Senin, 15 Oktober 2007

SETENGAH BAYA 2

Sebelumnya saya perkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya Alvi (samaran), usia saya saat ini adalah 37 tahun. Kejadian ini adalah kisah nyata hidup saya yang terjadi 10 tahun yang lalu, jadi saat itu usia saya baru sekitar 27 tahun.Sebelum saya ceritakan pengalaman saya dengan Mbak Yati, perlu saya sampaikan juga bahwa (mungkin) saya mengidap suatu kelainan (meskipun mungkin kadarnya masih sangat ringan), yaitu saya lebih tertarik dengan wanita yang usianya sebaya dengan saya ataupun lebih tua, meskipun saya tidak terlalu menolak dengan wanita yang usianya dibawah saya. Hampir semua (tapi tidak 100 persen), pacar-pacar saya ataupun teman-teman kencan saya biasanya memiliki usia sebaya ataupun lebih tua. Tetapi istri saya saat ini memang lebih muda dari saya 5 tahun.Saya menyenangi wanita yang lebih tua, karena saya merasa kalau bermain cinta dengan mereka, saya merasakan ada sensasi tersendiri. Terlebih kalau teman kencan saya seorang janda, saya akan semakin menikmati permainan-permainannya dengan baik. Saya mempunyai seorang tetangga, sekaligus kawan bermain, tetapi usianya 3 tahun dibawah saya, sebut saja namanya Tarno (tentunya juga nama samaran). Saya berkawan dan bersahabat dengan dia sudah sejak kecil. Hubungan saya dengan Tarno sudah seperti kakak beradik. Kami saling bermain, saya ke rumahnya ataupun dia yang ke rumahku. Makan dan terkadang tidur pun kami sering bersama. Tarno ini anak tertua dari 4 bersaudara. Ayahnya meninggal dunia ketika dia berumur 15 tahun.Tarno ini mempunyai ibu, namanya Yati. Meskipun Mbak Yati ini ibu dari teman dekat saya, tetapi saya memanggilnya tetap dengan panggilan mbak, bukan tante (saya tidak tahu kenapa memanggilnya mbak, mungkin saya ikut-ikutan ibu saya). Karena saya sudah terbiasa bergaul dengan keluarga Mbak Yati, maka Mbak Yati menganggap saya sudah seperti anaknya sendiri. Sehingga Mbak Yati tidak merasa malu untuk bertingkah wajar di hadapanku, terutama sekali dia sudah terbiasa berpakaian minim, meskipun saya ada di depannya.Apabila selesai mandi, dan keluar dari kamar mandi, Mbak Yati tanpa malu-malu jalan di hadapan saya hanya dengan melilitkan handuk di tubuhnya. Sehingga dengan jelas sekali terlihat kemolekan tubuhnya. Warna kulitnya yang kuning bersih, dengan bentuk pantat yang bulat dan sintal, serta sepasang lengan yang indah dengan bebasnya dapat dipandangi, meskipun saya pada saat itu masih SD ataupun SMP, tetapi secara naluri, saya sudah ingin juga melihat kemolekan tubuh Mbak Yati.Hubungan dengan Tarno tetap baik, meskipun saya sudah pindah rumah (meskipun dalam satu kota) dan meskipun saya sudah kuliah ke lain kota, hubungan saya dengan keluarga Mbak Yati juga tetap tidak berubah. Kalau saya pulang ke rumah sebulan sekali, saya selalu sempatkan main ke rumah Tarno.Setelah kematian suaminya, Mbak Yati selama kurang lebih 8 tahun tetap menjanda. Meskipun sebenarnya banyak laki-laki yang tertarik padanya, karena Mbak Yati ini orangnya cantik, seksi, kulitnya kuning, bicaranya ramah dan supel. Penampilannya selalu nampak bersih (selalu bermake-up setiap saat). Tetapi semuanya ditolak, karena alasan Mbak Yati pada saat itu katanya lebih berkonsentrasi untuk dia dalam mengasuh anak-anaknya. Tetapi setelah 8 tahun menjanda, akhirnya dia menikah dengan seorang duda tua yang meskipun kaya raya tetapi sakit-sakitan (Mbak Yati mau menikah dengan dia karena alasan ekonomi). Tetapi perkawinan ini hanya bertahan kurang lebih 2 tahun, karena suaminya yang baru ini akhirnya juga meninggal.Setelah saya Dewasa, rasa tertarik saya dengan Mbak Yati semakin menggebu. Tubuh yang seksi, pantat yang padat, dan betis yang kecil serta indah selalu menjadi sasaran mata saya. Terkadang saya sering mencuri pandang dengan Mbak Yati, pada saat ngobrol dengan Tarno dankebetulan Mbak Yati lewat. Apalagi kalau sedang ngobrol dengan Tarno dan Mbak Yati ikut, wah rasanya jadi senang sekali. Bahkan sering saya sengaja main ke rumah Tarno, dimana pada saat Tarno tidak ada di rumah, sehingga saya dengan leluasa dapat ngobrol berdua dengan Mbak Yati.Meskipun keinginan untuk bercinta dengan Mbak Yati selalu menggebu, tetapi saya masih kesulitan untuk mencari cara memulainya. Terkadang rasa ragu dan malu selalu menghantui, takut kalau nanti Mbak Yati menolak untuk diajak bercinta. Tetapi kalau kemauan sudah kuat, segala cara akan ditempuh demi tercapainya keinginan. Hal ini terjadi secara kebetulan, ketika suatu sore MBak Yati minta tolong saya untuk mengantarkan melihat komplek perumahan yang baru di pinggiran kota, karena dia bermaksud membeli rumah kecil di komplek perumahan tersebut.Kami berdua berangkat dengan memakai mobil saya. Karena lokasinya masih baru dan masih dalam tahap pembangunan, sehingga sesampainya di lokasi, suasananya terlihat sepi, tidak ada seorang pun di tempat itu. Kami berdua berkeliling-keliling dengan berjalan kaki melihat-lihat rumah-rumah yang baru dibangun. Saya ajak Mbak Yati masuk ke salah satu rumah yang sedang dibangun, yang tentunya masih kosong, kami melihat-lihat ke dalamnya.Kami berjalan berdampingan, dan setelah masuk ke salah satu rumah yang sedang dibangun. Dengan tiba-tiba saya dekap pundaknya, saya rekatkan ke dada saya, perasaan saya pada saat itu tidak menentu, antara senang, takut kalau-kalau dia marah dan menampar saya, danperasaan birahi yang sudah sangat menggebu. Tetapi syukur, ternyata dia hanya tersenyum memandang saya. Melihat tidak ada penolakan yang berarti, saya mulai berani untuk mencium pipinya, lagi-lagi dia hanya tersenyum malu sambil pura-pura menjauhkan diri dan sambil berkata, "Ach.. Alvi ini ada-ada saja.."Saya berkata, "Mbak Yati marah yaa..?"Dia hanya menjawab dengan gelengan kepala dan sambil tersenyum terus menundukkan kepala.Melihat bahasa tubuh yang menunjukkan "lampu Hijau", serangan saya semakin berani. Saya mengejarnya dan mendekapnya, dan akhirnya saya berhasil mencium bibirnya yang tipis, mungil dan berkilat oleh lipstick yang selalu menghiasi bibirnya. Sambil saya bersandar di dinding, saya dekap dengan erat tubuh Mbak Yati.Saya cium bibirnya, "Uhhmmm..." dia bergumam dan balas memeluk dengan erat.Ternyata tanpa diduga, Mbak Yati membalas ciuman saya dengan bergairah. Saya kembali balas ciumannya yang sangat bergairah dengan permainan lidah saya. Lidah