihan, kuluman dan hisapan-hisapan Bari di sekujur tubuh dan buah dadanya sungguh merupakan rangsangan yang sulit dihindari. Ia tak mampu menolak itu semua, bahkan seolah memberi izin Bari melakukannya setiap malam. Ya, setiap malam kini ia harus menerima perlakukan seksual Bari yang tak kenal lelah. Pemuda tanggung yang tengah panas-panasnya ini seperti mendapat mainan baru yang menggairahkan. Kini Bari tak segan lagi bertelanjang di depan ibunya, bahkan seringkali ia ikut menelanjangi Surti hingga hanya tersisa CD. Bari tak segan lagi menyuruh Surti memegang zakarnya dan mengocoknya. Sementara tangannya sibuk memerah tetek Surti bahkan tak jarang coba mengelus-elus lubang nikmat Surti meski dari luar CD. Merasa sudah kepalang basah, Surti pun menikmati permainan seksual itu meski ia masih menjaga agar gua garbanya tak lagi ditembus zakar Bari. Ia menjepit zakar Bari dengan pahanya dan membiarkan sperma perjaka itu muncrat di luar atau di perutnya. Bahkan akhirnya Bari memaksa Surti mengulum zakar tegang itu dan menerima muntahan lahar panas. Mula-mula dimuntahkannya tapi lama-lama justru dinikmati dan ditelannya. Ibu dan anak ini akhirnya saling belajar memuasi dan dipuasi. Tak tahan, Surti mulai mengajari Bari memuasi dirinya pakai tangan dan akhirnya pakai lidah. Bari yang semula jijik, lama-lama terbiasa juga menjilati lubang sempit bergelambir milik Surti. Biji kelentit dan daerah G-spot merupakan kenikmatan tersendiri bagi Surti. Sampai ia kadang orgasme. Mereka berdua kemudian malah setiap malam tidur telanjang berpelukan, dan akhirnya Surti juga mengizinkan Bari menancapkan zakar ke vaginanya. Bari sudah cukup bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan sperma di dalam vagina Surti setelah diberitahu kemungkinan kehamilan bila spermanya masuk ke rahim. Ya, selama beberapa minggu, tanpa sepengetahuan siapapun, mereka bagai dua pengantin baru yang asyik dilanda nafsu. Berpacu mengumbar birahi, tak peduli merupakan hubungan incest. Bari yang masih muda begitu semangat dengan kegiatan seksual mereka sementara Surti yang sudah lama tidak merasakan belaian laki-laki ingin kerinduannya dipuasi. Nafsunya belum padam. Berbagai gaya mereka lakukan, dari yang konvensional sampai gaya anjing kawin, 69, sambil duduk berhadapan atau Surti di pangkuan Bari dan seterusnya. Pokoknya nikmat dan uenaaak tenaaan... Sampai di suatu pagi sekitar jam 6 pagi Surti merasa tubuhnya sedang digerayangi Bari, padahal ia merasa masih sangat mengantuk setelah semalaman bertempur seru sampai dini hari. Dibiarkannya Bari merenggangkan pahanya dan untuk kesekian kalinya menelusupkan zakar tegangnya lalu mulai mengocoknya. Keras, cepat dan semakin cepat seperti terburu-buru Bari mengayun pantatnya. Ia ingin menyalurkan nafsunya yang muncul di pagi hari, sementara jam tujuh ia juga harus masuk sekolah. Genjotan Bari yang sedemikian keras lambat laun juga merangsang Surti menggapai nikmat di pagi itu. Sayangnya selagi Surti baru mencapai tahap pemanasan, mendadak tubuh Bari sudah terkejang-kejang lalu buru-buru ia mencabut penisnya dari lubang nikmat ibunya serta merta menyemprotkan sperma dengan deras ke perut ibunya. Disusul mengoser-oserkan zakar tegang itu ke seluruh dada hingga berakhir di jepitan tetek Surti. Vagina Surti masih berdenyut-denyut ingin dipuasi ketika Bari sudah meloncat keluar kamar untuk bersiap ke sekolah. Tinggallah Surti sendiri kecewa sambil mengelus-elus vagina dan meremasi teteknya sendiri. Nafsunya belum tuntas! Bari egois, hanya mau memuasi dirinya saja, tak peduli ibunya kelojotan menahan nafsu. Baru sekitar jam tujuh pagi Surti bangkit mengelap noda-noda di badan dengan CD-nya lalu mengenakan dasternya dan merapikan ranjang yang hampir tiap hari harus ganti sprei karena penuh bercak sperma dan mani mereka. Dibawanya sprei dan pakaian kotor ke tempat cucian, direndamnya dan ditaburi deterjen bubuk. Terdengar ada yang sedang mandi, pasti Banu pikir Surti. Banu, kakak Bari, termasuk rajin cari tambahan penghasilan. Meski kadang pulang dengan tangan hampa tapi ia selalu rajin bangun pagi, mandi lalu pergi entah kemana. Cari obyekan, katanya setiap ditanya. Pintu kamar mandi terbuka, Banu muncul. "Mau kemana Nu?" tanya Surti. "Cari motor, Bu. Kemarin ada teman cari motor bekas yang murah-murahan. Moga-moga motor Pak Panut belum dijual." "Rumah Pak Panut agak masuk ke desa kan?" "Iya, Bu, saya tahu. Paling nanti sampai sore baru pulang" Sementara Surti menjemur pakaian, terdengar Banu pamit mau pergi. "Saya pergi ya, Bu!" serunya. "Ati-ati ya Eh, Basuki dimana?" "Biasa, belum bangun, Bu" jawab Banu sambil keluar rumah. Pintu rumah ditutupnya. Selesai menjemur pakaian, Surti lalu mandi, dicucinya sekalian daster yang dipakainya. Seusai mandi ia hanya berbalut handuk menutupi payudara hingga pahanya, menjemur pakaiannya. Melangkah masuk ke rumah, dilihatnya Basuki duduk bersarung dan telanjang dada di kursi makan, melamun. Pandangannya kosong. Surti kasihan juga melihat sulungnya yang 25 tahun itu tak juga kunjung bekerja lagi. "Sudahlah Bas, jangan melamun terus" bujuk Surti sambil mengambilkan segelas teh. Diangsurkannya teh itu kepada Basuki, kemudian dijangkaunya kepala Basuki dan dielus-elusnya seperti kebiasaannya waktu kecil dulu. Basuki memejamkan mata dan mendadak tubuhnya seperti menggigil. "Kamu kenapa Bas?" tanya Surti heran melihat putranya. Dan lebih terkejut lagi ketika tiba-tiba Basuki bangkit dan berbalik memeluki dirinya seperti orang kesetanan. "Bu.. tolong aku.. Bu" desisnya membuat Surti tambah panik. "Bas, Bas! Kamu kenapa?" Surti bingung dan berusaha melepaskan diri. Tapi tenaga dan tubuhnya yang hanya setinggi pundak Basuki tak mampu menahan ketika perlahan namun pasti Basuki mendorongnya ke kamar. Bahkan pergulatan mereka serta gesekan dengan kulit dada Basuki membuat handuknya terlepas dan sarung Basuki melorot. Surti geragapan ketika tubuh bugilnya diangkat Basuki ke atas ranjang dan digeluti. "Bas! Bas! Gila kamu.. ini aku ibumu!" Surti terus berontak sambil mendorong dan memukuli. Namun Basuki terus menggelutinya. "Bu tolong Bu, aku pingin sekali aku butuh." dan sadarlah Surti bahwa saat itu Basuki sedang dilanda birahi. Ia pasti pernah merasakan tubuh wanita dan sekarang, setelah lama puasa, butuh penyaluran. "Apakah aku harus memenuhi hasratnya?" pikir Surti cepat. "Bas Bas jangan Ibu kau jadikan pelampiasan Ugh" Surti tak menyelesaikan kata-katanya karena putingnya dihisap keras sementara tangan Basuki menggosok-gosok dan memasukkan jemari ke vaginanya dengan ganas. Mengaduk-aduknya. Surti tergerinjal, nafsunya yang tadi belum dituntaskan Bari kembali bangkit. "Ah, kenapa lagi-lagi aku dinodai anakku?" jerit hati Surti. Tenaganya melemah. "Bas egh jangan Bas," lemah suara Surti ketika melihat zakar Basuki tegang panjang memerah dengan urat-urat kehitaman di sekelilingnya. "Aku tidak tahan lagi, Bu" Basuki menempatkan pantatnya di antara paha Surti, mengarahkan pedang tumpulnya ke lubang nikmat ibunya lalu. "Sleepp sleep bless bless" Surti sampai terangkat pantatnya ketika zakar panjang nan tegar milik Basuki mencapai rahimnya dan menyentuh-nyentuh pusat kenikmatannya. Kemudian dengan cepat menusuk-nusuk dan memompanya bertubi-tubi. "Shh shh sudah Bas.. cukup stop Ibu nggak tahan" bibir Surti bergumam menolak tapi entah kenapa tangannya justru merangkul erat leher Basuki dan membuka pahanya semakin lebar. Basuki tak peduli, terus bergoyang dan bergerak naik turun. "Hshh hshh cukup Bas jangan kamu keluarkan spermamu di dalam Ibu bisa hamil" Surti semakin terhanyut oleh gerakan Basuki yang jauh lebih lihai dibanding Bari. Tanpa sadar ia mulai mengimbangi dengan putaran pantatnya Basuki sendiri seperti tak mendengar suara Surti dan benar saja beberapa menit kemudian, dengan zakar tetap menancap, tubuhnya mulai terkejang-kejang berkejat-kejat lalu "croott croott.." bersamaan dengan tekanan pantat ke vagina ibunya sekeras-kerasnya muncratlah sperma membanjiri rahim Surti. Gilanya Surti justru menggapitkan pahanya erat-erat ke pantat Basuki serta memeluk punggungnya erat-erat dan maninya pun mengalir deras. Basuki ejakulasi. Surti orgasme. Bareng. Sejurus kemudian dua tubuh layu yang berpelukan erat itu saling melepaskan diri. Terjelepak kelelahan, terbaring telentang. Dada mereka naik turun ngos-ngosan. Masing-masing dengan pikiran melayang-layang. Basuki dengan kesadaran sudah menyetubuhi Ibu kandungnya dengan nafsu sebagaimana ia dulu sering salurkan ke wanita bayaran. Sementara Surti sadar bahwa lagi-lagi ia telah bersetubuh dengan anak kandungnya. Lagi-lagi ia jadi pelampiasan nafsu anaknya. Tapi bukankah ia juga ikut menikmati lampiasan nafsu itu? Malah seperti membuka pintu kesempatan untuk terjadinya seks incest itu? "Kamu sudah puas, Bas?" tanya Surti berusaha tegar, "kalau belum cepat lampiaskan lagi hasratmu ke tubuh Ibumu ini biar tuntas sekalian biar kamu tidak melamun yang tidak-tidak lagi" entah keberanian dari mana Surti mengucapkan tantangan ini. Tentu saja Basuki terkejut. Perlahan ia memiringkan tubuhnya dan dipandanginya wajah wanita setengah baya yang adalah Ibu kandungnya itu. Wanita yang tubuhnya bugil telentang itu matanya terpejam. Mengingatkan Basuki pada seorang wanita sebaya yang dulu pertama kali merenggut perjakanya di rantau. Ya, Basuki ingat benar bagaimana ia melepas perjakanya di atas tubuh istri majikannya yang kesepian karena sering ditinggal suaminya pergi bisnis. Beberapa bulan mereka berhubungan. Dan entah kenapa sejak itu Basuki selalu menyukai berhubungan badan dengan wanita yang lebih tua, baik wanita bayaran atau yang sekedar cari teman bersebadan. Kini, setelah berbulan-bulan puasa, Basuki tak tahan untuk meletupkan hasrat syahwatnya. Untuk mencari wanita bayaran ia tak lagi punya modal, untuk mencari istri-istri kesepian tak lagi semudah di kota besar dulu. Akhirnya diam-diam ia memendam hasrat nafsu pada Surti, yang semula ditahan-tahannya karena bagaimanapun dia adalah Ibu kandungnya. Namun bendungan itu jebol pagi ini ketika nafsu telah merasuk sampai di ubun-ubun Basuki dan kesempatan terbuka manakala rumah sepi dan Surti seperti menantangnya dengan hanya berbalut handuk. Sama seperti wanita yang dulu memperjakainya juga hanya berbalut handuk ketika menyeretnya ke ranjang nikmat. Demi mendengar tantangan ibunya, percaya nggak percaya Basuki mendekatkan wajah ke muka Surti. Namun mata Surti terus terpejam, seolah menanti aksi Basuki selanjutnya. Pandangan Basuki menyapu seluruh wajah lalu menurun ke payudara montok meski agak kendor, perut yang masih langsing lalu bukit rimbun di bawahnya yang masih tersisa lengket cairan mereka tadi. Antara sadar dan tidak Basuki menggerayangkan tangan ke sekujur tubuh ibunya. Tubuh Surti jadi merinding. Digigitnya bibir bawah, coba bertahan dari rangsangan itu. Namun sulit sekali, terlebih manakala Basuki dengan piawainya mulai menggunakan lidahnya menggantikan tangan. Seperti lintah, lidah itu bergerak menelusuri wajah, leher, payudara, perut, pusar hingga akhirnya bermuara di kerimbunan semak-semak lebat Surti. Dikangkangkannya paha Surti lalu. dengan ganas lidah Basuki menyapu, menelusup dan menjilat-jilat liar lubang nikmat Surti. Menimbulkan rangsangan hebat yang membuat Surti refleks memegang kepala Basuki dan menekannya seolah ingin memasukkan seluruhnya ke lubang vaginanya. Sekejap saja Surti telah orgasme dan sekejap itu pula Basuki membersihkan seluruh mani yang keluar dengan lidahnya, diminumnya. Lalu lidah itu terus mengerjai vagina Surti, kadang kasar kadang halus. Sampai beberapa menit kemudian Surti kembali harus mengejan berkejat-kejat mengeluarkan maninya lagi. Orgasme lagi. Lagi dan lagi Entah sudah berapa kali Surti kelojotan orgasme tapi Basuki tetap segar menggarap lubang nikmat itu dengan lidahnya. "Agh.. am.. ampun Bas cukup Ibu tak tahan lagi Ibu lemes banget" desis Surti sambil terus meremasi rambut kepala Basuki setelah orgasmenya yang ketujuh atau delapan. Tulangnya seperti dilolosi. Sementara lidah Basuki masih mempermainkan klitnya, menggigit-gigit kecil, menarik-nariknya. Ibu dan anak sudah tak ingat lagi hubungan darah di antara mereka. Yang penting gejolak nafsu terpenuhi. Surti tak mampu menggerakkan tubuh lagi ketika Basuki merayapi tubuhnya lalu sekali lagi menancapkan zakar tegarnya ke lubang vagina Surti menggantikan lidahnya. "Jangan keras-keras, Bas" pinta Surti yang merasa ngilu di vaginanya. Rupanya Basuki tahu itu dan ia menggerakkan pantatnya dengan santai, tidak tergesa-gesa. Justru kini ia lebih mementingkan pagutan bibir dan lidahnya memasuki mulut Surti. Saling belit, saling sedot, sambil tangannya meremas-remas gundukan gunung kembar Surti hingga puting itu jadi keras. Sampai berjam-jam lamanya Basuki memperlakukan ibunya seperti itu tanpa sekalipun ia ejakulasi. Sementara Surti entah sudah berapa belas kali orgasme, rasanya habis seluruh maninya. Setelah hampir tiga jam, Basuki berbisik, "Ak aku mau keluar, Bu" "Jangan di dalam, Bas Ibu bisa hamil" "Keluar di luar tidak enak, Bu" Basuki meneruskan genjotannya. Cepat, cepat dan semakin cepat. Surti ikut terlonjak-lonjak mengikuti irama tarikan zakar Basuki. Tak mampu menolak kemauannya sampai akhirnya Basuki kejang-kejang sambil menyemprotkan sperma berliter-liter. "Creeettt.. Cruuuttt.." belasan kali bagai air bah. Lalu tubuh kekar itu diam menelungkupi Surti tanpa mengeluarkan zakarnya dari vagina. Denyut-denyutnya masih dirasakan Surti. Gila benar ini anak bisa tahan sedemikian lama. Kelelahan membuat mereka tidur berpelukan. Surti tak ingat lagi untuk pergi ke pasar. Sudah terlalu siang setelah empat jam pergumulan tadi. Justru yang terbayang kini adalah kejadian yang bakal dilaluinya di hari-hari berikut, yakni harus melayani kebutuhan seks si sulung dan bungsu bergantian. Si bungsu di malam hari, dan si sulung di siang hari. Mereka tidak boleh saling tahu. Namun, bagaimana dengan Banu, anak kedua. Apakah ia juga akan minta jatah untuk menyetubuhinya? Kuatkah Surti menghadapi tiga "pejantan" ini setiap hari? Bagaimana kalau suatu ketika ia digarap mereka bertiga ramai-ramai? Atau sepanjang hari digilir mereka? Surti tak mampu membayangkan itu semua. Surti mengharap tanggapan pembaca, apakah skandal nikmat dengan anak-anak kandung ini akan terus dilanjutkan dengan anak kedua, atau cukup dengan si bungsu dan si sulung saja? Adakah pembaca yang mau memberi saran buat Surti? Kirim email ke penulis, akan disampaikan kepada Surti sehingga ia memiliki kepastian dalam bertindak. Yang jelas ia sekarang rajin minum pil KB supaya tidak hamil dan melahirkan anak sekaligus cucu sendiri. Terima kasih. Salam dari Surti untuk semua pembaca.



Beberapa minggu setelah kejadian pertama dengan Basuki, aku telah berpikir. Aku rasa anakku yang kedua, Banu, juga harus mendapatkan jatah seperti kedua saudaranya. Tidak adil rasanya jika dia tidak mendapatkannya. Lagipula, semua yang aku lakukan sudah telanjur jauh. Mengapa tidak aku teruskan saja. Hanya saja aku belum mendapatkan cara yang tepat untuk meminta anakku Banu. Mungkin aku sudah terkena penyakit kelainan sex karena aku sangat menikmati hubunganku dengan anak-anakku sendiri. Tapi biarlah, daripada harus menjajakan diri, aku pikir lebih baik begitu. Kesempatan untuk bersetubuh dengan Banu akhirnya datang ketika kedua Saudaranya sedang tidak ada di rumah. Bari sedang ke rumah temannya, sedangkan Basuki pergi ke kota lain selama beberapa hari. Jadi otomatis aku tidak mendapatkan kepuasan selama beberapa hari itu, karena aku tidak disentuh oleh kedua anakku yang telah menjadi pemuas nafsuku. Aku tidak mampu lagi menahan nafsuku untuk bersetubuh, dan aku tidak mau bersetubuh dengan orang lain yang tidak aku kenal. Aku bingung. Sampai ketika aku sedang duduk di ruang tengah aku melihat Banu yang baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek. Aku terkesiap. Ternyata tubuh Banu tidak jauh berbeda dengan kedua saudaranya. Atletis dan juga mengagumkan. Hasratku yang sudah sampai ke ubun-ubun menggelapkan nuraniku. Aku berpikir, biarlah sekalian aku nikmati tubuh semua anak-anakku. Tanpa pikir panjang, aku panggil Banu. "Banu, kemari sebentar Nak," panggilku. Banu menoleh ke arahku dan berjalan menghampiriku. "Ada apa Bu? Banu baru mandi nih. Mau pake baju dulu," kata Banu sambil menghampiriku. "Tidak usah pakai baju Nak. Kemari sebentar. Ibu mau bicara dengan kamu." Kataku meyakinkan Banu. "Tapi Bu, Banu kedinginan. Banu mau pakai baju dulu," jawab Banu ngotot. "Udah, nggak usah membantah Ibu," kataku sambil berdiri dan menarik tangan Banu untuk mendekat. "Duduk di samping Ibu," kataku lagi. Banu pun akhirnya menurut dan duduk di sampingku. Aku pandangi tubuh setengah telanjang yang duduk di sampingku. Sempurna. Itulah yang ada di benakku saat ini. "Boleh Ibu tanya Nak?" tanyaku kepada Banu. "Ya tentu saja boleh Bu, emang ada apa sih?" Banu balik bertanya kepadaku sambil matanya memandangku penuh selidik. "Kamu udah punya pacar Nak?" tanyaku basa basi. "Ya belum donk Bu, emang kenapa sih Ibu tanya itu?" jawab Banu. "Jadi kamu belum pernah ciuman donk?" tanyaku memancing. Banu kelihatan keheranan dengan pertanyaanku tadi. Dia hanya diam beberapa saat. "Ya belum pernah donk. Kok Ibu tanya begitu sih? Ada apa?" tanya Banu keheranan. "Nggak kok. Kalau memang belum pernah, Ibu cuman ingin mengajari kamu ciuman. Itu pun kalau kamu mau?" jawabku ngawur. "Ibu serius? Ibu nggak sedang bercanda kan?" tanya Banu lagi dengan nada tidak percaya. Aku hanya menganggukkan kepala, lalu mendekatkan tubuhku kepadanya. Kepala kami begitu dekat sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku dekatkan bibirku ke bibirnya. Lalu aku tempelkan bibirku. Banu hanya diam saja dan tidak bereaksi. Aku mencoba lebih aktif lagi. Aku dekap tubuhnya, sehingga tubuh kami bersatu. "Kalau ciuman, bibirnya dibuka sedikit donk Nak," pintaku karena bibir Banu hanya tertutup rapat. Aku cium lagi bibirnya, dia membuka bibirnya sedikit sehingga aku mencoba memasukkan lidahku ke mulutnya. Lidahku dan lidahnya beradu di dalam mulutnya. Terkadang aku sedot mulutnya untuk mendapatkan sedikit air ludahnya. Lalu aku telan air ludahnya yang terasa nikmat. Setelah sekitar 15 menit kami berciuman dengan mesranya, aku lepaskan dekapanku pada tubuhnya. Banu seperti tidak rela untuk melepaskan diriku. "Bagaimana Nak? Kamu suka?" tanyaku. "Enak sekali Bu. Boleh lagi? Banu masih pengen nih." Kata Banu sambil terengah-engah. "Boleh saja Nak. Bahkan lebih juga boleh kok." kataku lagi. Aku berdiri di hadapannya. Lalu aku perlahan-lahan menurunkan resleting dasterku. Aku turunkan dasterku dan aku buang ke samping sofa. Sekarang aku hanya menggunakan BH dan celana dalam saja. Aku lihat Banu terkesiap dan menelan ludah melihat pemandangan yang indah di depannya. Aku melangkah mendekat ke arahnya. Aku dekatkan wajahku. Kami pun berciuman kembali. Kali ini Banu sudah lebih mahir. Dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Lidah kami bertautan seperti dua ekor ular yang sedang bertarung. Hanya suara desahan kami berdua yang memenuhi ruangan itu. Aku pegang tangan kanannya dan aku arahkan ke buah dadaku yang masih terbalut oleh bra. Secara alami tangan Banu mulai meremas-remas payudaraku dari luar bra. Aku semakin terangsang saat tangannya meremas payudaraku. Tangan kiriku mengusap-usap bagian luar celananya. "Buka BH Ibu, sayang.. Ohh," pintaku sambil mendesah. Tanpa diminta dua kali, tangan Banu dengan cekatan membuka kaitan BH-ku. Kini di depan wajahnya terpampang dua buah bukit kembar yang sangat ranum dan menggairahkan. "Bu, susu Ibu gede sekali, ukuran berapa sih Bu?" tanya Banu takjub melihat besarnya payudaraku. "38B sayang, gede kan? Kamu suka sayang?" jawabku penuh nada kebanggaan pada propertiku yang satu ini. "Pegang susu Ibu sayang," pintaku sambil mendekapkan tangannya ke payudaraku. Mungkin ini yang disebut dengan nafsu alami. Secara otomatis tangannya mulai meremas-remas payudaraku. Aku hanya bisa mendesah-desah tak karuan mendapatkan perlakuan seperti itu. Tak hanya meremas-remas, sepuluh menit kemudian Banu secara naluriah mulai mengecup dan menjilati kedua gunung kembar yang ada di depannya. "Ahh.. Enaak.. Sayang.. Teruuss.. Emmpphh.." aku meracau tak karuan mendapat perlakuan seperti itu. Kini hanya sehelai celana dalam yang melekat di tubuh kami. Tak sabar, aku menjauhkan kepala Banu dari kedua gunung kembarku. Aku suruh Banu untuk duduk di sofa. Peluh membasahi tubuh kami berdua meskipun permainan baru saja di mulai. Aku berjongkok di antara kedua belah pahanya yang terbuka. Aku pandangi tonjolan besar yang berada dalam penjara yang disebut celana dalam. Aku usap-usap bagian luar celana Banu. Banu menggelinjang mendapat perlakuan seperti itu. Perlahan aku pegang pinggiran celana dalam Banu dan aku berusaha untuk melepaskan celana dalam itu dari tubuhnya. Sebuah pemandangan yang sangat indah bagiku terpampang begitu saja ketika celana dalam itu sudah lepas dari tubuhnya. Kini Banu sudah telanjang bulat. Kontol yang sangat besar, dengan panjang sekitar 18 cm dan diameter yang cukup besar membuat diriku menelan ludah. Aku pegang kontol Banu dengan tangan kananku. Aku elus-elus kontol itu pelan-pelan. Banu hanya mendesah saja mendapatkan perlakuan itu. Aku dekatkan wajahku ke kontol Banu. Aku ciumi ujung kontol yang merekah itu, lalu aku jilati kontol itu. Banu semakin tidak karuan mendapat perlakuan yang semakin merangsang itu. Lima menit kemudian, aku masukkan kontol Banu ke dalam mulutku dan aku oral kontol Banu. "Ohh.. Enaakk Buu.. Teruus.." Banu mendesah. Aku memasukkan kontol Banu ke dalam mulutku dan juga secara bergantian mengocok kontolnya dengan tangan kananku sambil menjilati buah pelirnya. Setelah itu aku masukkan lagi kontol Banu ke dalam mulutku lalu aku memaju mundurkan mulutku sedangkan tanganku bekerja meremas-remas kedua pelirnya dengan lembut. "Enaakk.. Bu.. Kontooll.. enaakk.. Teruss.." Kata-kata semacam itu terus-menerus keluar dari mulut Banu. Sekitar sepuluh menit kemudian Banu memegang bagian belakang kepalaku seakan-akan tidak mau melepaskan hisapan mulutku dari kontolnya. "Buu.. Mauu.. Ke.. Lu. Aar.. Ceepaat.." teriak Banu. Aku semakin mempercepat kocokan mulutku di kontolnya. Tidak lama kemudian aku merasakan adanya denyutan-denyutan yang menandakan kalau Banu akan mencapai puncak. "Keluarkaan sayang, keluarkan di mulut Ibu," kataku di antara desahan nafasku dan nafasnya dan di antara kesibukanku mengoral kontolnya. Creet.. Croot.. Creet.., mungkin sebanyak sembilan atau sepuluh semprotan sperma Banu memenuhi rongga mulutku. Hampir saja mulutku tidak dapat menampung banyaknya semprotan sperma Banu yang sangat banyak itu. Wangi dan gurih, itulah yang aku rasakan. Mungkin dikarenakan Banu masihlah perjaka (atau tidak??). Banu duduk telentang dan bersandar di sandaran sofa dengan nafas yang terengah-engah seperti baru berlarian. Tapi, dia memang baru saja 'berlarian' mengejar nafsunya bukan? Aku lalu duduk di sampingnya. Aku biarkan dia istirahat dulu, aku tidak ingin terburu-buru meskipun nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun. Ini adalah yang pertama baginya. Aku ingin kepuasan untuk kami bedua. "Kamu capek Nak? Pejumu tadi benar-benar lezat Nak. Ibu sangat menikmatinya", sanjungku tentang spermanya yang aku telan tadi. Banu hanya tersenyum saja mendengar sanjunganku. Setelah aku melihat Banu sudah mulai tenang, aku dekatkan wajahku ke wajahnya. Seperti sudah mengerti yang aku maksud, Banu juga mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mulut kami bersatu dan kami berciuman. Aku buka sedikit mulutku, bagitu juga Banu. Lidahnya mulai masuk ke dalam mulutku dan menyapu seluruh rongga mulutku. Kedua lidah kami beradu, saling membelit dan saling menjilat. Aku dekap tubuhnya erat sedangkan Banu memegang bagian belakang kepalaku. Aku rasakan kedua gunung kembarku bersentuhan dengan dada bidang milik Banu. Banu berusaha menidurkan aku di sofa sambil kedua tangannya bergerilya di seluruh tubuhku. Sekarang aku telentang di sofa dan Banu berada di atas menindihku. "Ludahi Ibu, Nak. Ibu haus. Ludahi Ibu," pintaku kepada Banu untuk memberikan air ludahnya kepadaku. Banu menjauhkan sedikit mulutnya dari mulutku. Mulut Banu mengecap-kecap, berusaha mengumpulkan air ludah sebanyak-banyaknya. Setelah dirasa cukup banyak, Banu mendekatkan mulutnya kembali ke mulutku. Aku membuka mulutku seperti ikan yang megap-megap kekurangan air. Perlahan Banu membuka mulutnya. Aku dapat melihat air ludah yang mengucur keluar dari mulut Banu. Aku dekatkan mulutku dan aku satukan mulutku dengan mulut Banu. Aku tampung semua air ludah yang dikeluarkan oleh Banu. Aku katupkan mulutku lalu aku kecap-kecap sebentar kumpulan air ludah Banu yang berada di mulutku lalu aku menelannya. Aku dekap kepalanya lalu kami berciuman kembali. Aku rasakan di bawah, kontolnya kembali menegang. Sesaat kemudian, aku lepaskan dekapanku lalu aku dorong tubuh Banu ke bawah. "Buka celana dalam Ibu Nak. Ayo lakukan," aku meminta Banu untuk membuka celana dalamku. Banu mendekatkan kedua tangannya ke pahaku lalu menarik celana dalamku ke bawah. Aku mengangkat pantatku sedikit untuk memudahkan dirinya menelanjangiku. Tak sampai hitungan menit, celana dalamku sudah lepas dari tubuhku. Kini kami berdua sudah dalam keadaan telanjang bulat. Sekarang Banu benar-benar terpana melihat pemandangan paling indah yang tidak pernah dilihat atau bahkan diimpikan sepanjang hidupnya. Di hadapannya, sebuah vagina yang bersih karena tidak ada bulu-bulunya terpampang jelas di depan matanya. Aku melihat keragu-raguan di matanya. Seperti seorang guru yang sedang mengajari muridnya, aku dekatkan kepala Banu ke vaginaku. "Jangan bengong aja Nak. Cium memek ibu, jilat memek Ibu. Lakukan apa saja Nak," aku menyuruh Banu untuk melakukan aksinya. Tak lama, Banu mendekatkan kepalanya ke vaginaku dan mulai menciumi permukaan vaginaku. Aku mendesah pelan. Lima menit setelah puas menciumi seluruh permukaan vaginaku, Banu mengeluarkan lidahnya dan mulai menjilati vaginaku. Aku merasakan permukaan yang kenyal dan basah yang menyentuh vaginaku. Perasaanku semakin tidak karuan saja. Tangan kananku berusaha membantu. Dengan dua jari aku berusaha membuka vaginaku sehingga sekarang tidak hanya permukaanya saja yang tersapu oleh lidah Banu, tetapi lidah Banu juga mulai masuk ke dalam vaginaku. Banu bahkan bisa menggigit-gigit kecil. Nafasku semakin tidak beraturan. Tanpa diperintah, Banu memasukkan dua jari tangan kanannya ke vaginaku. Aku semakin tidak karuan saja. Dia mengocok-ngocok vaginaku sambil tetap menjilatinya. Pantatku bergoyang-goyang tidak karuan. Tidak puas hanya menjilati vaginaku saja, saat pantatku terangkat Banu juga menjilati lubang pantatku. Aku sebenarnya ingin melarangnya karena itu menjijikkan tetapi aku tidak sanggup karena nafsu sudah menguasaiku. Tidak sampai lima belas menit kemudian aku merasakan ada dorongan kuat dalam diriku. "Ahh.. Ibuu mauu keluuaar.. Naakk.." teriakku mendekati orgasmeku yang pertama. Serr.., ser.., air maniku muncrat keluar. Seakan tidak ingin mengecewakan Ibunya, Banu membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung muncratan air maniku. Beberapa semprotan sempat mengenai wajahnya. Mulutnya menggembung seakan tidak muat menampung banyaknya air maniku yang memang sudah tidak keluar selama beberapa hari. Aku mengira Banu akan menelan air maniku, tetapi ternyata pikiranku salah. Setelah yakin bahwa vaginaku sudah tidak mengeluarkan mani lagi, Banu mendekatkan kepalanya ke kepalaku. Aku masih belum tahu apa maksudnya. Tangan kanan Banu memegang pipiku memintaku untuk membuka mulutku. Aku dapat menebak apa maunya, dan entah mengapa aku mau saja membuka mulutku lebar-lebar. Banu membuka mulutnya sedikit demi sedikit. Dan sedikit demi sedikut pula, setetes demi setetes air maniku yang sudah ditampung Banu di mulutnya menetes ke mulutku. Aku menerima tetesan demi tetesan. Tak lama, Banu mendekatkan mulutnya dan menciumku dengan mulut yang sedikit terbuka. Air mani yang sudah berpindah tempat ke mulutku dipermainkannya. Lalu Banu membalik tubuhku sehingga kini aku berada di atas tubuhnya sambil kedua mulut kami masih tetap menyatu. Dalam posisi di atas Banu, mau tidak mau air maniku yang sudah berada di mulutku kembali mengucur ke mulutnya karena mulut kami berdua membuka. Tak menyia-nyiakannya, kali ini Banu langsung menelan semua air maniku yang tadi kami buat mainan di mulut kami berdua. Ditelannya semua air mani itu tanpa sedikitpun yang tersisa untukku. "Aahh.. Segar sekali air mani Ibu.. Enak Bu..," kata Banu sambil tersenyum di sela daesah nafasnya yang masih tidak teratur. "Kamu suka Nak? Ibu senang kalau kamu menyukainya. Peju kamu juga enak kok," kataku menimpali, sambil tersenyum kepadanya. Tak berlama-lama, aku turun ke bagian selangkangannya. Aku pegang kontolnya yang masih tegang seperti tiang bendera. Aku pegang kontol Banu dengan tangan kananku. Tidak menunggu lama, aku oral lagi kontol Banu. Banu kembali mendesah-desah mendapat perlakuan itu lagi. Aku memajumundurkan mulutku yang sedang menghisap kontol anakku. Sepuluh menit kemudian, aku minta Banu untuk berdiri dari sofa. Aku tidur telentang di sofa menggantikan dirinya. "Masukkan kontolmu sayang. Memek Ibu sudah pengen ngerasain kontol gedemu," pintaku kepada Banu sambl menyibakkan lubang vaginaku untuk memudahkan penetrasi yang akan dilakukan Banu. Banu memegang kontolnya dan bersiap-siap untuk mencobloskan ke vaginaku. Diusap-usapkannya ujung kontolnya di pintu masuk vaginaku dan.. Breess.. "Aahh..," teriakku ketika kontol gede itu menembus vaginaku. Sleep.. Sleep.. Plok.., suara kocokan kontol banu di vaginaku. "Enaakk.. Yaangg.. Teruss.. Kontolmu gede.. Naak.." aku meracau tidak karuan. Banu tidak berkata apa-apa. Hanya desahan-desahan yang semakin keras yang keluar dari mulutnya. Keringat deras membasahi tubuhnya. Aku pandangi wajahnya. Betapa tampannya anakku ini, dalam hati aku berpikir. Aku menggoyangkan pantatku untuk mengimbangi permainan Banu. Aku mengusap keringat yang membasahi wajahnya dengan kedua tanganku. Mungkin ini adalah kasih sayang seorang ibu. Lima belas menit kemudian, aku meminta Banu untuk mencabut kontolnya dari vaginaku. Banu melakukannya walaupun dengan keraguan. Lalu aku memintanya untuk tidur telentang di sofa. Setelah Banu tiduran, aku mengangkangi selangkangannya. Aku pegang kontol Banu, lalu aku mencoba untuk mengepaskan ke lobang vaginaku. Setelah aku rasa