kami sudah menari-nari. Kedua tangan saya sudah mencari sasaran-sasaran yang sensitif. Bukit kembarnya yang mungil tapi masih padat dan terlihat seksi menjadi sasaran kedua tangan saya.Kedua bukit kembar ini sudah lama kuidam-idamkan untuk menjamahnya. Kami berciuman agak lama. Nafas Mbak Yati semakin memburu. Ciuman, saya alihkan dari bibirnya yang mungil turun ke lehernya. Dia menengadahkan wajahnya sambil matanya terpejam. Menikmati rangsangan kenikmatan yang sudah lama tidak dia rasakan."Uchmmm... mmmm..." mulutnya selalu bergumam, tandanya dia menikmatinya.Kedua tanganku saya dekapkan ke pantatnya yang bulat dan seksi. Sehingga tubuhnya semakin marapat ke tubuh saya. Dekapan kedua tangannya ke leher saya semakin diperkuat, seiring dengan lenguhan bibirnya yang semakin panjang, "Uuucchmmm... mmm."Batang kejantanan yang tegang sejak berangkat dari rumahnya Mbak yati, kini ditekan dengan kencang oleh tubuh Mbak Yati yang bergoyang-goyang. Rasa nikmat menjalar dari batang kejantananku mengalir naik ke ubun-ubun. Ciumanku terus turun setelah beberapa lama singgah di lehernya, turun menuruni celah bukit kembarnya. Kedua BH-nya yang berwarna merah muda, serasi dengan kulitnya yang langsat, semakin menambah indahnya susu Mbak Yati.Karena tubuh Mbak Yati agak kecil, saya agak sedikit berjongkok, agar mampu mencium kedua susunya yang sudah mengeras. Kedua tangan saya pergunakan untuk menahan punggungnya yang mulai melengkung atas sensasi ciuman saya ke susunya. Deru nafas Mbak Yati semakin memburu.Gesekan tubuhnya ke batang keperkasaan saya semakin cepat frekuensinya, dan akhirnya, "Udach acch Alvii... jangan disini, nggak enak kalau nanti ketahuan..." sambil berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan saya."Sebentar Mmmbbak..!" jawab saya dengan mulut tidak bergeser dari susunya."Alvi, nanti kita lannnjuttkan saja di lllain tttemmpat..." suranya terputus-putus karena tersengal oleh nafasnya yang memburu."Oke dech Mbak Yati, tapi Mbak Yati harus janji dulu, kapan dilanjutkannya dan dimana..?" tanyaku sambil masih mendekap dengan erat tubuh Mbak Yati."Besok pagi saja di rumahku jam sepuluh. Karena kalau pagi rumahku sepi.""Oke dech, besok pagi jam sepuluh saya datang lagi.""Yuk kita pulang, anter aku dulu ke rumah, anak nakaaall..!" pinta Mbak Yati manja sambil mencubit hidungku."Aku antar ke rumah, tapi kasih dulu uang muka untuk besok pagi." sambil mengarahkan ciuman saya ke bibirnya sekali lagi sebagai uang muka untuk besok pagi.Dia belum sempat tersenyum karena bibirnya sudah kukulum dengan mesranya.Hari mulai gelap dan gerimis mengiringi kepulangan kami. Kami berjalan pulang ke rumah Mbak Yati, tetapi suasana dalam perjalanan pulang sudah jauh berbeda dengan suasana ketika kami berangkat tadi. Karena ketika kami berangkat tadi, perilaku kami sebagai seorang tante dengan "keponakannya", tapi sekarang sudah berubah menjadi perjalanan seorang tante dengan "keenakannya".Selama perjalanan, Mbak Yati menggoda saya, "Waduh.., ternyata selama ini saya salah, saya kirain Alvi itu orangnya alim, tapi ternyata...""Ternyata enak khan..?" goda saya sambil mencubit dagunya yang menggemaskan. Kami berdua tertawa berderai."Kalau tahu gitu, mending dari dulu yaa..?" kata Mbak Yati menggoda."Iya kalau dari dulu, memek Mbak Yati mungkin tidak karatan ya..?" balasku menggoda."Emangnya besi tua..!" jawab Mbak Yati bersungut."Bukan besi tua, tapi besi pusaka." jawab saya.Selama perjalanan, tangan Mbak Yati tidak henti-hentinya selalu meremas tangan saya yang sebelah kiri (sebelah kanan untuk pegang setir). Tangan saya baru dilepaskan ketika saya pergunakan untuk pindah gigi saja. Selebihnya selalu dipegang dan diremas-remas oleh Mbak Yati."Mbak.., jangan tanganku aja donk yang diremas-remas..!" pinta saya dengan manja."Lha yang mana lagi yang minta diremas..?""Ya yang nggak ada tulangnya donk yang diremas.""Dasar anak nakal." Mbak Yati tersenyum, tapi tangannya beralih untuk meremas rudal yang masih tegang belum tersalurkan.Ternyata Mbak Yati tidak hanya meremas rudal saya saja, melainkan juga menciuminya."Mbak.., bebas aja lho Mbak, jangan sungkan-sungkan, anggap aja milik sendiri." goda saya sambil tersenyum."Terus minta diapakan lagi..?" pancing Mbak Yati."Yaa.., kalau mau dikulum juga boleh." jawab saya."Emangnya nggak kelihatan orang..?" tanyanya ragu."Khan udah malem, lagian hujan, pasti nggak kelihatan."Tanpa menunggu jawaban, tangan Mbak Yati sudah mulai membuka resluiting celana dan mengeluarkan rudal saya. Saya geser kursi saya agak ke belakang, agar Mbak Yati dapat leluasa mempermainkan rudal indah milik saya. Dirabanya rudal itu dan diciuminya, akhirnya bibirnya yang mungil mengulum dan menjilatinya. Terasa mendapat aliran listrik yang menggetarkan ketika lidah Mbak Yati menjilati kepala rudal saya. Dan terasa hangat dan basah ketika mulutnya mengulum batang kejantanan saya yang semakin menegang. Dua perasaan yang penuh sensasi berganti-ganti saya rasakan. Antara getaran karena jilatan lidah dan hangatnya kuluman saling berganti. Kedua kaki terasa tegang, dan pantat saya tidak terasa terangkat karena sensasi yang ditimbulkan oleh kuluman bibir Mbak Yati yang ternyata sangat ahli.Untuk menghindari konsentrasi yang terpecah, terpaksa saya meminggirkan mobil ke jalur lambat, dan memberhentikan mobil. Keadaan sangat mendukung, karena pada saat itu tepat dengan turunnya hujan, dan lalu lintas kendaraan agak sepi, sehingga kami berdua tidak merasa terganggu untuk melanjutkan permainan di dalam mobil.Mbak Yati mengulum kemaluan saya dengan semangat. Kepalanya terlihat turun naik-turun naik yang terkadang cepat, terkadang lambat. Mulutnya terus bergumam, sebagai tanda bahwa dia juga menikmatinya. Kedua tangan saya memegang kepala Mbak Yati naik-turun mengikuti gerakannya. Kaki semakin kejang dengan pantat saya yang naik turun akibat rasa sensasi yang luar biasa. Untuk mengimbangi permainannya, pantat Mbak Yati yang terlihat nungging, saya remas dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih membelai susu Mbak Yati, saya remas dengan pelan kedua susunya bergantian dengan tangan kanan.Resluiting rok bawahnya yang ada di pantat, mulai saya buka, terlihat CD-nya yang berwarna merah muda. Saya masukkan tangan kiri ke dalam CD-nya dan meremas dengan gemas pantatnya yang padat berisi. Tangan saya bergerak