tepat, aku turunkan pantatku dan.., Bleess.. Kontol Banu kembali memasuki sarangnya. Aku menaikturunkan tubuhku untuk mengocok kontol Banu. Kedua gunung kembarku bergoyang naik turun seperti mau lepas. Aku pegang tangan Banu dan aku arahkan ke payudaraku. Banu sudah mengerti apa yang aku mau. Sambil menggerakkan pantatnya naik turun menyambut vaginaku, kedua tangan Banu bergerak aktif meremas-remas payudaraku. Hal ini semakin menambah rangsangan buatku dan.. Seerr.. Seer.. Seerr.., aku mengalami orgasme yang kedua. Tetapi Banu tampaknya tidak peduli dengan itu. Dia tetap saja menaikturunkan pantatnya. Aku biarkan saja dia meski sebenarnya aku ingin istirahat. "Bu, ganti posisi donk, Ibu turun dulu," kali ini Banu yang meminta untuk berganti posisi. Aku lepaskan jepitan vaginaku yang basah karena sudah orgasme. Banu berdiri dari sofa. "Sekarang Ibu berdiri menghadap sofa, lalu berpegangan ke sofa," pinta Banu. Aku yang masih tidak mengerti apa maksudnya mengikuti saja apa maunya. Setelah aku berposisi menungging sambil berpegangan ke sofa, Banu memasukkan kontolnya ke vaginaku dari belakang. "Aahhggh.. Hebatt.. Kamu naakk..", aku menjerit lagi. Kali ini dengan posisi yang belakangan aku ketahui bernama "Doggy Style" kami berdua melanjutkan 'olahraga' seks kami. Dari belakang Banu meremas-remas dan mengusap-usap pantatku. Ruangan ini dipenuhi dengan suara-suara erotis yang menandakan dua insan sedang beradu kenikmatan. Tak hanya meremas pantatku, dari belakang Banu juga meremas-remas kedua payudaraku. Aku pun tidak mau kalah. Vaginaku meremas-remas kontolnya yang sedang berada di dalamnya. Pantatku pun tidak mau tinggal diam. Aku memutar-mutar pantatku untuk menambah sensasi yang dirasakan oleh Banu. Rupanya apa yang aku lakukan itu membuat pertahanannya runtuh juga. Aku pun tidak bisa lagi menahan orgasmeku yang ketiga. "Sayaangghh Ibu mau keluaarr laggii..," aku menjerit keras ketika aku merasakan akan orgasme untuk yang ketiga kalinya. Seerr.. Seerr.. Aku merasakan vaginaku basah oleh air maniku sendiri. "Buu.. Aku juugaa mauu keluaarr..," teriak Banu. Mendengar itu aku segera saja meminta Banu untuk mencabut kontolnya. "Cabut kontolmu sayang.. Ibu mau minum air pejumu lagi..," aku memintanya. Banu segera mencabut kontolnya. Aku segera saja berbalik dan memasukkan kontolnya ke mulutku. Aku tidak peduli dengan air maniku yang masih menempel di kontolnya. Toh, rasanya juga enak. Sepuluh menit aku mengocok kontolnya dalam mulutku dan.. Croot.. Croot.. Croot.., sperma Banu menyemprot ke dalam rongga mulutku. Tidak sebanyak yang pertama memang, tapi aku tidak peduli. Semua sperma yang disemprotkan kontol Banu aku telan. Gurih dan wangi. Aku semakin menyukai rasa sperma dari anak-anakku. Setelah kontolnya tidak lagi mengeluarkan sperma, aku jilati kontolnya untuk membersihkannya. Banu lalu duduk di sofa dengan nafas yang tidak karuan. Aku memandangnya, dan dia pun memandangku. Aku tersenyum kepadanya, begitu juga dia. Aku suruh dia mendekat. Aku peluk dia seperti seorang kekasih yang lama tidak bertemu. "Terima kasih Nak. Ma'af, Ibu melakukan ini kepadamu. Kamu suka?" aku bertanya kepadanya. "Banu bahagia sekali meskipun Banu tidak tahu mengapa Ibu melakukan ini. Tapi Banu tidak peduli. Banu sayang sama Ibu," jawab Banu sambil tersenyum. "Tapi, bolehkah Banu melakukan ini lagi sama Ibu?" tanya anakku itu. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Toh, ini semua aku yang memulai. "Tentu saja sayang. Kapanpun kamu mau, selama tidak ada orang," jawabku sambil mengelus kepalanya. Selama kedua saudaranya tidak ada di rumah, aku dan Banu terus melakukan hubungan sedarah itu. Kami melakukannya di tempat tidur, di dapur, di kamar mandi di mana saja asal memungkinkan. Aku pasti akan menceritakan kelanjutan hubungan yang kami lakukan selama kedua saudaranya tidak ada di rumah dalam tulisan selanjutnya. Dan setelah kedua saudaranya pulang, ada satu kejutan besar yang aku lakukan. Aku menceritakan kepada mereka bertiga bahwa aku sudah bersebadan dengan ketiganya. Walau sangat terkejut mereka dapat menerimanya. Cerita tentang ini juga akan aku ceritakan dalam tulisanku selanjutnya. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman penulisku yang bersedia mendengar kisahku dan bersusah payah menuliskan cerita ini di 17Tahun.com. ***** Seperti yang diberitahukan oleh Surti, cerita selanjutnya akan segera penulis ceritakan di 17Tahun.com. Mohon maaf kepada pembaca yang ingin berkenalan dengan Surti, karena Surti tidak bisa melayaninya. Kepada para tante/wanita/cewek yang ingin berkenalan dengan penulis, silakan saja kirim mail ke alamat email penulis.






Ibuku punya seorang teman akrab namanya Ibu Rima (Nama Samaran) dia sering datang kerumah ataupun ibuku juga sering datang kerumah bu Rima. Bu Rima umurnya kira-kira sekitar 42 tahun , dan kini statusnya janda dengan mempunyai 2 orang anak yang umur anak pertamanya sebaya dengan aku dan anak keduanya umurnya 18 tahun. Suatu hari aku disuruh ibu untuk mengantarkan uang bu Rima yang seminggu lalu dipinjam ibuku karena pada waktu itu ibu kurang sehat jadi aku langsung yang disuruh untuk mengantar uang bu Rima. Dengan menaiki sepeda milik sepupuku aku langsung pergi kerumahnya bu Rima. Sesampainya didepan rumah bu Rima aku memarkir sepeda dibawah pohon yang ada dihalaman rumahnya. Lalu saya melangkahkan kaki menuju rumah yang terlihat pintu depannya terbuka, langsung saja aku mengucapkan salam. Selang beberapa menit aku kembali mengucapkan salam karena tidak ada satu orangpun yang keluar dari dalam rumah, tak lama kemudian terdengar suara dari ruang belakang suara balasan salam seorang wanita. Dari ruang belakangpun suara yang tadi terdengar kembali berkata masuk saja. Akupun dengan langkah agak lambat memaskui ruang tamu menuju kebelakang dimana suara tadi terdengar. Sesampainya di belakang aku terkejut ketika dari sebuah ruangan keluar sosok wanita yang setengah telanjang sebagian tubuhnya ditutupi handuk tapi handuk itu terlihat agak kecil ditubuh wanita itu hingga pahanya terangkat agak keatas yang membuat aku jadi semakin menikmati pemandangan itu rupanya dia baru saja keluar dari kamar mandi. "Eh... nak Idan, Maaf tadi ibu sementara mandi, kamu disuruh ibu kamu ya?" tanya bu Rima membuat aku tersadar dari khayalanku yang sedang memandangi tubuh bu Rima "I i i i ya bu, ini ada titipan uang untuk bu Rima dari ibu, yang seminggu lalu pernah dipinjam, kebetulan ibu lagi kurang sehat jadi saya yang disuruh untuk mengantarkan kepada ibu." jawabku sambil menyerahkan uang kepada bu Rima "Makasih yach, nak Idan udah repot-repot, silahkan duduk dulu ibu buatkan kopi dulu" "Biar saja bu saya mau cepat pulang, soalnya saya masih ada kerjaan dirumah, kalo begitu saya permisi dulu". Setelah menyerahkan uang sayapun begrgegas pulang kerumah. Dalam perjalanan pulang pikiran saya kembali mengkhayal kejadian tadi. Pikiranku jadi ngeras, saya membayangkan tubuh bu Rima walaupun sudah berumur 42 dan berstatus janda yang ditinggal mati suaminya 3 tahun yang lalu hingga sekarang tubuhnya masih terlihat padat, kulitnyapun masih halus belum berkerut. Saya mempercepat kayuh sepedaku ingin rasanya cepat sampai dirumah untuk melakukan onani karena sebenarnya sudah dari tadi saya sudah tidak tahan. Sesampainya dirumah aku langsung memberitahu ibu kalau uangnya sudah saya antar, dan langsung masuk kekamar dan mengunci pintunya. Penis saya ternyata sudah berdiri dengan tegang ketika celana jenas kubuka. Sambil membayangkan bu Rima kalau saja ia mengajak aku bermain sex dengan dia. Aku mengocok-ngocok penisku hingga beberapa menit kemudian air maniku keluar hingga membuat aku lemas terkulai. Beberapa saat kemudian aku membersihkan maniku yang tumpah dicelanaku. Aku kembali membayangkan kalau saja bu Rima mau mengajari aku bermain sex dengannya, mungkin itu hanya dalam mimpi saja. Tapi bagiku aku cukup senang bisa mengingat tubuh bu Rima sambil beronani. Hingga tanpa sadar khayalan itu membuat aku tertidur lelap. Hampir setiap hari setelah kejadian itu aku melakukan onani dengan mengkhayal aku sedang bermain sex dengan bu Rima. Beberapa minggu kemudian ibu menyuruh saya kerumah bu Rima untuk mengantarkan undangan rapat dikantor kelurahan untuk bu Rima. Tanpa banyak bicara lagi bercampur hati yang girang aku langsung pergi kerumahnya bu Rima dengan berjalan kaki menuju rumahnya bu Rima. Ketika aku sampai dirumahnya bu Rima pas ditengah perjalanan aku bertemu dengan salah satu anak bu Rima yang merupakan anak tertuanya. Dia menunggu angkot hendak pergi kekampus, sayapun langsung menyapa anaknya (sebut saja namanya Rini) "Rin Ibunya ada dirumah?" tanyaku"Ada, mau ketemu ibu ya?" jawab Rini. "Iya, aku disuruh ibuku mengantarkan undangan rapat untuk bu Rima" "Sudah kamu antar saja kerumah aku lagi buru-buru pergi kekampus soalnya aku ada ujian" "Iya, makasih ya kalau begitu saya kerumah kamu dulu". Setelah bercakap - cakap dengan anaknya bu Rima akupun mulai melangkahkan kakiku menuju rumah bu Rima yang beberapa saat itupun anak bu Rimapun sudah pergi dengan menaiki angkot. Sesampainya didepan pintu rumah yang saat itu terbuka lebar. Aku mengucapkan salam. 5 menit kemudian aku kembali mengucapkan karena belum ada jawaban dari orang yang didalam, hingga kira-kira hampir cukup lama aku menunggu balasan salam itu tetap tidak terdengar aku langsung masuk saja kedalam barangkali bu Rimanya lagi didapur hingga ia mungkin tidak mendengar kalau ada tamu. Aku berjalan memasuki ruang tamu dan terus berjalan untuk kedapur kalau saja bu Rimanya lagi didapur. Belum sempat aku sampai didapur dari sebuah kamar aku mendengar suara seperti orang yang sedang mendesah dan merintih kesakitan. Aku mencoba dan memastikan dari mana asal suara itu hingga aku dapat memastikan suara itu ternyata dari dalam kamar yang tertutup. Suara itu semakin terdengar jelas ditelingaku. Dalam hatiku bertanya-tanya suara siapa itu?. Aku jadi tambah penasaran ingin mencari tahu siapa yang ada dikamar itu. Tak tahan mendengar suara desahan itu saya mendekati kamar itu dengan sedikit keberanian saya mengintip dari lubang pintu tapi sulit terlihat orang yang ada didalam kamar itu. Semakin bertambah pula penasaranku untuk mencari tahu apa yang terjadi dikamar itu sampai aku mencoba menarik gagang pintu kamar yang ternyata pintunya tidak terkunci. Dengan hati-hati aku membuka pintu hingga akhirnya aku dapat melihat siapa orang yang ada dikamar itu. Ternyata suara itu adalah suara bu Rima, tapi kenapa dia merintih kesakitan ?. Aku jadi ingin lebih untuk memastikan apa yang dilakukan bu Rima. Perlahan-lahan aku lebih mendekat hingga jelaslah apa yang terlihat dimataku. Ternyata suara itu adalah suara bu Rima yang sedang melakukan masturbasi sambil memilin-milin buah dadanya yang dilapisi daster sambil satu tangan kirinya sedang asik sedang asik memainkan dibagian vaginanya yang menghadap kearah dinding kamar. Pemandangan itu membuat jantungku berdetak keras dan penisku langsung berdiri tegak. Bu Rima tidak menyadari kalau aku sedang mengintip dia sudah dari tadi dan dalam hatiku berkata mungkin ini kesempatan untukku dapat bermain sex dengan bu Rima akan jadi kenyataan. Maka timbullah niat untukku untuk mengerjainya. Akupun nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang. Bu Rima terkejut ternyata ada orang yang sudah lama mengintip apa yang dilakukannya dari tadi. "Eh..Idan..ini apa-apaan...." hardik bu Rima "Bu..tolongin saya dong, Bu..Tolongin ajari saya bermain sex dengan ibu" pintaku mencoba membujuknya "Ih..apaan sih..?!.." katanya lagi "Bu, udah lama saya pingin belajar ngesex sama ibu" bujukku lagi "tapi aku inikan teman ibumu.." kata Ibu Rima "Bu..tolong, Bu..please banget, saya akan jaga rahasia ini baik-baik" rayuku sambil tanganku mulai beraksi. Tanganku meremas-remas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34 b masih ditutupi daster sambil jariku memelintir putting susunya. bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya. Bu Rima mencoba menepis tanganku dan menghindari jilatan di dilehernya. "Jangan Idan... kita tidak boleh melakukan ini" kata bu Rima sambil menepis tanganku yang mulai nakal menjalar kebuah dadanya. Belum habis dia memohon padaku tapi tanganku yang satu lagi kumasukkan kedalam dasternya yang ternyata dia sudah tidak memakai CD lagi. Aku memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku. Batang penisku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan. Ibu Rima mulai bereaksi tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendor. Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua. Nafasnya memburu dan mulai mendesah-desah Oh..sshhtt..oghhh..sshhtt..ooghhh..sshhtt..ooohhhh.. "Nak Idan, tolong kamu kunci dulu pintunya, sekalian pintu depannya juga ibu takut nanti ada yang lihat kita" Dengan cepat-cepat aku menuju depan untuk mengunci pintu dan balik lagi kekamarnya langsung mengunci pintu kamar kembali menuju ranjang bu Rima. Aku langsung mendekati bu Rima dan membuka seluruh pakaianku hingga tiada yang tertinggal dan kami berduapun sudah telanjang bulat. "Bu, dasternya dilepasin saja ya bu?" Pintaku. Dengan beberapa gerakan saja bu Rima langsung melepaskan dasternya hingga tampaklah buah dada besar bu Rima yang membuat nafsuku bertambah naik. Dan aku mulai menghisap buah dadanya. "Achhh...terusss...nikmat Idan...oh, ayo..." Aku semakin bernafsu mendengar desahannya itu, sekitar 5 menit aku menikmati payudaranya. "Bu, saya jilat anunya Ibu ya?" "Enakkan, Bu..?" kataku "Kamu ternyata pintar juga ya, belajar dimana kamu?" "Saya biasa lihat-lihat difilm porno bu" sambil jari telunjukku terus bermain diklentitnya yang sudah mulai basah dan bibirku terus mencumbui bibirnya, lehernya, dan buah dadanya yang sangat menantang. "Bu, saya jilat vaginanya Ibu ya?" Kemudian aku mengangkat kedua kakinya dan mengarahkan mukaku ke liang vaginanya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya. Aku mulai menghisap vagina bu Rima yang tidak terlalu lebat itu, mungkin ia sering mencukurnya. "Achhh..terus..nikmat Idan..oh.., ayo.. teruss." Aku semakin bernafsu mendengar desahannya itu, sekitar 10 menit aku menikmati vaginanya. "Oh..sstt..jilat terus Vaginaku idan.." Pintanya sambil gemetaran. Bibirku langsung menjilati selangkangannya. Lidahku menjilati Vaginanya yang super becek. Saat lubang kemaluan itu tersentuh ujung lidahku, aku agak kaget karena lubang Vaginanya itu selain mengeluarkan aroma mawar rasanya pun agak manis-manis legit."ough..sshhtt..ough..hmpf.hh..ooghh.." Ibu Rima mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku. Dia sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja dia merasakannya. Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini. "Gimana bu, nikmatkan, Bu..?" Kataku "Hmh..kamu..ssshtt..kamu..kok..gak jijik..sih, Idan ?" tanyanya ditengah-tengah desah dan deru nafasnya. "Enggak, Bu..enak kok.. gimana enak gak kalau vagina ibu saya jilat?" Iyahh..aduh..sshhtt..eenak..banget..dan..sshhtt.." jawab Ibu Rima sambil terus merintih dan mendesah sambil tubuhnya bergoyang kesana kemari seperti cacing kepanasan. Kali ini aku kulum-kulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dgn lidahku. Aku lihat sekujur tubuh Ibu Rima seperti tersetrum dan mengejang. Memang gaya ini aku buat karena sering menonton film porno. Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalam-dalam klentitnya. Tak sampai disitu aku terobos liang vaginanya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang vaginanya. Seiring dengan liukanku pinggul Ibu Rima ikut juga bergoyang. "Ough..oughh..ough..ough..hmh..oufghh.." suara itu terus keluar dari mulut bu Rima menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan. "Idan..idan..lebih dalam lagi isapnya Ibu mau keluar". teriak bu Rima. Bu Rimapun telah mencapai orgasmenya bibir Vaginanya yang sebelah kutarik perlahan dengan bibirku, sambil kugigit dengan lembut. Dia benar-benar menikmati. "Aduh-aduh enak banget Idan". Lidahkupun mengaduk-aduk lubang Vaginanya yang sudah basah sekali dan sekali-sekali cairan vagina bu Rima kuhisap tanpa rasa jijik walaupun hal ini baru pertama kali aku lakukan. Aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang vaginanya. Baru aku arahkan batang penisku ke liang vaginanya tiba-tiba tangan halus Ibu Rima memegang batang penisku dan meremas-remasnya. "Auw..diapain, Bu..?" tanyaku "Enggak..ini supaya bisa lebih tahan lama.." katanya sambil mengurut batang penisku. Rasanya geli-geli nikmat bercampur sakit sedikit. Sepertinya hanya diremas-remas saja tetapi tidak ternyata ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang penis untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama. Memang bu Rima tahu kalau penisku tidak terlalu besar dan panjang tapi bagi dia itu tidak terlalu penting karena dia hanya ingin nafsunya dapat tercapai. Aku tidak terlalu terburu-buru menerobos liang vaginanya. Aku angkat kedua kaki Ibu Rima dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang vaginanya dengan batang penisku yang sedari tadi sudah keras dan kencang. Dengan satu sodokan saja tiba-tiba.. sleb - sleb - blesss! Batang penisku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang vagina Ibu Rima. "Aughh .. augh ..hgh..ogh..pelan-pelan, Dan .." kata Ibu Rima ditengah-tengah deru nafasnya yang sudah mulai tidak teratur. "Iya, Bu..sayang..egh..aku pelan-pelan kok.." kataku sambil perlahan-lahan memaju mundurkan pantatku hingga penisku masuk semua keliang vaginanya yang indah dan berwarna merah itu. "Ohhh ..ohhh..iya..sshh..pelan-pelan aja yah, sayang.." kata Ibu Rima yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburu-buru. Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu Rima berputar-putar seperti penyanyi dangdut. "Ough.., Bu..asyik..banget.. baru kali ini saya merasakan kenikmatan sex ! " kataku yang merasakan nikmatnya batang penisku diputar oleh pinggulnya dan jepitan vaginanya yang memutar-mutar penisku. "Ooogh.. sshtt..egh..sshh..hmh..ffhh..sshhtt..ough..sshhtt..oughh.. Ibu juga merasa nikmat sekali soalnya baru ini kali ibu ginian lagi" Ibu Rima terus merintih dan mendesah sambil matanya terpejam menikmati kenikmatan sexual yang nanti kali ini dia merasakan kembali setelah 3 tahun ditinggal suaminya. Baru sekitar 20 menit dia ingin aku berganti posisi. Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional. Diaupun mau menawarkan variasi lain padaku. Dia ingin berganti posisi diatas tubuhku. "Sayang..kamu capek..yah..?" tanya bu Rima"Gak.." jawabku singkat "Mo keluar yah..hi..hi..hi..?" godanya sambil mencubit pantatku "Gak..ih..aku gak bakalan keluar duluan deh.." kataku sesumbar "Awas..yah..kalo keluar duluan.." goda Ibu Rima sambil meremas-remas buah pantatku. "Enggak..deh..Ibu yang bakalan kalah sama aku.." kataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya "Auw..hi..hi..hi..pelan-pelan dong Idan" Ibu Rima memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin horny dengan berguling ke samping kini Ibu Rima sudah berada diatas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk diatas pinggulku. Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping. Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya. Buah dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku. Aku juga duduk dan meraih puting susu itu lalu ku jilat dan kukulum. Ibu Rima mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolah-olah kali ini cukup ia yang pegang kendali. Ibu Rima kembali meliuk-liukkan pinggulnya memutar-mutar seperti Inul Daratista. "Gila, Bu..nikmat banget..!" kataku sambil terus menikmati permainan sex yang diberikan bu Rima. Pinggulnya memainkan batang penisku yang berada didalam liang vaginanya. Tanganku meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya. Batang penisku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi. Ini berkat pijatan dari Ibu Rima tadi itu. Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi. "Sshtt..emh..enagh..egh..sshhtt..ough..iyaahh..eeghh..enaxx..ough.." liukan pinggul Ibu Rima yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan. "Ough..iiiyyaahh..egghhhh..eghmmmhhff..sshhtt..ough..aku udah mo nyampe.." kata Ibu Rima "Bu..aku juga pengen, Bu..egh.." kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku. "Egh..iyah .. bagusshh..sayangg..ough..sshhtt..ough..sshtt..ough.." Ibu Rima merespons gerakanku untuk membantunya orgasme. Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang penisku untuk keluar juga. "Aaaughh..ough..ough..ough ..iya..teruss" Ibu Rima telah sampai pada orgasmenya. Pada batang penisku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang penisku. Ibu Rima menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dengan erangan yang panjang dan nafasnya yang tersengal-sengal seperti orang yang kelelahan. Ibu Rima telah berhenti melakukan liukan pinggulnya. Hanya denyutan-denyutan kencang didalam liang vaginanya. Aku merasakan denyutan-denyutan itu seperti menyedot-nyedot batang penisku. "Bu, saya juga sedikit lagi mau keluar, saya keluarin didalam aja bu ya ?" Dan.. crot..crott..crottt..!!! muncrat semua air maniku diliang vagina Ibu Rima. "Bu, kerasa nggak air mani saya muncratnya..?" tanyaku "Eh..iya, Idan sayang..Ibu udah lama pengen beginian.." kata Ibu Rima "Iya..sekarang kan udah, Bu.." kataku sambil mengecup keningnya "Oh..kamu..hebat banget deh Idan, biar penis kamu nggak terlalu besar tapi ibu puas main dengan kamu" Kata Ibu Rima sambil membelai-belai rambutku dan aku memainkan puting susunya."Itu semua kan karena Ibu, Ibu juga hebat apalagi baru kali ini saya juga pingin sekali ginian" kataku memujinya "Ih..bisa aja..kamu..kita istirahat dulu" sahut Ibu Rima sambil mencubit pinggulku dan turun dari tubuhku. Ibu Rima masih diatas tubuhku ketika HP-ku berbunyi ternyata dari ibuku yang menanyakan kalo undangannya sudah aku antar kepada bu Rima langsung saja kujawab sudah dari tadi saya antar Cuma sekarang aku masih dirumah temanku. Setelah telepon aku tutup bu Rima menanyakan kalo ibuku tanya apa tadi, akupun bilang sebenarnya aku disuruh untuk mengantar undangan untuk bu Rima. Akupun mengambil kertas undangannya ibu Rima dan sebungkus rokokku yang ada di celana jeansku. Ibu Rima langsung membaca isi undangan itu sambil aku menghisap rokokku yang baru saja kuambil dan tanganku yang satunya pun menjalar diputing susunya, sampai akhirnya tanganku sampai kevaginanya dan mengaduk-ngaduk tanganku didalam liang vaginanya. Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya lagi sepanjang siang hingga menjelang malam kami sama-sama kelelahan dan bu Rima sangat senang sekali main denganku. Entah sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi. Bu Rima banyak mengajari banyak gaya padaku sampai kami masih melakukannya lagi dikamar mandi. Sampai-sampai aku disuruhnya untuk memasukkan penisku kelubang anusnya yang membuat dia lebih puas ngesex dengan aku, bahkan ketika aku akan pulangpun dia masih mau kalau vaginanya saya jilati dan kami melakukannya lagi sambil berdiri sampai bu Rima orgasme dua kali. Hal itu aku tidak mau lewatkan. Sebelum aku pulang bu Rima berpesan untuk menjaga rahasia ini baik-baik, dan setelah kejadian ini dia meminta aku bahwa perbuatan ini hanya satu kali ini saja dilakukan karena dia takut orang nanti akan tahu terlebih oleh kedua anaknya. Akupun mengiyakan permintaan bu Rima itu sambil mengucapkan terima kasih karena sudah mau mengajari aku. Setelah kejadian itu hubungan saya dengan bu Rima tetap baik-baik saja tapi aku tidak pernah meminta bu Rima melakukan itu lagi karena akupun sangat menghargai dia dan itu adalah pengalaman yang tidak pernah aku lupakan hingga sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi baik dengan bu Rima ataupun dengan orang lain.

===================================================================================
Telah sebulan lamanya Andi, seorang pemuda tampan rupawan, berkenalan dengan wanita paruh baya berumur empat puluh lima tahun bernama Bu Henny, istri seorang pejabat teras pemerintah pusat di Jakarta. Berawal saat mereka bertemu di sebuah department store di kawasan Senen dekat tempat Andi bekerja. Ketika itu Andi dengan tidak sengaja menolong Bu Henny waktu wanita itu mencari sesuatu yang terjatuh dari tas tangan yang dibawanya. Dari pertemuan itulah kemudian keduanya memulai hubungan teman yang kini berkembang menjadi lebih erat, perselingkuhan! Pemuda lajang yang berwajah tampan itu telah membuat Bu Henny jatuh hati hingga tak dihiraukannya lagi status dirinya sebagai istri seorang pejabat. Ditambah dengan kebiasaan buruk dan kondisi keluarganya yang memang penuh pertengkaran akibat suami yang doyan menyeleweng seperti layaknya kebiasaan para pejabat pemerintah yang tak pernah lepas dari perihal korupsi, kolusi, nepotisme dan perilaku seks yang selama ini selalu diarahkan pada generasi muda sebagai kambing hitam. Pertemuan pertama yang begitu mengesankan bagi kedua orang itu telah membawa mereka mengarungi petualangan demi petualangan cinta yang dari hari ke hari semakin membuat mereka mabuk asmara. Kencan-kencan rahasia yang selalu mereka lakukan di saat suami Bu Henny melakukan tugas ke luar negeri telah menjadi sebuah jadwal rutin bagi keduanya untuk semakin mendekatkan diri. Nafsu seksual Bu Henny yang meledak-ledak dan terpendam, menemukan tempat yang begitu ia impikan semenjak bertemu pemuda itu. Sebagai pemuda lajang yang juga masih memiliki keinginan libido seksual yang tinggi, Andipun tak kalah menikmatinya. Bu Henny seperti memberi semua yang pemuda itu dambakan. Kepuasan seksual yang ia peroleh dari hubungannya dengan istri pejabat itu benar-benar telah membuat hidupnya bahagia. Dendam pribadinya sebagai anak muda yang merasa sangat tertipu oleh para pejabat negara seperti terlampiaskan dengan melakukan perselingkuhan itu. Ditambah lagi dengan pesona tubuh Bu Henny yang sangat ia sukai. Sesuai dengan seleranya yang suka pada tubuh montok ibu-ibu dengan postur tubuh bahenol dan payudara besar seperti yang dimiliki wanita itu benar-benar pas seperti seleranya. Postur tubuh Bu Henny yang bongsor dengan pantat, pinggul dan buah dada yang besar memang telah membuat Andi menjadi gila seks hingga dalam setiap hubungan badan yang mereka lakukan keduanya selalu menemukan kepuasan seks yang hebat. Apalagi dengan bentuk kemaluan yang besar dan sangat panjang dari Andi semakin membuat Bu Henny tak pernah puas dan selalu haus dengan hubungan seksual mereka. Kemaluan Andi yang besar dan panjang serta kemampuannya menaklukkan nafsu kewanitaan Bu Henny hingga wanita itu harus bangkit lagi untuk mengimbangi permainan Andi telah melahirkan gairah yang selalu membara pada diri wanita itu. Tak bosan-bosannya mereka melakukan persetubuhan dimana mereka merasa aman dan nyaman. Hari-hari kedua insan yang mabuk kepuasan seks itupun berjalan lancar dan penuh kenikmatan. Bulan November tahun 1996, Andi meminta cuti selama satu minggu. Pemuda tampan itu telah sebulan sebelumnya merencanakan untuk menghabiskan liburan di sebuah pulau kecil lepas pantai Bali. Perusahaan tempat ia bekerja memberinya tiket gratis untuknya. Sementara di lain tempat, suami Bu Henny mendapat tugas ke luar negeri untuk jangka waktu yang cukup panjang. Hingga saat Andi mengatakan rencananya pada wanita itu Bu Henny langsung menyambutnya dengan penuh suka cita. Dengan gemas ia membayangkan apa yang akan mereka lakukan di pulau kecil itu. Dengan kemewahan hotel berbintang lima yang eksklusif, tak tertahankan rasanya untuk segera melakukan hal itu. Benaknya kian dipenuhi bayangan kebebasan seks yang akan ia tumpahkan bersama Andi. Tiba saatnya mereka berangkat ke Bali, keduanya bertemu di airport dan langsung berpelukan mesra sepanjang perjalanan. Tak terasa penerbangan satu jam lebih itu telah membawa mereka sampai di tujuan. Bagaikan sepasang pengantin baru keduanya begitu mesra hingga feri yang membawa mereka menuju pulau Nusa Lembongan itu telah merapat di sebuah dermaga kecil tepat di depan hotel tempat mereka menginap. Keduanya langsung menuju lobby dan melakukan prosedur check in. Tergesa-gesa mereka masuk ke sebuah bangunan villa yang telah dipesan Bu Henny dan langsung menghempaskan tubuh mereka di tempat tidur. Dengan nafas yang terdengar turun naik itu keduanya langsung bergumul dan saling mengecup. Bibir mereka saling memagut disertai rabaan telapak tangan ke arah bagian-bagian vital tubuh mereka. Saat tangan Bu Henny meraba punggung Andi, pemuda itu dengan perlahan melepaskan kancing gaun terusan yang dikenakan Bu Henny hingga gaun itu terlepas dari tubuhnya. Kini tampak tubuh putih mulus dan bahenol itu terbuka. Dadanya yang membusung ke depan dengan buah payudara yang besar masih dilapisi BH putih berenda itu terlihat semakin menantang dan membuat nafsu Andi semakin tak tertahan. Disingkapnya BH itu kebawah hingga buah dada Bu Henny tersembul dihadapannya. Bibir Andi langsung menyambut dengan kecupan. "aahh..., hhmm", desah Bu Henny, kecupan Andi membuatnya merasakan kenikmatan khas dari mulut pemuda itu saat Andi mulai menyedot putingnya. Perempuan itu terus mendesah sambil berusaha melepaskan celana yang dikenakan Andi, setelah berhasil melepaskan celana panjang itu tangan Bu Henny langsung meraih batang penis Andi yang telah tegang mengeras. Dirabanya lembut sambil mengusap-usap kepala penis yang begitu disukainya itu. "ooohh..., Bu..., ooohh", kini desahan Andi terdengar menimpali desahan Bu Henny, kecupan pemuda itupun kini menuju ke arah bawah dada Bu Henny yang terus-menerus mendesah menahan nikmatnya permainan lidah Andi yang terasa menari di permukaan kulitnya. Perlahan pemuda itu menuju ke daerah bawah pusar Bu Henny yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari sekitar daerah kemaluannya. Dengan pasrah Bu Henny mengangkang membuka pahanya lebar untuk memberi jalan pada Andi yang semakin asik itu. Jari tangan pemuda itu kini menyibak belahan kemaluan Bu Henny yang menantang, dan dengan penuh nafsu ia mulai menjilati bagian dalam dinding vagina wanita paruh baya itu. Andi tampak begitu buas menyedot-nyedot clitoris diantara belahan vagina itu sehingga Bu Henny semakin tampak terengah-engah merasakannya. "uuuhh..., uuuhh..., uuuhh..., ooohh..., ooohh..., teruuusss sedooot sayaang..., ooohh pintaar kamu Andi..., ooohh", kini terdengar Bu Henny setengah berteriak. Andi semakin terlihat bersemangat mendengar teriakan nyaring Bu Henny yang begitu menggairahkan. Seluruh bagian dalam dinding vagina yang berwarna kemerahan itu dijilatnya habis sambil sesekali tangannya bergerak meraih susu Bu Henny yang montok itu, dengan gemas ia meremas-remasnya. Kenikmatan itupun semakin membuat Bu Henny menjadi liar dan semakin tampak tak dapat menguasai diri. Wanita itu kini membalik arah tubuhnya menjadi berlawanan dengan Andi, hingga terjadilah adegan yang lebih seru lagi. Kedua insan itu kini saling meraih kemaluan lawannya, Andi menjilati liang vagina Bu Henny sementara itu Bu Henny menyedot buah penis pemuda itu keluar masuk mulutnya. Ukuran penis yang besar dan panjang itu membuat mulutnya penuh sesak. Ia begitu menyenangi bentuknya yang besar, penis yang selalu membuatnya haus. Buah penis itulah yang selama ini dapat memuaskan nafsu birahinya yang selalu membara. Dibanding milik suaminya tentulah ukuran penis Andi jauh lebih besar, penis suaminya tak lebih dari satu perlima ukuran penis pemuda itu. Ditambah lagi dengan kemampuan Andi yang sanggup bertahan berjam-jam sedang suaminya paling hanya dapat membuat wanita itu ngos-ngosan. Sungguh suatu kepuasan yang belum pernah ia rasakan dari siapapun