turun menelusuri celah pantatnya, dan sekarang menuju liang kemaluannya. Kemaluannya saya sentuh dari belakang, dan terasa sudah sangat basah dan merekah. Saya belai-belai bibir luar kewanitaannya dan akhirnya saya belai-belai klitnya. Merasa klitnya tersentuh oleh jari saya, pantat Mbak Yati semakin dinaikkan, dan terasa tegang, kuluman ke batang kejantanan saya semakin kencang. Tangan kanan saya masih meremas-remas susunya yang semakin tegak. Melihat perpaduan antara belaian klitoris, remasan susu dan kuluman rudal, suara kami jadi semakin maracau.Pantat kami semakin naik turun. Erangan kenikmatan dan sensasi aliran listrik menjalar ke sekujur tubuh kami. Tiba-tiba Mbak Yati melepaskan kulumannya. Dia kembali ke posisi duduk dan telentang sambil matanya tetap terpejam oleh kenikmatan yang sudah bertahun-tahun tidak dirasakan. Saya tahu maksudnya, bahwa dia minta gantian agar kewanitaannya dijilati.Saya singkapkan roknya, dan Mbak Yati dengan tergesa-gesa melepaskan sendiri CD-nya, seakan tidak sabar dan tidak ingin ada waktu luang yang terputus. Kedua kakinya sudah ditelentangkan, kemaluannya yang mungil dengan bulu-bulu halus dan terawat sudah kelihatan merekah. Saya dekatkan mulut saya ke liang senggamanya, tetapi saya baru akan menjilati kedua selangkangannya terlebih dahulu. Dia meremas-remas rambut saya. Kedua kakinya mengejang-ngejang dan bergerak-gerak tidak terkontrol. Pantatnya digerak-gerakkan naik turun. Ini artinya Mbak Yati sudah sangat penasaran dan sangat gemas agar kemaluannya ingin dijilati. Dia kelihatan penasaran sekali. Saya jilati bibir kemaluannya.Harumnya yang khas kemaluan wanita semakin merangsang saya. Remasan-remasan di kepala saya semakin kuat. Akhirnya saya buka bibir kemaluannya, saya jilati klitorisnya. Ketika lidah saya menyentuh klitorisnya, nafas lega dan erangan kenikmatan keluar dari mulutnya."Uuuhhh... uhhh... uughhh..!" terus menerus keluar dari mulutnya.Kepalanya selalu bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Remasan remasan tangan kirinya sekarang beralih ke punggung saya, sedangkan tangan kanannya berusaha mencari batang keperkasaan saya dan akhirnya meremas-remas dan mengocoknya. Tangan yang lembut dengan kocokan dan remasan yang halus, memijat-mijat batang kejantanan saya, memberikan sensasi tersendiri pada rudal kebanggaan milik saya.Lidah saya berputar-putar di klitorisnya, usapan-usapan lidah di dinding vagina, terkadang saya selingi dengan isapan dan gigitan halus di klitorisnya, membuat dia semakin marancu, "Uuugghhh... geellliii banggeeettt..! Uuufff.., ggellliii bannget..! Uufff gglliii..."Dan secara tiba-tiba kedua tangannya mencakar punggung saya, kedua kakinya menegang, dadanya membusung naik diikuti dengan getaran tubuh yang hebat sambil mengerang, "Uuuggghhhfff Aaalllviii.., uufff aku mmmauu kkeellluuua... aaarrr..."Nafasnya tersengal dan memburu, tandanya dia sudah sampai di puncak kenikmatan seorang wanita."Aaalllviii.., kamu belum yaaa..? Sini kukulum biar cepet nyampai." suara Mbak Yati sambil nafasnya masih memburu.Dia membungkuk di pangkuan saya, saya telentang di jok. Dia kembali mengulum batang kejantanan saya. Bibir yang manis dan mungil kembali mengocok-ngocok rudal saya. Lidahnya dengan lembut menyapu kepala kemaluan saya. Sensasi yang tadi sempat terputus, kembali dapat saya rasakan. Kaki saya menegang, pantatku terangkat, tangan saya meremas-remas kedua pipinya. Aliran listrik menjalar dari kepala kejantanan saya, naik ke ubun-ubun dan sekujur tubuh. Aliran tersebut kembali lagi bersama-sama mengarah ke ujung rudal saya, ke kepala kemaluan saya, dan akhirnya keluar bersama-sama dengan cairan putih dan kental ke mulut Mbak Yati, ke bibir Mbak Yati, ke hidungnya dan ke pipinya, banyak sekali. Seakan-akan habis sudah cairan yang ada di tubuh ini, lemas kedua tubuh kami. Untuk sejenak kami berdua berdiam diri, untuk menikmati sensasi kami, untuk mengatur nafas kami dan untuk menenangkan emosi kami.Kami berdua telentang di jok kami masing-masing, dengan kemaluan kami yang masih terbuka. Kami saling berpandangan dan tersenyum puas. Tangan kanan Mbak Yati meremas tangan kiriku, saya tidak tahu apa artinya, apakah ucapan terima kasih, pujian ataukah janji untuk mengulangi lagi apa yang telah kami lakukan.Setelah istirahat sejenak, Mbak Yati mengambil tisue dan membersihkan cairan kental yang belepotan di perutku dan kemaluan saya. Mbak Yati memmbersihkannya dengan mesra dan terkadang bercanda dengan mencoba meremas dan membangunkan kembali rudal saya."Mbak. Jangan digoda lagi lho, kalau ngamuk lagi gimana..?" kataku bercanda."Coba aja kalau berani, siapa takut..!" jawabnya sambil menirukan iklan di TV.Setelah membersihkan kemaluanku, dia juga membersihkan kemaluannya dengan tisue, dan memakai kembali CD-nya, merapihkan rok, blus dan BH-nya yang kusut. Sementara saya juga merapihkan kembali celana saya.Dia menyisir rambutnya, dan merapikan kembali riasan wajahnya, sambil melirik dan tersenyum ke saya penuh bahagia."Mbak.., besok tetap lho ya jam sepuluh pagi." saya mengingatkan."Pasti donk, mana sih yang nggak pengin sarang burungnya dimasukin burung." canda dia."Apalagi sarangnya sudah kosong lama ya Mbak..?" godaku."Pasti enak kok kalau udah lama." jawab dia.Setelah kami semua rapih, Mbak Yati aku antar pulang dengan tetap berdekapan, dia tertidur di dadaku, tangan kiri saya untuk mendekap dia dan tangan kanan saya untuk pegang stir.Sesampainya di rumah MBak Yati, cuaca masih gerimis. Mbak Yati menawarkan untuk mampir sebentar di rumah."Vi, masuk dulu yuk..! Aku buatkan kopi hangat kesukaanmu." ajak Mbak Yati."Oke dech, aku parkir dulu mobilnya ya..?"Sampai di dalam rumah Mbak Yati, ternyata Tarno tidak ada. Menurut Bi Inah, pembantu Mbak Yati, katanya Tarno hari ini tidak pulang, karena diminta atasannya dinas ke luar kota."Vi, ternyata Tarno malam ini nggak pulang. Kamu tidur aja disini, di kamar Tarno." pinta Mbak Yati sambil senyum penuh arti.Aku tahu kemana arah pembicaraan Mbak Yati."Nggak mau kalau tidur di kamar Tarno, aku takut sendirian." godaku."Emangnya takut sama siapa..?""Ya takut kalau Mbak Yati nanti nggak nyusul ke kamarku.""Sssttt..! Jangan keras-keras, nanti ada yang denger." Mbak Yati cemberut, takut kalau ada yang dengar."Ya udah, aku tidur sendiri di kamar Tarno, kalau nanti malam saya dimakan semut, jangan heran lho Mbak..!" saya pura-pura merajuk."Nggak usah ribut, mandi sana dulu, nanti malam kalau semua orang udah pada tidur, kamu boleh nyusul aku ke kamar, nggak saya kunci kamarku." bisik Mbak Yati pelan."Siiip dach..!" aku ceria dan langsung pergi mandi.Habis mandi, badan saya terasa segar kembali. Saya langsung pergi ke kamar, pura-pura tidur. Tetapi di dalam kamar saya membayangkan apa yang akan saya lakukan nanti setelah berada di kamar Mbak Yati. Saya akan bercinta dengan orang yang sudah bertahun-tahun saya idamkan.Jam di kamar saya menunjukkan pukul 12:30 malam. Kudengarkan kondisi di luar kamar sudah kelihatan sepi. Tidak terdengar suara apapun. TV di ruang keluarga juga sudah dimatikan Bi Inah kira-kira jam 11 tadi. Bi Inah adalah orang yang terakhir nonton TV setelah acara Srimulat yang merupakan acara kegemaran Bi Inah. Untuk mempelajari suasana, saya keluar pura-pura pergi ke kamar mandi. setelah benar-benar sepi, saya mengendap-endap masuk ke kamar Mbak Yati.Lampu di kamar Mbak Yati remang-remang. Mbak Yati tidur telentang dengan mengenakan daster tipis yang semakin memperindah lekuk tubuh Mbak Yati. Tubuh Mbak Yati yang mungil tapi padat berisi, terlihat tampak sempurna dibalut daster tersebut. Dengan tidak sabar saya dekap tubuh Mbak Yati yang sedang telentang bagaikan landasan yang sedang menunggu pesawatnya mendarat.Mbak Yati saya dekap hanya tersenyum sambil berbisik, "Sudah nggak sabar ya..?""Ya Mbak, perasaan waktu kok berjalan pelaaan sekali..."Saya cium belakang telinganya yang mungil dan ranum, kemudian ciuman saya bergeser ke pipinya dan akhirnya ke bibirnya yang mungil dan juga ranum. Kedua tangan Mbak Yati mendekap erat di leher saya. Tangan saya yang kiri saya letakkan di bawah kepala Mbak Yati untuk merangkulnya. Sedangkan tangan kanan saya gunakan untuk membelai dan melingkari sekitar susunya. Dan dengan perlahan dan lembut, telapak tangan saya gunakan untuk meremas-remas lingkaran luar payudaranya, dan ternyata Mbak Yati sudah tidak memakai BH lagi.Erangan-erangan lembut Mbak Yati mulai keluar dari bibirnya, sedangkan kedua kakinya bergerak-gerak menandakan birahinya mulai timbul. Remasan-remasan tanganku di seputar susunya mendapatkan reaksi balasan yang cukup baik, karena kekenyalan susu Mbak Yati kelihatan semakin bertambah. Tangan kanan saya geserkan ke bawah, sebentar mengusap perutnya, beralih ke pusarnya, dan akhirnya saya gunakan untuk mengusap kewanitaannya. Ternyata Mbak Yati juga sudah tidak memakai CD, sehingga kemaluannya yang bulat dan mononjol, serta kelembutan rambut kemaluannya dapat saya rasakan dari luar dasternya.Kedua kakinya semakin melebar, memberikan kesempatan seluas-luasnya tangan saya untuk membelai-belai kewanitaannya. Ciuman saya beberapa saat mendarat di bibirnya, kemudian saya alihkan turun ke lehernya, ke belakang telinganya, dan akhirnya turun ke bawah, melewati celah di bukit kembarnya. Saya ciumi lingkaran luar bukit kembarnya, sebelum akhirnya menyiumi puting susunya yang sudah mengacung. Ketika lidah saya menyium sampai ke putingnya, nafas Mbak Yati kelihatan mengangsur, menunjukkan kelegaan."Uuucccghhh... Alllviii..!"Tali daster yang menggantung di pundaknya, saya pelorotkan sehingga menyembullah kedua bukit kembarnya yang kenyal, dengan kedua putingnya yang sudah mengacung dan tegang. Saya ciumi sekali lagi kedua bukit kembarnya, dan saya jilati putingnya dengan lidah. Sementara kedua jari dari tangan kanan saya secara bersamaan membelai-belai kedua selangkangannya, yang terkadang diselingi dengan usapan kemaluan luarnya dengan telapak tangan kanan saya. Belaian ini memberikan kehangatan di bibir kewanitaannya, selain untuk meningkatkan rasa penasaran liang senggamanya.Jari tengah saya gunakan untuk mebelai-belai bibir luar kemaluannya yang sudah sangat basah. Saya usap klitorisnya dengan lembut dan pelan dengan menggunakan ujung jari, membuat Mbak Yati semakin menikmati belaian lembut klitorisnya. Bibir kewanitaannya semakin merekah dan semakin basah.Lidahku masih menari-nari di kedua putingnya yang semakin keras, jilatan lidah saya memberikan sensasi yang kuat bagi Mbak Yati. Terbukti dia semakin erat meremas rambut saya, deru nafasnya semakin memburu dan lenguhannya semakin kencang."Uuucccggghhh... Aaalllviii... uuuggghhh... eeennnaaagggkkk..."Saya jilati kedua putingnya kanan dan kiri bergantian, sambil meremasi dengan lembut tetapi sedikit menekan kedua susunya dengan kedua tangan saya.Setelah saya puas menciumi susunya, ciuman saya geser ke arah perutnya, saya jilati pusarnya, kembali Mbak Yati sedikit menggelinjang, mungkin karena kegelian. Ciuman terus saya geser ke bawah, ke arah pahanya, turun ke bawah betisnya, terus naik lagi ke atas pahanya, kemudian ciuman saya arahkan ke rambut kemaluannya yang lebat. Mendapat ciuman di rambut kemaluannya, kembali Mbak Yati menggelinjang-gelinjang. Saya buka bibir kemaluannya yang merekah, saya ciumi dan jilati seputar bibir kewanitaannya, terus lidah saya diusapkan ke klitorisnya, dan bergantian saya gigit, terkadang saya hisap klitorisnya.Setiap sentuhan lidah saya menjilat pada klitorisnya, tangan Mbak Yati menjambak rambut saya. Kepalanya menggeleng-geleng, dengan dada yang dibusungkan, kedua kakinya mendekap erat leher saya, dan kicaunya semakin tidak karuan, "Uuuccgghh.. Aaalllvvviii.. uughhh... ggeellii... uuufff.. ggeellii... seekkaaalliii..."Cairan yang keluar dari kemaluannya semakin banyak, bau khas liang senggamanya semakin kuat menyengat. Rintihan, lenguhan yang keluar dari mulut Mbak Yati semakin kacau. Gerakan-gerakan tubuh, kaki dan gelengan-gelengan kepala Mbak Yati semakin kencang. Dadanya tiba-tiba dibusungkan, kedua kakinya tegang dan menjepit kepala saya. Saya mengerti kalau saat ini detik-detik orgasme akan segera melanda Mbak Yati. Untuk memberikan tambahan sensasi kepada Mbak Yati, maka kedua putingnya saya usap-usap dengan kedua jari tangan, dengan mulut tetap menyedot dan menghisap klitorisnya, maka tiba-tiba, "Aaauughh... Aalllvviii aakk... kkkuu... kkeeelluuarrr... Aaacchh..!"Saya tetap menghisap klitorisnya. Dan dengan nafas masih terengah-engah, Mbak Yati bangun dan duduk."Ayo Alvi.., gantian kamu tidur aja telentang..!" kata Mbak Yati sambil menidurkan saya telentang.Gantian Mbak Yati telungkup di samping saya. Tangannya yang lembut sudah mulai mengelus-elus