seumur hidupnya selain dari Andi. Belasan menit sudah mereka saling mempermainkan kemaluan masing-masing membuat keduanya merasa semakin ingin melanjutkan indehoy itu ketahap yang lebih hebat. Bu Henny bahkan tak sadar bahwa ia belum melepas sepatu putih yang dikenakannya dalam perjalanan. Nafsu mereka yang telah tak tertahankan itu membuat keduanya seperti tak peduli akan hal-hal lain. Bu Henny kini langsung menunggangi Andi dengan arah membelakangi pemuda itu. Digenggamnya sejenak penis Andi yang sudah tegang dan siap bermain dalam vaginanya itu, lalu dengan penuh perasaan wanita itu menempelkannya di permukaan liang vaginanya yang telah basah dan licin, dan "Sreeeppp bleeesss", penis Andi menerobos masuk diiringi desahan keras dari mulut mereka yang merasakan nikmatnya awal senggama itu. "ooo..., hh...", teriak Bu Henny histeris seketika merasakan penis itu menerobos masuk ke liang vaginanya yang seakan terasa sangat sempit oleh ukuran penis pemuda itu. "aahh..., Buu..., enaakkk", Balas Andi sambil mulai mengiringi goyangan pinggul Bu Henny yang mulai turun naik di atas pinggangnya. Matanya hanya menatap tubuh wanita itu dari belakang punggungnya. Tangan Andi meraih pinggang Bu Henny sambil membelainya seiring tubuh wanita itu yang bergerak liar di atas pinggang Andi. "Ohh Andi..., ooohh sayang..., enaaknya yah sayang ooohh..., ibu suka kamu sayang ooohh..., enaknya And..., penis kamu enaakkk", desah Bu Henny sambil terus bergoyang menikmati penis Andi yang terasa semakin lezat saja. Andipun tak kalah senang menikmati goyangan wanita itu, mulutnya juga terdengar mendesah nikmat. "aauuu..., ooohh vagina ibu juga nikmat, oooh lezatnya oohh bu, ooohh goyang terus bu..". "Sini tanganmu sayang remas susu ibu..", tangan Bu Henny menarik tangan Andi menuju buah dadanya yang menggantung dan bergoyang mengikuti irama permainan mereka. Andi meraihnya dan langsung meremas-remas, sesekali puting susu itu dipilinnya. Bu Henny semakin histeris",aauuu..., ooohh enaak, remeeess teruuus susu ibu Andi..., ooohh..., nikmat..., ooohh Andi". "Ohh Bu Henny..., ooohh Bu enaknya goyang ibu ooohh terus goyang ooohh sampai pangkal bu ooohh..., tekan lagi ooohh angkat lagi ooohh..., mmhh ooohh vaginanya enaakkk bu ooohh", teriak Andi mengiringinya, kamar villa yang luas itu kini penuh oleh teriakan nyaring dan desahan bernafsu dari kedua insan yang sedang meraih kepuasan seks secara maksimal itu. Bu Henny benar-benar seperti kuda betina liar yang baru lepas dari kandangnya. Gerakannya diatas tubuh Andi semakin liar dan cepat, menunjukkan tanda-tanda mengalami klimaks permainannya. Sementara itu Andi hanya tampak biasa saja, pemuda itu masih asik menikmani goyangan liar Bu Henny sambil meremasi payudara wanita itu bergiliran satu per satu. Lima belas menit saja adagan itu berlangsung kini terlihat Bu Henny sudah tak dapat lagi menahan puncak kenikmatan hubungan seksual itu. Lalu dengan histeris wanita itu berteriak keras dan panjang mengakhiri permainannya. "ooouuu..., ooo..., aa..., iiihh..., ibu keluaarrr..., ooo..., nggak tahaann laagiii enaaknyaa Andi..., ooohh", teriaknya panjang setelah menghempaskan pantatnya ke arah pinggang Andi yang membuat kepala penis pemuda itu terasa membentur dasar liang rahimnya, cairan kental yang sejak tadi ditahannya kini muncrat dari dalam rahim wanita itu dan memenuhi rongga vaginanya. Sesaat Andi merasakan vagina Bu Henny menjepit nikmat lalu ia merasakan penisnya tersembur cairan kental dalam liang kemaluan wanita itu, vagina itu terasa berdenyut keras seiring tubuh Bu Henny yang mengejang sesaat lalu berbah lemas tak berdaya. "ooohh An, ibu nggak kuat lagi..., Istirahat dulu ya sayang?", pintanya pada Andi sambil melepaskan gigitan vaginanya pada penis pemuda itu. "Baiklah Bu", sahut Andi pendek, ia mencoba menahan birahinya yang masih membara itu sambil memeluk tubuh Bu Henny dengan mesra. Penis pemuda itu masih tampak berdiri tegang dan keras. Dengan mesra dicumbunya kembali Bu Henny yang kini terkapar lemas itu. Andi kembali meraba belahan kemaluan Bu Henny yang masih basah oleh cairan kelaminnya, jarinya bermain mengutil titik kenikmatan di daerah vagina wanita itu. Bibirnyapun tak tinggal diam, ia kembali melanjutkan jilatannya pada sekitar puting susu Bu Henny. Sesekali diremasnya buah dada berukuran besar yang begitu disenanginya itu. Kemudian beberapa saat berlalu, Bu Henny menyuruhnya berjongkok tepat di atas belahan buah dada itu, lalu wanita itu meraih sebuah bantal untuk mengganjal kepalanya. Ia meraih batang penis Andi yang masih tegang dan mulai mengulumnya, tangan wanita itu kemudian meraih payudaranya sendiri dan membuat penis Andi terjepit diantaranya. Hal itu rupanya cukup nikmat bagi Andi sehingga ia kini mendongak menahan rasa lembut yang menjepit buah penisnya. Sementara itu tangan pemuda itu terus bermain di permukaan vagina Bu Henny, sesekali ia memasukkan jarinya ke dalam liang kemaluan itu dan mempermainkan clitorisnya sampai kemudian beberapa saat lamanya tampak Bu Henny mulai bangkit kembali. "Hmm..., Andi, kamu memang pintar sayang, kamu buat ibu puas dan nyerah, sekarang kamu buat ibu kepingin lagi, aduuuh benar-benar hebat kamu An", puji Bu Henny pada Andi. "Saya rasa suasana ini yang membuat saya jadi begini Bu, saya begitu menikmatinya sekarang, nggak ada rasa takut, kuatir ketahuan suami ibu atau waswas. Ibu juga kelihatan semakin menggairahkan akhir-akhir ini, saya semakin suka sama badan ibu yang semakin montok" "Ah kamu bisa aja, An. Masa sih ibu montok, yang bener aja kamu". "Bener lho, Bu. Saya begitu senang sama ibu belakangan ini, rasanya kenikmatan yang ibu berikan semakin hari semakin hebat saja". "Mungkin ibu yang semakin bersemangat kalau lagi main sama kamu, gairah ibu seperti meledak-ledak kalau udah main sama kamu. Tapi, ayo dong kita mulai lagi, ibu jadi mau main lagi nih kamu bikin. iiih hebatnya kamu sayang", kata Bu Henny sambil mengajak Andi kembali membuka permainan mereka yang kedua kali. Masih di atas tempat tidur itu, kini Andi mengambil posisi di atas Bu Henny yang berbaring menghadapnya. Tubuhnya siap menindih tubuh Bu Henny yang bahenol itu. Perlahan tapi pasti Andi masuk dan mulai bergoyang penuh kemesraan. Di raihnya tubuh wanita itu sambil menggoyang penuh perasaan. Sepasang kemaluan itu kembali saling membagi kenikmatannya. Suara desahan khas mulai terdengar lagi dari mulut mereka, diiringi kata-kata rayuan penuh nikmat dan gairah cinta. Kini Andi semakin garang meniduri wanita itu. Gerakannnya tetap santai namun genjotan pinggulnya pada tubuh Bu Henny tampak lebih bertenaga. Hempasan tubuh Andi yang kini turun naik di atas tubuh Bu Henny sampai menimbulkan suara decakan pada permukaan kemaluan mereka yang beradu itu. Bibir mereka saling pagut, kecupan disertai sedotan di leher keduanya semakin membuat suasana itu menjadi tegang dan menggairahkan. Teriakan-teriakan nyaring keluar dari mulut Bu Henny setiap kali Andi menekan pantatnya ke arah pinggul wanita itu. Beberapa saat lamanya mereka lalu berganti gaya. Bu Henny menempatkan dirinya di atas tubuh Andi, dibiarkannya Andi menikmati kedua buah dadanya yang menggantung. Dengan leluasa kini pemuda itu menyedot puting susu itu secara bergiliran. Tak puas-puasnya Andi menikmati bentuknya yang besar itu, ia begitu tampak bersemangat sambil sebelah tangannya meraba punggung Bu Henny. Buah dada besar dan lembut nan mulus itupun menjadi kemerahan akibat sedotan mulut Andi yang bertubi-tubi di sekitar putingnya. Sementara Bu Henny kini asik bergoyang mempermainkan irama tubuhnya yang turun naik bergoyang ke kiri kanan untuk membagi kenikmatan dari kemaluan mereka yang sedang beradu. Penis Andi yang tegang dan keras itu seakan bagai batang kayu jati yang tak tergoyahkan. Sekuat wanita itu mendorong ke arah pinggul Andi sekuat itu pula getaran rasa nikmat yang diperolehnya dari pemuda itu. "ooohh...,ooohh..., ooohh..., enaknya Andi..., ooohh enaknya penis kamu sayang..., ibu ketagihan..., oohh lezatnya..., aahh..., uuuhh..., sedooot teruuus susu ibu..., ooohh sayang ooohh", desah Bu Henny bercampur jeritan menahan rasa nikmat dari goyang pinggulnya di atas tubuh Andi. Untuk kesekian kalinya sensasi kenikmatan rasa dari penis Andi yang besar dan panjang itu seperti bermain di dalam liang vaginanya. Liang kemaluan yang biasanya hanya merasakan sedikit geli saat bersenggama dengan suaminya itu kini seperti tak memiliki ruang lagi oleh ukuran penis pemuda itu. Seperti biasanya saat dalam keadaan tegang penuh, penis Andi memang menjadi sangat panjang hingga Bu Henny selalu merasakan penis itu sampai membentur dasar liang rahimnya yang paling dalam. Dan keperkasaan pemuda itu yang sanggup bertahan berjam-jam dalam melakukan hubungan seks itu kini kembali membuat Bu Henny untuk kedua kalinya mengalami ejakulasinya. Dengan gerakan yang tiba-tiba dipercepat dan hempasan pinggulnya ke arah tubuh Andi yang semakin keras, wanita itu berteriak panjang mengakhiri ronde kedua permainannya. "aahh..., ahh..., aa..., aahh..., ibu ke..., lu.., ar laagiii..., ooohh..., kuatnya kamu sayang ooohh". jeritnya kembali mengakhiri permainan itu."ooohh bu..., enaak ooohh vagina ibu nikmat jepitannya oooh hh...", balas Andi sambil ikut menggenjot keras menambah kenikmatan puncak yang dialami bu Henny. Pemuda itu masih saja tegar bergoyang bahkan saat Bu Henny telah lemas tak sanggup menahan rasa nikmat yang berubah menjadi geli itu. "aawww..., geliii..., Andi stop dulu, ibu istirahat dulu sayang ohh gila kamu And, kok bisa kayak gini yah?". "Habiiis ibu sih goyangnya nafsuan banget, jadi cepat keluar kan?". "Nggak tahu ya An, ibu kok nafsunya gede banget belakangan ini, sejak ngerasain penis kamu ibu benar-benar mabuk kepayang...", kata Bu Henny sambil menghempaskan tubuhnya di samping Andi yang masih saja tegar tak terkalahkan. "Sabar Bu, saya bangkitkan lagi deh..", seru pemuda itu sekenanya. "Baiklah An, ibu juga mau bikin kamu puas sama pelayanan ibu, biar adil kan? Sini ibu karaoke penis kamu..., aduuuh jagoanku..., besar dan panjang ooohh..., hebatnya lagi", lanjut Bu Henny sambil beranjak meraih batang kemaluan Andi yang masih tegang itu lalu memulai karaoke dengan memasukkan penis Andi ke mulutnya. Andi kembali merasakan nikmat dari permainan yang dilakukan wanita itu dengan mulutnya, penis besarnya yang panjang dan masih tegang itu dikulum keluar masuk dengan buas oleh Bu Henny yang tampaknya telah sangat berpengalaman dalam melakukan hal itu. Sambil berlutut pemuda itu menikmatinya sembari meremas kedua buah payudara Bu Henny yang ranum itu. Telapak tangannya merasakan kelembutan buah dada nan ranum yang begitu ia sukai. Dari atas tampak olehnya wajah wanita paruh baya yang cantik itu dengan mulut penuh sesak oleh batang penisnya yang keluar masuk. Sesekali Bu Henny menyentuh kepala penis itu dengan giginya hingga menimbulkan sedikit rasa geli pada Andi. "Auuuww..., nikmat Bu sedot terus aahh, aduuuh enaknya". "mm..., mm..", Bu Henny hanya bisa menggumam akibat mulutnya yang penuh sesak oleh penis Andi. Andi terlihat begitu menikmati detik demi detik permainannya, ia begitu menyenangi tubuh bongsor wanita yang berumur jauh lebih tua darinya itu. Nafsu birahinya pada wanita dewasa seperti Bu Henny memang sangat besar. Ia tak begitu menyenangi wanita yang lebih muda atau seumur dengannya. Andi beranggapan bahwa wanita dewasa seperti Bu Henny jauh lebih nikmat dalam bermain seks dibanding gadis ABG yang tak berpengalaman dalam melakukan hubungan seks. Setiap kali ia melakukan senggama dengan Bu Henny ia selalu merasakan kepuasan yang tiada duanya, wanita itu seperti sangat mengerti apa yang ia inginkan. Demikian pula Bu Henny, baginya Andi-lah satu-satunya pria yang sanggup membuatnya terkapar di ranjang. Tak seorangpun dari mantan kekasih gelapnya mampu membuat wanita itu meraih puncak kepuasan seperti yang ia dapatkan dari Andi. Sepuluh menit sudah Andi di karaoke oleh Bu Henny. Kemudian kini mereka kembali mengatur posisi saat wanita itu kembali bangkit untuk yang ketiga kalinya. Ia yang telah terkapar dua kali berhasil dibangkitkan lagi oleh pemuda itu. Inilah letak keperkasaan Andi. Ia dapat membuat lawan mainnya terkapar beberapa kali sebelum ia sendiri meraih kepuasannya. Pemuda itu sanggup bermain dalam waktu dua jam penuh tanpa istirahat. Sejenak mereka bermain sambil berdiri, saling menggoyang pinggul, mirip sepasang penari samba. Namun kemudian dengan cepat mereka menuju kamar mandi dan masuk ke dalam bak air hangat yang luas, sembari mengisi bak rendam itu dengan air mereka melanjutkan permainannya di situ, mereka masuk ke dalam bak dan langsung mengatur posisi di mana Andi menempatkan diri dari belakang dan memasukkan penisnya dari arah pantat Bu Henny. Adegan seru kembali terjadi, teriakan kecil menahan nikmat itu terdengar lagi dari mulut Bu Henny yang merasakan genjotan Andi yang semakin nikmat saja. Diiringi suara tumpahan air dari kran pengisi bath tube itu suasana menjadi semakin menggairahkan. "aahh..., nikmat An, aahh..., ooohh penis kamu sayang ooohh enaak, mmhh lezaatnya ooohh..., genjot yang lebih keras lagi dong..., ooohh enaak", teriak Bu Henny sejadi-jadinya saat merasakan nikmat di liang vaginanya yang dimasuki penis pemuda itu. Andi juga kini tampak lebih menikmati permainannya, ia mulai merasakan kepekaan pada penisnya yang telah membuat Bu Henny menggapai puncak dua kali itu. "Ooohh..., Bu..., vagina ibu juga nikmat sekali..., ooohh saya mulai merasa sangat nikmat ooohh..., mmhh..., Bu ooohh, Bu Henny ooohh ibu cantik sekali ooohh..., saya merasa bebas sekali", oceh mulut Andi menimpali teriakan gila dari Bu Henny yang juga semakin mabuk oleh nikmatnya goyang tubuh mereka. Keduanya memang tampak liar dengan gerakan yang semakin tak terkendali. Beberapa kali mereka merubah gaya dengan beragam variasi seks yang sangat atraktif. Kadang di pinggiran bath tub itu Bu Henny duduk mengangkang dengan pahanya yang terbuka lebar sementara Andi berjongkok dari depannya sambil menggoyang maju mundur, mulutnya tak pernah lepas menghisap puting susu Bu Henny yang montok dan besar itu. Bunyi decakan cairan kelamin yang membeceki daerah pangkal kemaluan yang sedang beradu itupun kini terdengar bergericik seiring pertemuan kemaluan mereka yang beradu keras oleh hempasan pinggul Andi yang menghantam pangkal paha Bu Henny. "Aduuuhh Annndiii..., enaaknya goyang kamu sayang ooohh..., teruuus..., aahh genjot yang keraass..., ooohh sampai puaasss..., hhmm enaakk sayangg..., mmhh nikmaatttnya..., ooohh..., enaknya genjotan kamu..., ooohh..., Andi sayang oooh kamu pintar sekali ooohh ibu nggak mau berhenti sama kamu..., ooohh.., jagonya kamu sayang ooohh genjot terus yang keras". "Ohh Bu Henny, ibu juga punya tubuh yang nikmat, nggak mungkin saya bosan sama ibu, ooohh..., apalagi susu ini..., ooohh mm..., enaknya..., baru sekali ini saya ketemu wanita cantik manis dengan tubuh yang begitu aduhai seperti ibu, oooh Bu Henny..., goyang ibu juga nikmat sekali oooh meski ibu sudah punya anak tapi vagina ini rasanya nikmat sekali bu, ooohh susu ibu juga mm..., susu yang paling indah yang pernah saya lihat..., auuuhh enaaknya vagina ini..., ooohh..., penis saya mulai sedikit peka bu", balas Andi memuji wanita itu. Keduanya terus saling menggoyang sambil memuji kelebihan masing-masing, ocehan mereka berkisar pada kenikmatan seks yang sedang mereka alami saat ini. Andi memuji kecantikan dan kemolekan tubuh Bu Henny, sedang wanita itu tak henti-hentinya memuji keperkasaan dan kenikmatan yang ia dapatkan dari Andi. Beberapa saat berlalu, mereka kembali merubah variasi gayanya menjadi gaya anjing, Bu Henny menunggingkan pantatnya ke arah Andi lalu pemuda itu menusukkan kemaluannya dari arah belakang. Terjadilah adegan yang sangat panas saat Andi dengan gerakan yang cepat dan goyang pinggul yang keras memnghantam ke arah pantat Bu Henny. Wanita itu kini menjerit lebih keras, demikian pula dengan Andi yang saat ini mulai merasakan akan menggapai klimaks permainannya. "ooohh..., ooohh..., ooohh..., aauuuhh..., ennnaakkk..., An.. Di sayang..., genjooot..., ibu mau keluaar lagii..., ooohh..., nggaak tahan lagi sayang..., nikmaat ooohh", jerit nyaring Bu Henny yang ternyata juga sedang mengalami ejakulasi, vaginanya merasakan puncak kenikmatan itu seperti sudah diambang rahimnya. Ia masih mencoba untuk bertahan. Demikian halnya dengan Andi yang kini sedang mempercepat gerakan pinggulnya menghantam pantat Bu Henny untuk meraih kenikmatan maksimal dari dinding vagina wanita itu. Kepala penisnyapun mulai berdenyut menandakan puncak permainannya akan segera tiba. Buru-buru diraihnya tubuh Bu Henny sambil membalikkan arahnya menjadi berhadapan, lalu kemudian ia mengangkat sebelah kaki wanita itu ke atas dan dengan gesit memasukkan buah penisnya kembali ke liang vagina Bu Henny. "oooh Bu, saya juga mau keluar. Kita pakai gaya ini yah?! Saya mau keluarkan sekarang juga..., aauuuhh Bu Henny sayang..., ooohh..., enaakkk..., ooohh..., vagina ibu njepit..., enaak", teriak Andi diambang puncak kenikmatannya, ia begitu kuat merasakan cairan sperma yang sudah siap meluncur dari penisnya yang dalam keadaan puncak ketegangannya itu. Kemaluannya terasa membesar sehingga vagina Bu Henny terasa makin sempit dan nikmat. Wanita itupun merasakan hal yang tak kalah nikmatnya, vaginanya seakan sedang merasakan nikmat yang super hebat dan membuat wanita itu tak dapat lagi menahan keluarnya cairan kelamin dari arah rahimnya. "ooohh..., aahh..., ibu keeeluuuaarrr laagii..., aahh enaakkk..., Andiii", teriak Bu Henny mengakhiri permainannya, disaat bersamaan Andi juga mengalami hal yang sama. Pemuda itu tak dapat lagi menahan luncuran cairan spermanya, hingga penisnya pun menyemprotkan cairan itu ke dalam rongga vagina Bu Henny dan membuatnya penuh, dinding vagina itu seketika berubah menjadi sangat licin akibat dipenuhi cairan kelamin kedua manusia itu. Andi tampak tak kalah seru menikmati puncak permainannya, ia berteriak sekeras-kerasnya. "aahh..., saya keluaarr juga Bu Henny ooohh..., ooohh..., air mani saya masuk ke dalam vagina ibu..., ooohh..., lezaat..., ooohh Bu Henny sayaanng..., ooohh Bu Henny..., enaak", jeritnya sambil mendekap wanita itu dengan keras dan meresapi sembuaran spermanya dalam jumlah yang sangat banyak. Cairan putih kental itu sampai keluar meluber ke permukaan vagina Bu Henny. Akhirnya kedua insan itu ambruk dan saling mendekap dalam kolam air hangat yang sudah penuh itu. Mereka berendam dan kini saling membersihkan tubuh yang sudah lemas akibat permainan seks yang begitu hebat. Mereka terus saling mencumbu dan merayu dengan penuh kemesraan. "Andi sayang...", panggil Bu Henny. "Ya, bu". "Kamu mau kan terus main sama ibu?". "Maksud ibu?". "Maksud ibu, kamu mau kan terus kencan gini sama ibu?". "Oh itu, yah jelas dong bu, masa sih saya mau ninggalin wanita secantik ibu", jawab Andi sambil memberikan kecupan di pipi Bu Henny. "Ibu pingin terus bisa menikmati permainan ini, nggak ada yang bisa memuaskan birahi ibu selain kamu. Suami ibu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kamu. Dulu sebelumnya ibu juga pernah pacaran sama pegawai bawahan suami ibu tapi ah mereka sama saja, hanya nafsu saja yang besar, tapi kalau sudah main kaya ayam, baru lima menit sudah keluar". "Yah saya maklum saja bu, tapi ibu jangan kuatir. Saya akan terus menuruti kemauan ibu, saya juga senang kok main sama ibu. Dari semua wanita yang pernah saya kencani cuma Ibu deh rasanya yang paling hebat bergoyang. Bentuk tubuh Ibu juga saya paling suka, apalagi kalau yang ini nih..", kata Andi sambil memilin puting susu Bu Henny. "Auuuw..., Andi! geliii aahh..., ibu udah nggak tahan..., nanti lagi ah", jerit Bu Henny merasakan geli saat Andi memilin puting susunya. Keduanya terus bercumbu rayu hingga saat beberapa puluh menit kemudian mereka mengeringkan badan lalu beranjak menuju tempat tidur. Di sana lalu mereka saling dekap dan hanyut dalam buaian kantuk akibat kelelahan setelah permaian seks yang hebat itu. Merekapun tertidur lelap beberapa saat kemudian. Masih dalam keadaan telanjang bulat keduanya terlelap dalam dekapan mesra mereka. Dua jam lamanya mereka tertidur sampai saat senja tiba mereka terbangun dan langsung memesan makan malam di kamar. Hari pertama itu Andi dan Bu Henny benar-benar seperti gila seks. Permainan demi permainan mereka lakukan tanpa mengenal berhenti. Saat malam tiba keduanya kembali melampiaskan nafsu birahi mereka sepuas-puasnya. Klimaks demi klimaks mereka raih, sudah tak terkira puncak kenikmatan yang telah mereka lalui malam itu. Dengan hanya diselingi istirahat beberapa belas menit saja mereka kembali lagi melakukannya. Dari pukul delapan malam sampai menjelang jam empat pagi mereka dengan gila mengumbar nafsu seks mereka di villa yang luas itu. Berbagai macam obat kuat dan ekstasi mereka minum untuk memperkuat tenaganya. Minuman keras mereka tegak sampai mabuk untuk menyelingi permainan itu. Televisi yang ada di kamar itupun mereka putarkan Laser Disc porno yang telah mereka siapkan dari Jakarta, sambil melihat adegan seks di TV itu mereka menirukan semua gerakannya. Malam itu sungguh menjadi malam birahi yang panjang bagi kedua orang yang sedang mabuk seks itu. Begitu salah satu dari mereka merasa lemas mereka langsung menegak pil kuat pembangkit tenaga yang telah mereka siapkan. Belasan botol bir sudah habis ditegak Andi ditambah beberapa piring sate kambing untuk membuatnya selalu tegang dan panas. Barulah menjelang dini hari mereka terkapar lemas kemudian tertidur lelap tanpa busana. Kamar itupun tampak berantakan akibat permainan yang mereka lakukan di sembarang tempat, dari tempat tidur sampai kamar mandi, meja makan, sofa, lantai karpet, sampai toilet jongkok yang ada di kamar mandi. Keesokan harinya mereka masih tampak terlelap sampai siang menjelang sore, tubuh mereka terasa penat dan malas. "Huuuaahhmm", terdengar Andi menguap. "Kamu sudah bangun sayang?", tanya Bu Henny begitu mendengar suara pemuda itu, ia lebih dahulu bangun untuk mengambil pesanan minuman yang ditaruh di meja teras samping kolam renang pribadi yang ada di villa itu. Secangkir kopi ia ambilkan untuk Andi lalu wanita itu beranjak keluar kamar menuju kolam renang di depan kamar mereka. Dengan bebas ia lalu membuka gaun tidur yang dikenakannya dan bermain di kolam renang itu. Andi hanya memperhatikan dari dalam kamar. Villa itu memang dibatasi oleh tembok tinggi bergaya tradisional Bali dengan halaman yang luas. Gerbangnyapun dapat dikunci dari dalam sehingga aman bagi tamu dari gangguan. Mereka juga telah memesan agar tidak diganggu selama hari pertama sampai ketiga agar mereka dapat menikmati kepuasan yang mereka inginkan itu secara maksimal. Andi memandang tubuh Bu Henny dari kejauhan sambil membayangkan apa yang telah diraihnya dari wanita paruh baya yang telah bersuami itu. Betapa beruntungnya ia yang hanya seorang biasa pegawai perusahaan swasta itu dapat menggauli istri pejabat tinggi pemerintah yang biasanya sangat sulit didapatkan orang lain. Seleranya pada wanita dewasa yang berumur jauh di atasnya menjadikan pemuda itu sangat menikmati hubungan gelapnya dengan Bu Henny. Tubuh wanita itu putih mulus dengan wajah manis menggairahkan, buah dada yang begitu menantang dengan ukuran yang besar ditambah lagi dengan goyang tubuhnya yang aduhai menjadikannya benar-benar sempurna di mata Andi. Dari jauh ia menatap tajam ke arah Bu Henny yang kini duduk di pinggiran kolam itu, tampak jelas saat wanita itu sedikit mengangkang memperlihatkan daerah kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Itu adalah bagian yang paling disukai Andi, dalam setiap hubungan seks yang mereka lakukan Andi tak pernah sekalipun melewatkan kesempatannya untuk menjilati daerah itu. Aromanya yang khas dengan permukaan bibir vagina yang merah merekah menjadikannya selalu tampak menantang dan membangkitkan nafsu birahi. Umur Bu Henny sudah lebih dari empat puluh tahun justru menambah gairah pemuda itu, ia merasa benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan dari Bu Henny. Gairah dan nafsu birahi yang selalu membara, kedewasaan berfikir maupun teknik bermain cinta yang begitu ia sukai semua ia dapatkan darinya. Kehangatan tubuh wanita bersuami itu sungguh cocok dengan selera Andi. Kehangatan yang tak pernah sekalipun ia dapatkan dari wanita muda, apalagi ABG yang sok seksi seperti yang banyak terdapat di kota-kota besar. Ia sudah bosan dan muak dengan anak-anak kecil yang murahan dan hanya mengenal seks secara pas-pasan itu. Namun hubungannya dengan Bu Henny kini seperti memberinya pengalaman lebih tentang seks dan segala misteri yang ada di dalamnya. Teknik-teknik menikmati senggama yang sebelumnya hanya ia baca dari buku tuntunan seks itu kini dapat ia praktikkan dan rasakan kenikmatannya dari tubuh Bu Henny. Bahkan Bu Henny seperti menuntunnya ke arah kesempurnaan teknik seks yang hari demi hari semakin terasa memabukkan. Beberapa saat memandangi tubuh bugil itu membuat Andi kembali terangsang. Iapun kemudian beranjak bangun dari tempat tidur dan menyambar sebuah handuk lalu berjalan menghampiri Bu Henny di pinggir kolam itu. Sambil tersenyum Bu Henny menyambutnya dengan sebuah kecupan mesra, Andi merangkulnya dari belakang dan dengan perlahan kemudian mereka masuk ke kolam dan berenang dengan bebas. Mereka asik bermain dengan air, saling menyiram sambil sesekali menggelitik daerah vital. Keduanya bercanda puas dengan sangat bebas. Dunia bagaikan milik mereka berdua di tempat itu. Bu Henny memang sengaja memesan villa dengan bangunan dan lokasi khusus yang jauh dari keramaian, dengan segala fasilitas yang bersifat pribadi seperti kolam, taman dan pantai pribadi yang tertutup untuk tamu lain semua menjadi milik mereka berdua. Dengan sepuas hati mereka menghabiskan sisa waktu siang hari itu untuk bermain di kolam maupun di pantai, berenang kemudian saling berkejaran di pantai dan taman villa itu. Tak ketinggalan mereka melakukan hubungan seks yang cukup seru di kolam renang, hingga hari itu mereka benar-benar sangat ceria. Senjapun tiba, kedua manusia yang dimabuk nafsu birahi itu rupanya sudah terlalu lelah untuk kembali melakukan senggama seperti yang mereka perbuat kemarin. Kini keduanya tampak duduk di sebuah sofa di teras villa itu sambil menikmati snack dan minuman ringan yang mereka pesan. Beberapa saat kemudian dua orang pelayan hotel mengantarkan makan malam yang mewah sekalian menata kembali kamar yang berantakan oleh permainan seks yang mereka lakukan hari sebelumnya. Kedua orang pelayan itu seperti heran melihat keadaan kamar yang cukup berantakan, tapi sedikitpun mereka tak berani mengeluh ataupun bercanda pada kedua tamunya karena Bu Henny memang membayar villa termahal ditambah dengan kondisi khusus yang membuat mereka menjadi tamu terpenting yang paling dihormati. Setelah menghabiskan makan malam yang besar dengan menu penuh gizi disertai minuman energi untuk pemulih tenaga itu mereka beranjak naik ke tempat tidur. Bu Henny menyalakan televisi dan memprogram sebuah film horor dari laser disc. Sejenak kemudian mereka sudah terlihat asik saling mendekap sambil menyaksikan film itu hingga larut malam sebelum lalu mereka tertidur saling mendekap mesra. Dua hari itu mereka habiskan dengan mengumbar nafsu birahi sepuas-puasnya hingga kini mereka perlu istirahat yang panjang untuk memulihkan stamina mereka. Hari ketiga mereka habiskan dengan membaca berita dari majalah yang disediakan hotel. Siang harinya mereka mengambil sebuah program hiburan menyelam di laut sekitar pulau itu untuk menyaksikan keindahan bawah laut berupa ikan hias dan karang yang beraneka ragam. Keduanya melakukan itu untuk melengkapi hiburang dan selingan dari tujuan utama mereka, meraih kepuasan seks bebas! Masih di pulau kecil lepas pantai tenggara pulau Bali, Bu Henny dan Andi menghabiskan liburan satu minggu mereka. Keduanya terlihat asyik duduk menikmati matahari terbenam di ufuk barat. Warna kemerahan bercampur birunya laut semakin terlihat indah dengan terdengarnya lagu-lagu yang dimainkan grup hiburan hotel diiringi alat musik akustik spanyol yang eksotik. Pasangan itu mengambil tempat duduk di pojok kanan sebuah hamparan taman rumput dan bonsai yang indah, sedikit terpisah dari tamu yang lain. Mereka tampak sedang menikmati minuman ringan dan seporsi besar sea food berupa lobster dan soup kepiting kegemaran Andi. Sesekali keduanya tampak tertawa kecil bercanda ria membicarakan kisah-kisah lucu yang mereka alami. Beberapa saat kemudian ketika mereka sedang asik bercanda seorang wanita cantik berumur kurang lebih sama dengan Bu Henny datang dari arah belakang mengejutkan mereka. Begitu dekat wanita itu langsung menepuk pundak Bu Henny yang sama sekali tak melihat kedatangannya. "Selamat malam pengantin baru", ucapnya pada Bu Henny, wanita itu langsung membalikkan badan terkejut mendapat sentuhan tiba-tiba itu. Tapi sesaat setelah mengetahui siapa yang datang, matanya tampak berbinar penuh keceriaan. "Eeeiiihh..., Rani..., aduuuh jantungku hampir copot..., uuuhh hampiiir aja aku mati kaget Ran, eh ngapain kamu di sini dan kok kamu tahu aku disini?". "Aduh Hen, aku tuh nyari kamu dari rumah sampai ke kolong jembatan tahu nggak, susaah banget". "lantas siapa yang ngasih info kalu aku di sini". "Lho kan kamu sendiri yang cerita sama aku sebelum berangkat, kalau kamu mau liburang ke sini". "Oh iya aku lupa". "Jelas lupa dong, lha kamu lagi bulan madu kayak gini gimana nggak lupa daratan?", sahut wanita itu menggoda Bu Henny. "Idiiih kamu nyindir yah?, Awas tak jitak kamu", lanjut Bu Henny sambil mengacungkan tangannya ke arah wanita itu. "Jitak aja, ntar aku buka kartu kamu di suami kamu, ya nggak?", sergahnya tak mau kalah. "Alaa..., kalau yang itu sih lapor aja, aku sih sekarang sudah punya jagoan, ngapain takut mikirin si botak jelek itu, huh dasar tua bangka..., moga aja dia mati ketabrak kereta api di Luar negeri, toh paling dia juga lagi nyari jajanan di jalan tuh, siapa nggak tahu sih pejabat pemerintah..., eh ngomong-ngomong aku sampai lupa ngenalin Andi sama kamu, nih dia Arjunaku yang sering kuceritakan sama kamu, Ran. Andi ini Tante Rani, teman akrab ibu dari sejak di SMA dulu". "Halo Tante..., saya Andi", kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan pada wanita rekan Bu Henny itu. Sejak tadi ia cuma memperhatikan kedua wanita yang tampak saling akrab itu. "Halo juga Andi, Bu Henny pernah juga cerita tentang kamu". "Eh Ran, kamu ngapain ke sini, pasti deh ada masalah penting di perusahaan, ada apa sih?" tanya Bu Henny penasaran pada Tante Rani, namun raut wajah wanita itu langsung berubah muram saat Bu Henny bertanya. "Aku ada masalah lagi sama suamiku, Hen", jawabnya sambil menunduk, wanita itu tampak sedih. "Ya ampuuun Ran, aku kan sudah bilang sama kamu seribu kali, kalau suami kamu bikin ulah, kamu harus balas. Jangan bodoh gitu dong ah, jangan sok setia begitu. Eh tahu nggak biar kamu nggak cerita sama aku, tapi aku sudah tahu masalah kamu. Pasti suami kamu nyeleweng lagi kan? Eh Ran, Kamu harus sadar tahu nggak, semua yang namanya pejabat itu bangsat, denger yah, bangsat, nggak bisa dipercaya. Kamu susah amat jadi orang setia. eeehh, suami kamu nikmat-enakan di luar sana tidur sama gadis-gadis muda, sadar Ran, kamu harus gitu juga, jangan kalah", oceh Bu Henny panjang pada Tante Rina yang masih tertunduk. Bu Henny melanjutkan omelan dan nasehatnya pada wanita itu dengan penuh amarah. Ia seperti tak tega jika teman baiknya itu dijadikan bulan-bulanan oleh sumai yang brengsek seperti umumnya pejabat pemerintah. "Atau gini aja deh, aku