batang kemaluan saya yang sudah sangat tegang. Mulutnya yang mungil mencium bibir, terus turun ke puting. Saya merasa sedikit kegelian ketika dicium puting saya. Mulutnya terus turun mencium pusar, dan akhirnya saya rasakan ada rasa hangat, basah dan sedikit sedotan sudah menjalar di rudal saya. Ternyata Mbak Yati mulai mengocok dan mengulum kejantanan saya. Mbak Yati mengulumnya dengan penuh nafsu. Matanya terpejam tetapi kepalanya turun naik untuk mengocok rudal saya.Kepala kemaluan saya dijilatinya dengan lidah. Tekstur lidah yang lembut tapi sedikit kasar, membuat seakan ujung jari kaki saya terasa ada getaran listrik yang menjalar di seluruh kepala. Jilatan lidah di kepala rudal memang sangat enak. Aliran listrik terus menerus menjalar di sekujur tubuh saya. Kepala Mbak Yati yang naik turun mengocok kejantanan saya yang saya bantu pegangi dengan kedua tangan. Kocokannya semakin lama semakin kuat, dan hisapan mulutnya seakan meremas-remas seluruh batang keperkasaan saya. Seluruh pori-pori tubuh saya seakan bergetar dan bergolak. Getaran-getaran yang menjalar dari ujung kaki dan dari ujung rambut kepala, seakan mengalir dan bersatu menuju satu titik, yaitu ke arah rudal keperkasaan saya.Getaran-getaran tersebut makin hebat, akhirnya kemaluan saya menjadi seolah tanggul yang menahan air gejolak. Lama-lama pertahanan kemaluanku seakan jebol, dan tiba-tiba saya menjerit."Mmmbbbakkk Yaattii... aaggkkuu kkelluuaaarrr..!"Mendengar saya mengerang mau keluar, mulut Mbak Yati tidak mau melepaskan batang kejantanan saya, tetapi malah kulumannya dipererat. Mulut Mbak Yati menyedot-nyedot cairan yang keluar dari rudal saya dengan lahapnya, seakan tidak boleh ada yang tersisa. Batang kemaluan saya dihisap-hisapnya seakan menghisap es lilin. Sensasinya sungguh sangat dahsyat. Ternyata Mbak Yati sangat ahli dalam permainan oral.Nafas saya sedikit tersengal, badan sedikit lemas, karena seakan-akan semua cairan yang ada di tubuh, mulai dari ujung kaki sampai dengan kepala, habis keluar tersedot oleh Mbak Yati.Mbak Yati tersenyum puas sambil menggoda, "Gimana rasanya..?""Waduh.., Mbak luar biasa..." jawabku sambil masih terengah-engah."Nggak kalahkan dengan yang muda..?" kata Mbak Yati dengan berbangga."Yaa jelas yang lebih pengalaman donk yang lebih nikmat."Kami istirahat sejenak sambil minum. Tetapi ternyata Mbak Yati memang luar biasa. Baru istirahat beberapa menit, tangannya sudah mulai bergerak-gerak di perut, di paha dan di selangkangan saya, membuat rasa geli di sekujur tubuh. Tangannya kembali meremas-remasbatang kemaluan saya. Karena masih darah muda, maka hanya sedikit sentuhan, kemaluan saya langsung berdiri dengan gagahnya mencari sasaran. Melihat batang keperksaan saya dengan cepatnya berdiri lagi, wajah Mbak Yati kelihatan berseri-seri. Sambil tangannya tetap mengocoknya, kami saling berciuman. Bibir Mbak Yati yang mungil memang sangat merangsang semua laki-laki yang melihatnya. Ciuman yang lembut dengan usapan-usapan tangan saya ke arah putingnya, membuat birahi Mbak Yati juga cepat naik. Putingnya seakan-akan menjadi tombol birahi. Begitu puting Mbak Yati disenggol, lenguhan nafasnya langsung mengencang, kedua kakinya bergerak-gerak, pertanda birahinya menggebu-gebu.Saya usap liang senggamanya dengan tangan, ternyata liang kenikmatan Mbak Yati sudah sangat basah."Gila bener cewek ini, cepet sekali birahinya..," pikir saya dalam hati.Mbak Yati menarik-narik punggung saya, seakan-akan memberi kode agar senjata rudal saya segera dimasukkan ke sarangnya yang sudah lama tidak dikunjungi burung pusaka."Ayo dong Vi..! Cepetan, Mbak sudah nggak tahan nich..!"Alat vital saya sudah semakin tegang, dan saya sudah tidak sabar untuk merasakan kemaluan Mbak Yati yang mungil. Saya sapukan perlahan-lahan kepala kejantanan saya di bibir kewanitaannya. Kelihatan sekali kalau Mbak Yati menahan nafas, tandanya agak sedikit tegang, seperti gadis yang baru pertama kali main senggama. Setelah menyapukan kepala rudal saya beberapa kali di bibir kenikmatannya dan di klitorisnya. Akhirnya saya masukkan burung saya ke sarangnya dengan sangat perlahan.Kedua tangan Mbak Yati meremas pundak saya. Kepalanya sedikit miring ke kiri, matanya terpejam dan mulutnya sedikit terbuka sangat seksi sekali, tandanya Mbak Yati sangat menikmati proses pemasukan batang kejantanan saya ke liang senggamanya. Lenguhan lega terdengar ketika kepala kemaluanku membentur di dasar liang kenikmatannya. Saya diamkan beberapa saat rudal saya terbenam di liang senggamanya untuk memberikan kesempatan kemaluan Mbak Yati merasakan rudal kenikmatan dengan baik.Saya pompakan batang kejantanan saya ke liang senggama Mbak Yati dengan metode 10:1, yaitu sepuluh kali tusukan hanya setengah dari seluruh panjang batang kejantanan saya, dan satu kali tusukan penuh seluruh batang kejantanan saya sampai membentur ujung rahimnya. Metoda ini membuat Mbak Yati merancau tidak karuan. Setiap kali tusukan saya penuh sampai ujung, saya kocok-kocokkan kejantanan saya beberapa lama, akhirnya saya rasakan kaki Mbak Yati melingkar kuat di pinggang saya.Kedua tangannya mencengkram punggung saya, dan dadanya diangkat membusung, seluruh badannya tegang mengencang, diikuti dengan lenguhan panjang, "Aaacchhh... aaauuuggghhh... Aallvvii... aakkku.. kkkeelluuaaa.. aaa.. rrr..!"Batang kemaluan saya terasa sangat basah dan dicengkram sangat kuat. Merasakan remasan-remasan pada rudal saya yang sangat kuat, membuat pertahann saya juga seakan makin jebol dan akhirnya, "Ccrroot... crooot... crrrot..!" saya juga keluar.Setelah permainan itu, saya sering melakukan hubungan seks berkali-kali, bisa seminggu dua kali saya melakukan hubungan seks dengan Mbak Yati. Ternyata nafsu seks Mbak Yati cukup besar, kalau satu minggu saya tidak bermain seks dengan Mbak Yati, pasti Mbak Yati akan main ke rumah, ataupun setelah bekerja, dia akan menelpon saya di kantor untuk meminta jatah.Saya melakukan hubungan seks dengan Mbak Yati bisa dimana saja, asal tempatnya memungkinkan. Baik di rumah saya, di rumah dia, di hotel, di mobil, di garasi, di kamar mandi sambil berendam di bath-tub, di dapur sambil berdiri, bahkan aku pernah bermain seks di atas kap mesin mobil saya. Ternyata berhubungan seks itu kalau dengan perasaan agak takut dan terkadang tergesa-gesa, memberikan pengalaman tersendiri yang cukup mengasyikkan.

SETENGAH BAYA

Saya berangkat dari Bandung siang hari, sampai di sana sudah malam. Setibanya saya di rumah sahabat saya, saya langsung memencet bel pintu rumah. Begitu bel dipencet, keluarlah seorang wanita setengah baya, dan dia adalah ibu sahabat saya, namanya Ibu Ita. O ya.., Ibu Ita adalah seorang janda, umurnya saya perkirakan sekitar 39 tahun. Walaupun umurnya sudah hampir mencapai kepala 4, tetapi masih kelihatan seksi dan montok, walaupun buah dada yang besar itu sedikit kendor.


"Malam Bu..," sapa saya. "Ooo, Nak Dedi. Malam juga.., ayo masuk..!" balasnya, lalu saya pun masuk ke dalam ruang tamu. "Sama sapa kamu Ded..?" tanyanya. "Saya sendiri Bu, o ya.., Rinto mana Bu..?" saya balik bertanya. "Rinto sedang ke Batam, kemaren dia berangkat, dia ada panggilan kerja di sana." katanya. "Ke Batam..?" tanya saya penuh heran dan sedikit kecewa. "O ya.., Dedi tidur dimana..?" tanya Bu Ita. "Ngga tau nich Bu.., mungkin saya akan langsung balik lagi ke Bandung, soalnya Rinto ngga ada sich Bu.." kata saya. "Jangan pulang dulu Nak Dedi, mendingan kamu tidur aja disini, sekarang kan sudah malam, lagian tuch masih ada kamar kosong..." katanya


Saya diam sejenak dan mempertimbangkan ajakannya. "Oke dech Bu.., saya akan menginap beberapa hari lagi disini..." kata saya. "Ayo.., bawa tas kamu ke kamar depan. Kalau mau mandi silahkan aja, ada air hangatnya tuh di kamar mandi" katanya sambil tersenyum manis kepada saya.


Lalu saya membawa tas saya dan masuk ke kamar tamu, setelah itu saya menuju ke kamar mandi, lalu mandi dengan air panas. Setelah mandi, dengan masih handuk dililitkan di pinggang, saya melihat Ibu Ita sedang menyiapkan makanan buat saya. Tanpa menyapa dan hanya melempar senyum, saya berlalu masuk ke kamar. Sesampainya di kamar, saya tidak langsung memakai pakaian, tetapi saya telanjang bulat di hadapan cermin sambil membayangkan jika batang keperkasaan saya ini dinikmati oleh Ibu Ita. Saya berdiri dengan bergaya sambil memainkan batang kejantanan saya hingga benda itu tegak dan mengeras. Tetapi begitu terkejutnya saya ketika tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh Ibu Ita. Lalu dengan seketika saya menghadap pintu yang dibuka oleh Ibu Ita dengan membebaskan batang kejantanan saya dilihat Ibu Ita, dan Ibu Ita hanya bisa menatap terpana akan keindahan batang kejantanan saya.


Setelah beberapa detik terdiam, Ibu Ita pun berbicara, "Ded.. makanan udah Ibu siapin.., ayo makan bareng yuk..!" ajaknya tersipu malu dan menampakkan wajahnya yang memerah. "Baik Bu, sebentar lagi.., Dedi pakai pakaian dulu.." kata saya, lalu pintu pun tertutup kembali.


Setelah berpakaian, saya pun keluar ke arah ruang makan. Sesampainya disana, saya sempat terpana juga, ternyata Ibu Ita sudah mengganti bajunya dengan daster tidur yang tipis dan transparan. Ibu Ita memakai BH dan CD berwarna hitam, menambah pikiran saya yang tak karuan. Lalu dengan santai saya berjalan menuju meja makan, dan kami berdua pun langsung makan. Di meja makan kami pun terlibat percakapan. Dia menceritakan bahwa selama ini dia sangat kesepian setelah ditinggal suaminya, sedangkan dengan keberadaan Rinto masih kurang, sebab Rinto jarang berada di rumah.


Tetapi betapa terkejutnya saya saat Ibu Ita meminta saya untuk menemaninya tidur di kamarnya. Dengan terkejutnya hingga saya tersedak makan. Lalu dengan reflek, Ibu Ita berdiri dan menghampiri saya. Dari belakang, punggung saya diusap-usap sambil dia berkata, "Kalo makan hati-hati donk..!" Tapi entah sengaja atau tidak, buah dada yang besar itu menempel di punggung saya, membuat adik kecil saya yang di bawah mulai bangun. Lalu tanpa diduga, Ibu Ita yang sudah sangat menginginkan kehangatan lelaki, mulai agresif menciumi leher dan langsung ke pipi saya.


Dengan nafsu yang sudah menggebu-gebu, saya pun merangkul tubuh Ibu Ita dan langsung membalas ciumannya. Sambil berciuman, tangan saya mulai bergirlya meraba-raba dan meremas-remas buah dada yang besar itu. Ibu Ita hanya merintih dan badannya menggelinjang. 15 menit kami saling berciuman, lalu kami menghentikan acara ciuman kami. Tanpa harus bertanya lagi, Ibu Ita mengajak saya ke kamarnya, dengan memegang tangan saya. Saya dituntun menuju kamar tidurnya. Begitu di dalam kamar, pintu kamar dia kunci, lalu dia melepaskan baju saya dan celana hingga bugil dengan ganasnya. Lalu saya disuruh naik ke atas tempat tidur dan saya disuruh berbaring.


Dengan semangat 45, Ibu Ita menciumi saya dari atas hingga bawah, betapa nikmat dan gelinya ketika batang kemaluan saya dijilatnya, dikulum dan disedot-sedot sambil dikocok-kocok halus. 15 menit kemudian saya sudah tidak dapat menahan kenikmatan dari mulutnya, lalu, "Croottt... crrrooottt... crroottt..." air mani saya pun muncrat ke dalam mulutnya. Dengan bangganya air mani saya ditelan hingga habis, mulai dari helm sampai batang kemaluan saya pun dibersihkan dengan lidahnya.

Dengan perasaan tidak mau kalah, saya langsung membuka satu persatu pakaian yang dipakai Ibu Ita hingga bugil, dan aku membaringkannya di ranjang itu. Saya pun mulai menciuminya dan meremas-remas sambil menyedot-nyedot buah dada yang besar dan indah itu. "Hmmm.., terus Ded..! Iya itu.. enak.., aahhhh.., terus sayang..!" rintihnya. Lalu saya pun mulai turun menciuminya dan mulai saya menyibakkan bulu-bulu kemaluan yang lebat dan hitam itu, lalu saya menjilat-jilatinya sambil memasukkan jari-jari tangan saya ke lubang senggamanya. "Aaahhhkkk.., aaakkkhhh..," rintihnya. Tidak lama, bibir kewanitaannya sudah basah dengan cairan-cairan kental dari liang senggamanya.