nggak mau kamu jadi kusut kayak begini, sebagai sahabat dekat kamu, aku siap ngebantuin kamu supaya bisa ngelupain masalah ini, okay?", Bu Henny memberi alternatif pada Tante Rani yang sedari tadi hanya bisa terdiam seribu basa. Bu Henny melanjutkan kata-katanya dengan penuh semangat, "Okay Ran, ini mungkin akan ngejutin kamu, tapi itupun terserah apakah kamu mau terima atau tidak ini hanya ide, kalau kamu terima ya bagus kalaupun nggak juga nggak apa-apa kok, dengerin yah..", sejenak ia menghentikan kata-katanya lalu beberapa saat kemudian ia melanjutkan, "malam ini kamu boleh gabung sama kita berdua, maksudku Andi dan aku, aku nggak keberatan kok kalau Arjunaku harus melayani dua wanita sekaligus, toh aku sendiri rasanya nggak cukup buat dia, ya nggak An?" katanya sembari melirik pada Andi. Pemuda itu langsung terkejut, namun sebelum ia sempat berkata Bu Henny sudah kembali melanjutkan ocehannya, "Tapi, Bu..." "Alaa.., nggak pakai tapi tapi lagi deh, toh kamu juga pasti senang kan?, lagi pula ibu ingin lihat apa kamu sanggup ngalahin kita berdua". "Tapi Hen", sergah Tante Rani. "Eh kamu nggak usah malu-malu, pokoknya lihat saja nanti yah, ayo sekarang yang penting kita bisa senang sepuas puasnya, umbar dan raih kepuasan. Nggak ada yang berhak ngelarang kamu Ran", lanjut Bu Henny tak mau mengalah. Sementara Andi dan Tante Rani hanya terdiam dan saling melirik. Andi yang sejak pertama telah memperhatikan bentuk tubuh Tante Rani yang tak kalah indah dari Bu Henny kini merasakan dadanya berdebar keras. Sudah tergambar di benaknya tubuh dua wanita paruh baya yang sama-sama memiliki tubuh bahenol itu akan ia tiduri sekaligus dalam satu permainan segi tiga yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dua orang istri pejabat pemerintah dengan wajah cantik manis dan kulit yang putih mulus itu akan ia nikmati sepuas hati. Belum sempat ia berpikir banyak, Bu Henny tiba-tiba memecahkan keheningan. "Heh ngelamun kalian berdua yah, ntar aja di kamar lihat kenyataannya pasti asiiik, ya nggak. Sekarang ayoh pesen minuman lagi", katanya sambil melambaikan tangan pada pelayan bar. "Dua bir lagi yah, kamu apa Ran, oh yah kamu kan nggak biasa minum". "Apa aja deh, Hen". "Kasih Gin Tonic aja deh Mas", lanjut bu Henny pada pelayan itu. "Baik Bu, saya ulangi, Dua Bir dan Satu Gin Tonic", ulang si pelayan. Sesaat kemudian mereka telah terlihat asik berbincang sambil tertawa-tawa kecil. Beberapa botol minuman telah mereka habiskan hingga kini ketiganya tampak mulai mabuk. Pembicaraan mereka jadi ngolor ngidur tak karuan diselingi tawa cekikikan dari kedua wanita itu. Pukul setengah sepuluh lewat, mereka bertiga meninggalkan bar terbuka menuju ke villa tempat Andi dan Bu Henny. Ketiga orang itu tampak saling berpelukan sambil sesekali tangan-tangan nakal mereka saling mencubit. Obsesi mereka sudah dipenuhi bayangan yang sama akan apa yang segera akan mereka lakukan di kamar itu, hingga begitu masuk kamar ketiganya langsung saling menyerang di atas tempat tidur yang berukuran besar itu. Dengan nafsu menggelora dan nafas yang terdengar turun naik, ketiganya langsung saling melepas pakaian sampai mereka semua telanjang bulat dan memulai permainan segitiga itu. Andi berbaring telentang menghadap ke atas lalu dengan cepat Bu Henny menyambar kemaluan Andi dan mempermainkan penis yang telah setengah tegang itu dengan mulutnya. Ia mulai menjilat kepala penis sebesar buah ketimun itu dengan penuh nafsu, sementara itu Andi menarik pinggul Tante Rani dan menempatkan wanita itu mengangkang tepat di atas wajahnya sehingga daerah sekitar kemaluan wanita itu terjangkau oleh lidah dan bibir Andi yang siap menjilatinya. Pemuda itu menarik belahan bibir vagina Tante Rani dan mulai menjilat dengan lidahnya. Permainan segitiga itu mulai sudah, Bu Henny mengkaraoke penis Andi dan pemuda itu memainkan lidah dan menyedoti daerah vagina Tante Rani. Suara desahan kini mulai terdengar memecah keheningan suasana malam itu. Decakan suara lidah Andi yang bermain dipermukaan vagina Tante Rani mengiringi desahan wanita itu yang menahan nikmat dari arah selangkangnya. Sementara itu Andi sendiri mulai merasakan kenikmatan dari penisnya yang keluar masuk mulut Bu Henny. Adegan itu berlangsung beberapa saat sebelum kemudian Bu Henny dengan bernafsu mengambil posisi menunggang di atas pinggul Andi dan langsung memaksukkan penis pemuda itu ke dalam liang vaginanya. "Sreeep blesss", penis besar dan panjang itu menerobos masuk ke dalam liang vagina Bu Henny. "aahh..., enaak", desahnya begitu terasa penis itu membelah dinding vagina yang seperti terlalu sempit untuk penis pemuda itu. Lain halnya dengan Tante Rani yang sejak pertama terus mendesah keras menahan kenikmatan yang diberikan Andi lewat lidahnya yang menjilati seluruh dinding dan detil-detil alat kelamin wanita itu. Ukurannya tampak lebih tebal dari milik Bu Henny, belahan bibir vagina Tante Rani lebih lebar hingga liangnya tampak lebih nikmat dan menggairahkan. Mengimbangi kenikmatan dari lidah Andi, Tante Rani kini meraih buah dada Bu Henny yang bergelantungan berayun seiring gerakannya di atas pinggul Andi. Kedua wanita yang berada di atas tubuh pemuda itu saling berhadapan dan saling meraih buah dada dan saling meremas membuat adegan itu menjadi semakin panas. "ooouuuhh Hen, nikmat sekali ternyata..., ooohh kamu benar Hen ooohh sedot terus vagina Tante, And.., oooh enaak", jerit Tante Rani merasakan nikmat itu, nikmat di selangkangannya dan nikmat di buah dadanya yang teremas tangan Bu Henny. "Kamu mau rasain yang ini Ran? uuuh, bakalan ketagihan kamu kalau udah kesentuh buah penis ini", Bu Henny menawarkan posisinya pada Tante Rani yang sejak tadi tampak heran oleh ukuran penis Andi yang super besar dan panjang itu. Ia kemudian mengangguk kegirangan sambil beranjak merubah posisi mereka. Matanya berbinar dengan perasaan setengah tak percaya ia memandangi buah penis itu. "Uhh besarnya penis ini Hen, pantas kamu jadi gila seks seperti ini.., ooh", serunya keheranan. "Ayolah segera coba..", kata Bu Henny sambil menuntun pinggul wanita itu menuju ke arah penis yang sudah tegang dan keras itu. Namun sebelumnya ia menyempatkan diri menjilati vagina Tante Rani yang tampak merah menggairahkan itu. "Aduuuh Ran, bagusnya bentuk vagina kamu..", seru wanita itu sambil menjulurkan lidahnya ke arah kemaluan Tante Rani. Sejenak ia menyempatkan diri memberi sentuhan lidahnya pada vagina Tante Rani. "Iiihh kamu Hen, aku udah nggak sabar nih katanya sambil menggenggam batang kemaluan Andi. Kemudian dengan gesit di tuntunnya penis itu sampai permukaan vaginanya yang tampak basah oleh air liur Andi dan Bu Henny Dan.., "Sreeettt", "Auuuwwww Andiii..., vaginaku rasanya robek Henny aduuuh..", jeritnya tiba-tiba saat merasakan penis Andi yang menerobos masuk liang vaginanya. Lubang itu terasa sangat sempit hingga ia merasakan sedikit perih seperti waktu merasakan pecah perawan di malam pengantin barunya dulu. Namun beberapa saat kemudian ia mulai merasakan kenikmatan maha dahsyat dari penis besar itu. Ia mulai bergoyang perlahan, rasa perih telah berubah menjadi sangat nikmat. "uuuhh..., aahh..., ooohh enaakkk, Andi ooohh Hen, baru pertama kali aku ngerasain penis segede ini Hen, ooohh pantas kamu begitu senang berselingkuh..., oooh Hen..., aku bakalan ketagihan kalau seperti ini nikmatnya..., ooohh", wanita itu mulai mengoceh saat menikmati penis besar Andi yang keluar masuk liang vaginanya. Sementara Bu Henny kini menikmati permainan lidah Andi pada permukaan vaginanya yang berada tepat di atas wajah pria itu. Andi sesekali menyedot keras clitoris Bu Henny yang merah sebesar biji kacang di celah vaginanya hingga wanita itu berteriak geli. Dua orang wanita itu kembali saling meremas buah dada. Keduanya dalam posisi berhadap-hadapan. Tangan Andipun sebelah tak mau ketinggalan meremas sebelah susu Bu Henny yang tak sempat diremas Tante Rani. Bergilir diraihnya payudara montok kedua wanita yang menidurinya itu. Penisnya yang tegang terus keluar masuk oleh gerakan naik turun Tante Rani di atas pinggulnya. Goyangan wanita itu tak kalah hebatnya dengan Bu Henny, ia sesekali membuat putaran pada poros pertemuan kemaluannya dengan penis Andi sehingga kenikmatan itu semakin sensasional. Namun itu hanya dapat ia tahan selama lima belas menit, ketika Andi ikut menekan pinggangnya ke atas menghantam posisi Tante Rani, wanita itu berteriak panjang dengan vagina yang berdenyut keras dan cairan kelamin yang tiba-tiba meluncur dari dasar liang rahimnya. "ooohh Anndiii Taantee keluaarr..., ooohh enaak, Henny aku nggak kuat lagi ooohh..., nikmatnya penis ini..., ooh enaakkk", teriaknya panjang sebelum kemudian terkapar disamping Andi dan Bu Henny yang masih ingin melanjutkan permainan itu. Andi bangkit sejenak dan memberikan ciuman pada Tante Rani, lau mengatur posisi baru dengan Bu Henny. "Ayo Bu, kita lanjutin mainnya.., istirahat dulu ya Tante", seru Andi pada Tante Rani. "Baiklah, aku mau lihat kalian main aja", jawabnya sembari kemudian berbaring memandangi Andi dan Bu Henny yang kini saling tindih meraih kepuasan. Kedua orang itu sengaja menunjukkan gaya-gaya bermain yang paling hot hingga membuat Tante Rani terheran-heran menyaksikannya. Goyangan tubuh Bu Henny yang begitu gesit di atas tubuh Andi sementara pemuda itu memainkan buah dada besar Bu Henny yang bergelantungan dengan penuh nafsu. Suara desah nafas yang saling memburu dari keduanya terdengar sangat keras dan terpatah-patah akibat menahan kenikmatan dahsyat dari kedua kemaluan mereka yang beradu keras saling membentur yang menimbulkan bunyi decakan becek. Daerah sekitar kemaluar mereka tampak telah basah oleh cairan kelamin yang terus mengalir dari liang vagina Bu Henny hingga semakin lama Andi merasakan dinding kemaluan Bu Henny semakin licin dan nikmat. "Oh anak muda ini begitu perkasanya...", benak Tante Rani berkata kagum pada pemuda itu. Ia begitu heran melihat keperkasaan Andi dalam bermain seks. Begitu tegarnya anak itu menggoyang tubuh bongsor Bu Henny yang bahenol itu. Andi seperti tak tergoyahkan oleh lincahnya pinggul wanita paruh baya yang bergoyang di atasnya penuh nafsu. Bahkan liang vagina Bu Henny yang sudah punya dua orang anak remaja itu seperti tak cukup besar untuk menampung batang penis Andi yang keluar masuk bak rudal nuklir. Bahkan kini hanya beberapa menit saja mereka bermain Bu Henny sudah tampak tak dapat lagi menguasai jalannya permainan itu. Wanita itu kini mendongak sambil menarik rambutnya untuk menahan rasa nikmat yang begitu dahsyat dari liang vaginanya yang terdesak oleh penis pemuda itu. "Auuuhh..., ooohh..., mati aku Ran..., enaak..., ooohh..., Andi sayaang..., oooh remas terus susu ibu An", teriak wanita itu sembari menggelengkan kepalanya liar kekiri dan kanan untuk berusaha menahan rasa klimaks yang diambang puncaknya itu. Tante Rani semakin terpesona melihat gerakan liar Bu Henny yang tampak begitu menggodanya untuk kembali mencoba tubuh Andi. Bu Henny tampak begitu menikmatinya dengan maksimal sampai sehisteris seperti yang ia lihat. Keinginannya seperti bangkit kembali untuk mencoba lagi kenikmatan dahsyat dari buah penis besar yang kini tambak semakin bengkak dan keras itu. Menyaksikan hal itu ia lalu bangkit dan mendekati kedua orang yang sedang bermain itu. Andi menyambut Tante Rani dengan mengulurkan tangannya ke arah vagina wanita itu, ia langsung meraba permukaannya yang masih basah oleh caiiran kelamin, lalu dua jarinya masuk ke liang itu dan mengocok-ngocoknya hingga membuat Tante Rani merasa sedikit nikmat. Wanita itu membalas dengan kecupan ke arah mulut Andi hingga mereka saling mengadu bibir dan menyedot lidah. Permainan itu menjadi seru kembali oleh teriakan nyaring Bu Henny yang kini terlihat sedang berada menjelang puncak kenikmatannya. Goyang tubuhnya semakin liar dan tak karuan sampai kemudian ia berteriak panjang bersamaan dengan menyemburnya cairan hangat dan kental dari dalam rongga rahim wanita itu. "ooouuu..., aakuu keeeluaarr..., aahh enaak..., oooh..", jeritnya dengan tubuh yang tiba-tiba kejang kemudian lemas tak berdaya. "Ouuuh hebatnya anak muda ini", benak Tante Rani kagum pada Andi setelah berhasil membuat Bu Henny terkapar. "Sialan Ran, aku kok cepat keluar kayak gini yah?", seru Bu Henny sambil melepas gigitan bibir vaginanya pada penis Andi yang masih keras dan perkasa itu. "Memang kamu bener-bener jago Andi..., beri Tante kesempatan lagi buat menikmatinya..., ooohh, sini kamu yang di atas dong sayang", ajak Tante Rani setelah Bu Henny selesai dan menyamping. Ia kemudian berbaring pasrah membiarkan pemuda itu menindihnya dari arah atas. Andi sejenak memegangi kemaluannya yang masih tegang dan kemudian dengan perlahan mencoba masuk lagi ke dalam liang vagina Tante Rani. Wanita itu mengangkat sebelah kakinya agak ke atas dan menyamping hingga belahan vagina itu tampak jelas siap dimasuki penis Andi. Ia langsung terhenyak dan mendesah panjang saat kembali dirasakannya penis itu menerobos masuk melewati dinding vaginanya yang terasa sempit. "Ohh..., yang pelan aja An..., enaakknya", pinta Tante Rani sambil meresapi setiap milimeter pergesekan dinding vaginanya dengan buah penis Andi. Andi mulai bergoyang dengan perlahan seperti yang diinginkan wanita itu. Tante Rani meremas sendiri buah dadanya yang ranum sementara Andi meraih kedua kakinya dan membentangkannya ke arah kiri dan kanan sehingga membuka selangkangan wanita itu lebih lebar lagi. Tak ayal gaya itu membuat Tante Rani berteriak gila menahan nikmatnya penis Andi yang terasa lebih dalam masuk dan membentur dasar liang vaginanya yang paling dalam. "Aahh..., ooohh hebatnya kamu Andi..., ooohh Henny nikmat sekali hennn..., ooouuuhh enaakk..., oooh genjotlah yang keras An..., oooh semakin nikmat ooohh pintaar..., ooohh yaahh..., mm..., lezaatt..., ooohh Andi..., pantas kamu senang sama dia Hen..., ooohh ampuuun enaknya..., oohh pintar sekali kamu Andi..., ooohh", desah Tante Rani setengah berteriak. Pantatnya ikut bergoyang mengimbangi kenikmatan dari hempasan tubuh Andi yang kian menghantam keras ke arah tubuhnya. Penis besar itu benar-benar memberinya sejuta sensasi rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kenikmatan dahsyat yang membuatnya lupa diri dan berteriak seperti orang gila. Dijambaknya sendiri rambutnya yang tergerai indah sampai ia terlihat seperti orang yang sedang dimasuki roh setan. Tiba-tiba ia berguling dan segera menindih tubuh pemuda itu dan menggoyang turun naik sambil berjongkok. Jari telunjuknya berusaha meraba daerah kemaluannya sendiri untuk membuat clitoris sebesar biji kacang di celah bibir kewanitaannya mendapat sentuhan lebih banyak lagi dari kulit tebal penis Andi yang terasa begitu nikmat membelai permukaan vaginanya. Hempasan demi hempasan dari tubuh pemuda itu berusaha diimbanginya dengan berteriak menahan nikmatnya benturan penis Andi. Sesekali ia membalas dengan juga menghempaskan tubuh dan pantatnya dengan keras, namun gerakan itu justru semakin membuatnya tak dapat bertahan. Kenikmatan maha dahsyat itu kembali membuatnya menggapai puncak permainan untuk yang kedua kalinya. Tak dapat ditahannya akibat dari sebuah genjotan keras yang membuat clitoris sebesar biji kacang di celah vaginanya masuk ke dalam liang itu dan tersentuh kedahsyatan penis Andi yang perkasa. Dengan sepenuh tenaga ia berteriak keras sekali sambil menghempaskan tubuhnya yang bahenol itu sekeras-kerasnya. "Aooowww..., ooohh..., aku keluaar lagiii..., ooohh enaak Andiii..., ooohh uuuhh..., air maniku tumpah..., ooohh, nikmat sekali ooohh..., nanti main lagi aahh", teriaknya panjang. Andi merasakan denyutan keras pada vagina Tante Rani yang sekaligus menyemburkan cairan hangat dan memenuhi rongga vagina itu. Liang kemaluan itu berubah menjadi sangat licin dan nikmat hingga Andi terangsang untuk terus menggoyang pinggulnya. Direngkuhnya pinggul itu, ia mendekap erat sambil terus menggoyang memutar poros pantatnya hingga penisnya seperti mengaduk-aduk isi dalam vagina Tante Rani. Namun wanita itu merasakan kegelian yang dahsyat. Kenikmatan yang tadinya begitu hebat tiba-tiba berubah menjadi rasa geli yang seakan membuatnya ingin melepaskan penis Andi dari dalam vaginanya. Namun pemuda itu tampak semakin asik menggoyang dan menciumi sekujur tubuhnya penuh nafsu. Hingga tak dihiraukannya gerakan meronta Tante Rani yang berusaha melepaskan diri akibat rasa geli yang tak dapat ditahannya lagi. "aaww..., geeliii..., ampun sayang Tante nyerah lepasin Tante dong..., geliii", teriaknya memohon pada Andi. Dengan sedikit perasaan kecewa Andi menghentikan gerakannya, dan melepaskan pelukannya pada pinggul Tante Rani yang langsung saja terjatuh lemas. "Ohh. Tante nggak kuat lagi Andi.., ooh hebatnya kamu, sudah dua kali tante kamu bikin keluar, gila kamu. Benar-benar jantan, Hen, kamu sungguh beruntung..., ooohh nikmatnya", lanjutnya sambil membelai kemaluan Andi yang masih saja tegak tak tergoyahkan. Dikecupnya kepala penis itu dengan lembut lalu ia meraih batangnya dan tanpa diminta mengkaraoke pemuda itu. Andi tersenyum melihatnya lalu memberikan belaian pada rambut wanita itu. Sementara Bu Henny masih terpaku menyaksikan kehebatan Andi, tak pernah sebelumnya ia bayangkan seorang lelaki muda seperti Andi membuat dua orang wanita paruh baya seperti dirinya dan Tante Rani menyerah pada keperkasaan dan kejantanannya. Bahkan ia telah membuat Tante Rani meringis dan memelas memohon Andi untuk berhenti, betapa dahsyatnya keperkasaan pemuda itu. Kini ia hanya memandangi Tante Rani yang tengah berusaha melanjutkan birahi anak itu yang belum juga tuntas. Dilihatnya jam dinding, "Sudah jam satu dini hari, ia sanggup bertahan selama itu, ooohh hebatnya", batin Bu Henny. Tiga jam lebih pemuda itu mampu bertahan dari serangan ganas kedua wanita dewasa itu. Kini dengan sisa tenaganya Tante Rani dan Bu Henny kembali mencoba memuaskan Andi. Bergilir mereka melakukan karaoke sambil menunggu saat vagina mereka siap untuk menerima masuknya penis besar Andi. Secara bergilir juga mereka memberi kesempatan pada Andi untuk menjilati daerah kemaluan mereka untuk kembali membangkitkan nafsu birahi itu. Dan beberapa saat kemudian mereka berhasil dan memulai lagi permainan segi tiga itu. Masih bergilir kedua perempuan itu saling menukar posisi untuk mengimbangi kekuatan Andi. Bergantian mereka meraih kenikmatan dari penis besar sang pemuda perkasa itu, beragam gaya mereka pakai agar tidak cepat keluar. Namun keperkasaan Andi memang benar-benar dahsyat hingga salah satu dari mereka yaitu Bu Henny kembali terkapar meraih puncak kenikmatan dari penis Andi. "Ohh Tante..., sebentar lagi saya keluar", kata Andi tiba-tiba saat memulai permainannya dengan Tante Rani setelah membuat Bu Henny terkapar. "Ohh kamu kuat sekali An, kalau nggak keluar sekarang mungkin Tante dan Bu Henny nggak sanggup lagi, Tante sudah kamu bikin keluar tiga kali, dan juga Bu Henny.., sekarang keluarin yah sayang..", rajuk Tante Rani pada pemuda itu. "Baiklah Tante, saya nggak akan nahan lagi, ayo kita mulai", ajaknya sembari memeluk tubuh bugil Tante Rani dan langsung menusukkan kemaluannya dalam liang vagina wanita itu. Mereka kembali bermain, tapi kini dengan gerakan pelan dan mesra seperti dua orang yang saling jatuh cinta. Diiringi kecupan dan remasan pada payudara Bu Rani yang ranum itu Andi terus berusaha meraih kepuasannya secara maksimal. Hingga beberapa puluh menit kemudian ia tampak mulaui mempercepat gerakannya secara bersamaan dengan Tante Rani yang juga mengalami hal yang sama. "Naah Tante..., saya mau keluar..., oooh goyang yang keras..., ooohh tekan terus tante..., ooohh memeknya tante jepit lagi..., ooohh nikmat sekali..., ooohh", terdengar pemuda itu menjerit pelan meresapi kenikmatan dari tubuh Tante Rani. "Tante jugaa..., Andii..., oooh penis kamu panjang sekali..., ooohh enaak nikmatnya..., ooohh remas yang keras susuku Andi..., ooohh susu tante ooohh teruuus..., tante keluaarr lagiii..., ooohh enaak", jerit Tante Rani. "Saya juga keluaarr Tante..., ooohh enaknya..., kocok terus Tante..., ooohh air mani saya mau nyemprot..., aahh", jerit Andi pada waktu yang bersamaan. Tiba-tiba Bu Henny yang sejak tadi hanya melihat mereka bangkit dan mendekati Andi. "Cabut An sini semprot ke muka ibu, ibu pingin minum sperma kamu cepaat", teriaknya. "Baik Bu..., ooohh..., minum Bu..., ooohh", teriak Andi sambil berdiri di hadapan Bu henny yang mendongak tepat di bawah penis yang menyemprotkan cairan sperma itu. Lebih dari empatkali ia menyemprotkan cairan itu ke mulut Bu Henny yang menganga dan langsung ia telan, kemudian tak ketingggalan ditumpahkannya juga ke arah muka Tante Rani yang masih tergolek lemas di sampingnya. Wanita itupun menyambut dengan membuka lebar mulutnya, ia bahkan meraih batang penis itu dan mengocokkannya dalam mulut sehingga seluruh sisa cairan sperma pemuda itu ia telan habis. Akhirnya tergapai juga puncak kenikmatan Andi yang begitu lama itu. Dengan diiringi teriakan panjang dari mulut Tante Rani, mereka bertiga terkapar lemas dan tak sanggup lagi melanjutkan permainan itu. Ketiganya kini saling bercanda ria setelah berhasil meraih kepuasan dari hubungan seks yang begitu seru, empat jam lebih mereka mengumbar nafsu birahi itu sampai puas dan kemudian tertidur kelelahan tanpa seutas benangpun melapisi tubuh mereka. Liburan seminggu di pulau kecil itu memasuki hari kelima. Andi yang semula hanya ditemani Bu Henny yang memang sengaja merencanakan liburan itu tak pernah menyangka akan mengalami pengalaman hebat seperti saat ini. Seorang lagi istri pejabat pemerintah yang haus kepuasan seksual kini bergabung dan semakin membuat suasana menjadi lebih luar biasa. Dua orang wanita paruh baya yang masing-masing memiliki pesona kecantikan dan tubuh yang sangat disukainya sekarang benar-benar dapat ia nikmati sesuka hatinya. Mereka melampiaskan nafsu seks yang membara itu sepuas hati tanpa ada yang menghalangi. Semua gaya dan tipe permainan cinta dari yang buas sampai yang lembut, satu lawan satu atau dua lawan satu mereka lakukan tanpa kenal henti. Hari-hari selama seminggu itupun penuh dengan pelampiasan birahi mereka yang tak pernah sedetikpun mereka rasakan dari suami-suami mereka, para pejabat pemerintah yang berlagak jago tapi hanya mampu bermain seperti ayam yang dalam waktu lima menit saja sudah berteriak menggapai puncak meski istri mereka baru sampai tahap pemanasan saja. Tante Rani merasakan pengalaman pertamanya berselingkuh dengan anak muda itu sebagai mimpi indah yang tak akan dilupakannya. Setiap ia meminta Andi melayaninya tak pernah sekalipun ia dapat bertahan lebih dari lima belas menit sementara pemuda itu sanggup membuatnya menggapai puncak tak pernah kurang dari tiga kali dalam setiap permainannya. Pernah suatu saat ketika Bu Henny meninggalkan mereka berdua dalam villa untuk berjalan-jalan di sebuah pagi, Tante Rani meminta Andi untuk menggaulinya sepuas hati. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan dari serangan pemuda itu. Dibiarkannya tubuh bahenol putih mulus itu dijadikan seperti bantal guling oleh Andi. Namun hasilnya tetap saja ia tak dapat membuat Andi kalah, meski telah dibiarkannya pemuda itu menggenjot dari segala arah, dibuatnya Andi bernafsu seperti binatang buas yang meraung. Tapi sia-sia saja, bahkan saat Bu Henny kembali ke villa itu setelah dua jam berjalan-jalan di pantai, Andi masih saja tegar menghantamkan penis besarnya dalam liang vaginanya yang sudah tiga kali menggapai puncak dalam satu ronde permainan anak itu. Hingga Bu Henny yang kemudian bergabunng sekalipun dapat ia robohkan dalam beberapa puluh menit saja. Bahkan sampai berulang-ulang lagi Bu Henny bangkit, ia belum keluar juga. Barulah setelah mereka berdua bergilir memberikan liang vaginanya dimasuki dari arah belakang pantat, Andi dapat meraih ejakulasi permainannya. Waktu liburan mereka telah habis, ketiganya kembali ke Jakarta setelah melewati hari-hari yang begitu menggairahkan, hari-hari penuh teriakan kenikmatan hubungan badan yang maha dahsyat. Pengalaman seks di pulau kecil itu benar-benar seperti mimpi bagi kedua wanita paruh baya itu. Justru sekembalinya mereka dari pulau itulah, ada sedikit perasaan gelisah di dalam hati Tante Rani yang membayangkan dirinya kembali ke pelukan lelaki yang sebenarnya tak pernah ia cintai. Suaminya yang botak tua bangka, lelaki penuh nafsu besar dengan kemampuan seperti cacing itu kini membuat perasaannya muak ingin muntah. Tak habis-habisnya mereka membicarakan seputar kenikmatan cinta dari Andi yang dialami Tante Rani dalam perjalanan pulang itu. Ada secercah harapan dalam benak Tante Rani saat Bu Henny memberinya ijin untuk boleh bergabung bersamanya menikmati kepuasan dari Andi kapan saja ia suka asalkan mereka melakukannya atas sepengetahuan Bu Henny yang secara resmi adalah pacar gelap Andi. Pesawat yang membawa mereka kembali ke Jakarta telah mendarat, ketiganya berpisah di Bandara lalu pulang ke tempat tinggal masing-masing dengan hati yang riang dan kesan yang begitu kuat akan kenangan dan pengalaman hebat yang mereka lalui dalam seminggu itu. Sesampainya di rumah masing-masing, kedua wanita itu masih tak dapat melepas bayangan keperkasaan Andi, hingga saat mereka berkumpul dengan suami dan anak-anaknya suasana menjadi sangat dingin. Sejak saat itu hari-hari bersama suaminya dirasakan Tante Rani seperti neraka. Setiap malam saat ia melayani suaminya di ranjang tak pernah dapat ia nikmati. Permainan suaminya yang seperti ayam kurang gizi benar-benar membuatnya muak, bahkan ingin muntah. Setiap kali dilihatnya tubuh lelaki itu seakan ia sedang menghadapi bangkai busuk saja. Suatu malam saat suaminya baru pulang dari kantor, Tante Rani yang tampak baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan badannya di atas tempat tidur langsung disambar oleh lelaki botak itu. "Ayo Ran, aku sudah satu minggu nggak main sama kamu, yuuk layani aku sebentar..", ajak pria itu. Tante Rani diam saja tak beranjak dari tempat tidur, ia merasa malas menanggapinya. "Ntar dulu dong pi, aku keringin badan", jawabnya acuh tak acuh, sementara lelaki botak itu mulai meraba pahanya yang mulus sambil mendaratkan ciumannya di pipi Tante Rani. "Ayo dong, aduuuh aku nggak tahan nih...", pria itu merajuk genit sambil membelai bulu-bulu halus di permukaan kemaluan Tante Rani. "Papi...!, sabar dong..!", Sengit Tante Rani agak sewot. "He. Jangan marah dong sayang, aku kan suami kamu". "Huh..", ia berkesah sambil membuang sisir yang ada di tangannya, sementara lelaki itu melepas handuk yang melilit tubuh wanita itu dan langsung saja mengangkat paha istrinya dan membukanya lebar. Lalu lidahnya menjilat-jilat bagaikan anak kecil yang menikmati es krim. Tante Rani hanya memandanginya sambil tersenyum, tak sedikitpun ia menikmati permainan suaminya. Dibiarkannya lelaki botak itu menjilati permukaan vaginanya hingga becek. Tak puas sekedar menjilati, lelaki itu menusukkan dua jarinyanya ke dalam liang kemaluan sang istri yang hanya memandangnya sinis dan tampak jijik. Beberapa saat kemudian ia beranjak duduk di pinggiran tempat tidur dan meminta sang istri untuk menyedot kemaluannya. "Huuuhh..., ayo karaoke aku sebentar Ran", pintanya pada Tante Rani, nafasnya terdengar sudah turun naik tak tentu menandakan nafsu birahi yang sudah berkobar. "ooohh nikmat..., mm", desahnya begitu penis kecil dan pendek mirip penis monyet itu tersentuh lidah Tante Rani. "Huh..., dasar botak, aku sangat berharap biar kamu cepat mati saja", benak Tante Rani dalam hati, ia sangat kesal menghadapi suaminya yang tampak sudah bagai sampah saja. Tak ada daya tarik selain harta dan kekayaan yang didapatkannya dari korupsi itu. Sambil terus melayani lelaki itu ia membayangkan dirinya berada bersama Andi, hingga tampak wanita itu memejamkan mata sambil terus menyedot keras batang kemaluan sang suami. Namun hanya beberapa menit saja adegan itu berlangsung tampak pria itu sudah tak dapat menahan kenikmatan. "ooohh..., ayo cepaat masukin, Ran aku mau keluar aauuuhh..., ooohh", tiba-tiba ia merengkuh tubuh Tante Rani dan menindihnya. Dengan ngawur ia berusaha memasukkan penis yang sudah akan muntah itu ke arah liang vagina istrinya. Dan baru beberapa detik saja masuk, sebelum Tante Rani sempat bergoyang, penis itu memuntahkan seluruh cairan spermanya. "aahh..., aku keluarrr..., Ranii..., ooohh", teriaknya saat merasakan cairan maninya meluncur dalam liang vagina sang istri yang sedari tadi hanya tersenyum sinis melihat tingkahnya yang sok jagoan. Hanya beberapa menit saja persetubuhan itu berakhir dengan sangat mengecewakan Tante Rani. Dipandanginya lelaki botak itu yang kini tergolek lemas dan hanya bisa membelai permukaan vagina yang tak sanggup ditaklukkannya. Pria itu tampak malu sekali melihat istrinya yang kini terlihat memandanginya dengan senyum menyindir. Namun ia tak sanggup mengatakan apa-apa. Kemudian dengan tak tahu malu ia menutupi mukanya dengan bantal dan berusaha menyembunyikan dirinya dari perasaan malu itu. Beberapa menit kemudian lelaki botak itupun tertidur sebelum berhasil membuat istrinya puas. Namun bagi Tante Rani, yang terpenting adalah ia kini memiliki pasangan lain yang dapat membuatnya meraih kepuasan seks. Yang terpenting kini baginya adalah bahwasanya tidak hanya pria itu yang bisa mencari lawan selingkuh, namun dirinyapun berhak dan sanggup melakukannya. Tentunya dengan bentuk tubuh indah dan wajah manis yang dimilikinya seperti saat ini hal itu sangt mudah. "Mengapa aku harus diam sementara suamiku itu dengan seenaknya mengumbar nafsunya dengan para gadis remaja atau pegawai bawahan di kantornya? Akupun sanggup membuat diriku puas dengan mencari pasangan main yang jauh lebih hebat, tak ada asyiknya bermain dengan hanya satu pasangan seperti ini. Apalagi dengan laki-laki seperti ini, "Ciiih jijik aku..", benaknya berkata sendiri sambil membalik arah badannya kemudian berlalu dan keluar dari kamarnya. Itulah hari-hari yang kini dilalui oleh Tante Rani semenjak ia mengenal Andi dari Bu Henny. Kini hubungannya dengan dua orang itu menjadi semakin akrab saja. Hampir setiap hari mereka menyempatkan diri untuk saling menghubungi. Dengan rutin pula mereka menentukan jadwal kencan mereka seminggu sekali yang mereka lakukan di hotel-hotel berbintang di mana mereka bisa mengumbar nafsu sepuas-puasnya. Sampai kemudian kedua wanita itu memutuskan untuk membeli sebuah Villa mewah secara diam-diam di kawasan Puncak untuk mereka pergunakan sebagai tempat rendezvous yang aman dan nyaman. Seiring dengan waktu berlalu dan hubungan cinta segitiga mereka yang semakin dekat saja dari hari ke hari, dua wanita istri pejabat itupun membuat sebuah perusahaan besar yang berbasis di bidang pengangkutan export-import untuk semakin menutupi kerahasiaan hubungan mereka. Sehingga ketiga orang itupun tak perlu lagi mengatur alasan khusus pada suami mereka untuk dapat bertemu Andi setiap hari, hal itu karena mereka berdua menempatkan diri sebagai dewan komisaris dan direktris pada perusahaan itu. Tiap hari kini mereka dapat melampiaskan nafsu birahi mereka pada Andi, di kantor di villa atau di manapun mereka suka. Kehidupan Pemuda itupun menjadi sangat bahagia, dengan kebutuhan seksual yang selalu dipenuhi oleh dua wanita sekaligus, ia sudah tak perlu memikirkan tentang wanita lagi. Kehangatan kedua wanita paruh baya yang benar-benar pas dengan seleranya itu sudah lebih dari cukup. Materi berupa harta sudah tak masalah lagi, kedudukannya sebagai direktur perusahaan itu sudah menjadikannya benar-benar lebih dari cukup. Hidupnya kini benar-benar bahagia seperti apa yang pernah ia cita-citakan.