Setelah puas, saya merubah posisi saya. Saya langsung berbaring dan Ibu Ita saya suruh naik di atas selangkangan saya dan berjongkok. Dengan tangannya sendiri, batang kejantanan saya diarahankannya masuk ke dalam lubang kenikmatannya. Dan, "Bleeesss.., bbllleeesss..." masuk sudah kemaluan saya dengan penuh ke dalam lubangnya yang ranum itu. "Aaakkkhhh.. aakkhhh.." saya menjerit karena merasa betapa nikmatnya kejadian itu. Lalu tubuh Ibu Ita mulai naik turun di selangkangan saya, sesekali pantatnya diputar-putar. Saat pantatnya diputar terasa nikmat sekali.


15 menit kemudian, saya merubah posisi dengan batang kejantanan saya masih di dalam liang senggamanya. Saya merubahnya dengan posisi dia berbaring, lalu saya duduk dan mengangkat satu kaki Ibu Ita ke atas. Lalu saya mulai memaju-mundurkan senjata keperkasaan saya di liang senggamanya dengan irama sedang-sedang saja.



Kemudian, tidak lama setelah itu, saya merubah lagi posisi. Sekarang saya merubah ke posisi doggie style. Saya tusuk-tusukkan batang keperkasaan saya itu dari belakang. "Aaakkkhhh.., aaakkkhhh.., sayang... Ibu mau keluar nich..!" katanya sambil berusaha menahan dorongan yang saya lakukan. "Keluarain aja Bu.., Dedi masih belom mau keluar.." balas saya yang masih tetap memacu gerakan. Lalu, "Aaakkkhhh..." ternyata Ibu Ita sudah keluar. Saya merasakan lubang di dalam dinding kemaluannya licin karena cairan itu. Tapi aku masih terus mengocok-ngocok batang keperkasaan saya di liang senggamanya. Setelah itu kami merubah posisi lagi. Sekarang posisi Ibu Ita berbaring, lalu saya angkat kedua kakinya dan saya rentangkan lebar-lebar kemaluannya dan saya menyodoknya dari depan.



10 menit kemudian, saya sudah tidak tahan lagi ingin menembakkan lahar saya. Lalu saya tarik batang kejantanan saya. Saya segera membangunkan Ibu Ita untuk duduk dan batang kejantanan saya, saya arahkan ke mulutnya. Dengan cepat Ibu Ita menyambutnya, dia mulai mengocok-ngocok dan, "Crroottt.., cccrrooott.., cccrrooott..!" air mani saya menyembur ke wajahnya. Tanpa disuruh lagi, Ibu Ita langsung membersihkan batang kejantanan saya dan dijilat-jilatnya hingga bersih.


Setelah beberapa menit kami beristrirahat, kami pun melakukannya kembali hingga pukul 3 pagi. Permainan kami sangat indah dan mesra sekali saya rasakan, berbeda dengan pengalaman saya yang sebelumnya. Ibu Ita dan saya di permainan yang kedua melakukan hubungan seks yang halus dan lebih mesra, karena selain terasa lebih nikmat, kami juga membutuhkan adaptasi setelah permainan yang pertama. Setelah melakukan permainan yang ke-tiga, kami pun tidur bersama dengan keadaan bugil sambil kedua tangan Ibu Ita memeluk erat tubuh saya yang saat itu telah lemas tak berdaya. Kesekon harinya juga kami melakukannya lagi. Saya di Bogor hanya 2 hari, lalu saya pulang kembali lagi ke Bandung dengan membawa oleh-oleh kenangan yang indah bersama Ibu Ita.

Senin, 08 Oktober 2007

cerita buat konde sayang

AYAH dan ZAINAB
> (Cerpen imajinasi karangan Sato Sakaki sekedar
> intermezzo dari perdebatan keras di milis ini ..
> hehehe.)
>
> Kita sebut saja lelaki berumur 55 tahun itu ayah,
> sebab apalah artinya nama. Yang lebih penting: ayah
> macho, tampan, keturunan Arab, dan sejak mudanya sudah
> banyak perempuan yang dia cicipi, baik yang umur 40-an
> tahun maupun yang baru aqil-baliq, dikawini atau tidak
> dikawini.
>
> Peristiwa itu terjadi ketika dia berkunjung ke rumah
> anak angkatnya untuk suatu keperluan. Dia sengaja
> lewat pintu belakang, karena dia berharap ketiban
> rejeki lagi seperti beberapa pekan yang lalu,
> berhasil melihat tubuh telanjang menantunya yang
> cantik lagi mandi. Si menantu menjerit kecil sambil
> menggapai handuk, tetapi wanita usia 24 tahun yang
> belum punya anak itu tahu adalah kecerobohannya
> sendiri telah tidak menutup pintu kamar mandi.
>
> Tetapi hari ini dia tidak melihat Zainab menantunya
> itu di kamar mandi ataupun di dapur. Dia panggil
> namanya tetapi tidak ada sahutan. Diapun masuk ke
> ruang tengah dan melongok ke kamar, sepi, anak
> angkatnya Zainal juga tak ada dan itu dia sudah tahu.
> Lalu dia melangkah ke ruang tamu ... dan darahnya
> tersirap. Di sana dia melihat pemandangan mendebarkan.
> Zainab terbaring setengah miring di sofa dengan posisi
> yang aduhai. Kimononya terbuka di bagian dada yang
> tampaknya tidak berkutang dan ... sebelah kakinya
> keluar dari belahan kimono memperlihatkan bagian dalam
> pangkal pahanya yang putih mulus dan padat. Ayah
> mereguk liurnya. Tapi tiba-tiba dia panik,
> jangan-jangan .... diapun mendekat lalu berlutut di
> depan sofa memperhatikan helaan nafas dan mendengar
> baik-baik, dan diapun lega, Zainab bernafas dalam
> dengan teratur, dia hanya tertidur lelap. Ditatapnya
> wajah Zainab yang rupawan, hidungnya yang bangir,
> bibirnya yang bak limau seulas, dan dia perhatikan
> tangannya yang berbulu-bulu halus terbalik, dan
> dadanya yang membusung indah dan separuh terbuka.
> Sudah lama ayah mengagumi diam-diam kecantikan
> menantunya ini. Dan walaupun pernah dia pergoki lagi
> mandi telanjang, tidak pernah dia begitu dekat padanya
> seperti sekarang ini.
>
> Zainab tidur nyenyak sekali. Perlahan ayah mendekatkan
> wajahnya ke wajah Zainab sehingga dapat menghirup
> nafasnya, duh harum sekali. Jantung ayah berdebar
> semakin kencang dipacu hasrat berahi yang makin
> bergelora. Didekatkannya mulutnya ke mulut Zainab dan
> dikecupnya bibir mungil yang indah itu dan dikulumnya,
> sementara sebelah tangannya menyelusup ke balik kimono
> di bagian dada yang tidak berkutang. Sambil terus
> melumat bibir, tangannya meremas lembut payudara
> Zainab yang berbentuk bukit tempurung. Mula-mula yang
> kiri kemudian bergeser ke yang kanan.
>
> Zainab terbangun. Dia terperanjat dan hendak memaki
> karena mengira suaminya. Tetapi ketika melihat ayah
> kemarahannya segera pupus. Malah dia jadi
> berdebar-debar dan nafasnya kacau mengetahui apa yang
> telah diperbuat ayah mertuanya, dan darahnya mengalir
> kencang.
>
> Sudah lama Zainab jadi pengagum diam-diam ayah. Kagum
> kalau dia lagi bicara berapi-api di depan mimbar yang
> membuat semua hadirin tertegun terpesona.
> Kagum karena walau tua dia tampak atletis dan kuat
> dengan menyiratkan kejantanan dan keperkasaan seorang
> lelaki sejati, berbeda dengan suaminya yang walau
> masih muda tapi cepat loyo di tempat tidur. Ayah juga
> baik hati, punya banyak sumber penghasilan kiri-kanan
> dan bertanggungjawab. Semua biaya rumahtangganya
> ayahlah yang mencukupi. Dan dia ingat sekitar empat
> minggu yang lalu ketika ayah memergokinya sedang
> mandi. Betapa malunya dia. Mata ayah sempat menjilati
> seluruh tubuhnya, tidak ada lagi bagian yang tidak
> pernah dia lihat. Dan dia masih ingat apa yang
> dikatakan ayah setelah dia berpakaian dan menemuinya
> di ruang tamu dengan wajah bersemu merah. "Bukan main
> Nab, bukan main." Dan dia tahu benar apa yang
> terpancar dari mata laki-laki itu. Hasrat keinginan
> hendak memiliki.
>
> Dan kini dia berada dalam rangkulan ayah yang jongkok
> di depan sofa. "Ayah jangan, ini tidak boleh.."
> bisiknya seperti hendak menangis. "Aku sudah lama
> menginginkanmu Nab ..", kata ayah tersengal dan
> kembali melumat mulut Zainab. Dia bahkan memasukkan
> lidahnya ke mulut Zainab dan melilit lidah Zainab.
> Tangannya kembali meremas-remas kesana-kemari. Zainab
> gelagapan. Ketika ciuman dan kecupan ayah pindah ke
> wajah kemudian ke pangkal telinga dan ke lehernya,
> Zainab kembali tersengal, "Ayah sudah .... nanti
> kelihatan orang." Tapi ayah tidak peduli. Kenyataan
> Zainab tidak menjerit dan tidak banyak menolak, dan
> mendengar degup dadanya yang memburu kencang, membuat
> hatinya bersorak karena tahu tak lama lagi dia akan
> mendapatkan Zainab. Kecupan ayah pindah dari leher ke
> dada, sementara tangannya mulai menjamah mengusap paha
> Zainab yang tersingkap. Dibenamkannaya wajahnya di
> celah dada Zainab kemudian digigitnya kedua puting
> perempuan itu, sementara tangannya mengusap dan
> meremas bukit kemaluan Zainab yang masih ditutupi
> celana dalam. "Ayah jangan!" desah Zainab dekat
> telinganya. Tangannya mencoba menyingkirkan tangan
> ayah yang mulai menyelusup kedalam celana dalamnya dan
> menyentuh klitoris Zainab dengan jarinya, yang membuat
> perempuan bertubuh gemulai indah itu menggelinjang dan
> menggigit bahu ayah. Tapi ayah tahu perlawanan itu
> hanya perlawanan malu-malu. Dilumatnya lagi mulut
> Zainab dan dia lilit lagi lidah Zainab dengan lidahnya
> dan dia remas gemas lagi dadanya, lalu bukit
> kemaluannya, dan beberape menit kemudian setelah
> tangannya liar menjamah seluruh tubuh bagian bawahnya,
> celana dalam Zainab-pun berhasil dia loloskan dan
> terlepas dari ujung jari kakinya. "Ayah....hhhhhh",
> Zainab makin tersengal dan ayah cepat-cepat meloloskan
> celana luar dan celana dalamnya sendiri. Dirangkulnya
> perempuan cantik bahenol itu dan dihimpitnya di sofa.
> Dengan kedua lutut dibukanya jepitan paha Zainab dan
> dikangkangkannya kedua kakinya. Zainab juga sudah
> menggigil dilanda nafsu berahinya sendiri, liang
> vaginanya sudah basah menunggu tancapan batang
> kejantanan ayah yang sudah dia perkirakan akan jauh
> lebih perkasa dari milik suaminya. Dia letakkan
> sebelah kakinya di punggung sofa dan satu lagi
> terjuntai ke lantai. Dan ayahpun mengambil posisi
> diantara kedua paha Zainab lalu menuntun penisnya yang
> memang sudah lama ingin mereguk rasa bersarung di
> dalam liang nikmat menantu montok padat itu. Di
> cecahkannya kepala penisnya di mulut lobang vagina
> Zainab dan membasahinya dengan linangan pelumas yang
> sudah tergenang disana. "Zainab.." bisiknya dengan
> nafas sesak dekat telinga Zainab. "Apa yah ..?" sahut
> Zainab juga berbisik dirangsang nafsu. "Ayah boleh
> masuk?" Zainab tidak menjawab, dia malu. "Kamu kan
> tidak terpaksa kan Nab?" bisik ayah lagi. Dan ayah
> menusukkan kepala penisnya. "Kamu juga ingin kan?"
> Zainab diam namun dia merasakan nikmat masuknya kepala
> besar yang kenyal itu. Ayah menikamkan lagi separuh
> batangnya. "Enak kan zakar ayah Nab?" dengusnya.
> Zainab mengeluarkan suara dengusan dan merangkul leher
> ayah. "Sekarang kau kusantap habis", kata ayah dalam
> hatinya, dan seiring dengan itu ditikamkannya seluruh
> batangnya kedasar vagina Zainab. Tidak sampai disitu
> saja dia pun mengocok Zainab dengan dahsyat. Zainab
> seperti terbang ke langit yang ketujuh. Tancapan
> batang kejantanan ayah dalam sekali, menyentuh bagian
> yang belum pernah tersentuh dalam persetubuhan dengan
> suaminya. Dan punya ayah sungguh besar dan panjang.
> Kocokannya juga mantap. Oh nikmatnya. Zainab merangkul
> ayah kuat-kuat dan melumat mulutnya. Mulutnya
> menceracau berulang-ulang seiring dengan kocokan ayah:
> "Duh enaknya yah ... duh enaknya yah .. duh enaknya
> yah..." Kedua pahanya gelisah bergerak-gerak
> menanggapi gerakan panggul ayah yang terus memompa.
>
> Ayah tahu mereka tidak punya waktu banyak. Zainal anak
> angkatnya bisa pulang sewaktu-waktu. Atau mereka bisa
> dipergoki orang lain. Sebab itu dia berusaha keras.
> Dia ingin memuaskan Zainab sepuas-puasnya sebelum
> mereka selesai. Dan usaha itu berhasil. Dia merasa
> tubuh Zainab mengejang dan dinding vaginanya mulai
> mencengkam. Ayah tahu saatnya tiba. Dihunjamkannya
> penisnya untuk terakhir kali sedalam-dalamnya ke dasar
> liang Zainab dan disemburkannya bongkahan sperma
> kentalnya berulang-ulang ke rahimnya. Zainab melolong,
> merangkul makin erat dan melumat mulut ayah
> sementara kedua paha dan kakinya memiting panggul
> ayah. Otot-otot vaginanya meremas zakar besar ayah dan
> membasahi dengan air mazi kewanitaannya. Lalu keduanya
> lemas.
>
> Ayah membiarkan penisnya terendam dalam liang
> kewanitaan Zainab beberapa lama sebelum mencabutnya.
> Dihapusnya peluh di kening dan pelipis perempuan itu
> yang tampak makin cantik di kala letih dan puas. Dan
> dia merasa bahagia sekali. Zainab sudah berhasil dia
> cicipi dan dia juga bertekad untuk memilikinya. Dia
> akan menyuruh Zainab berkeras minta cerai dari Zainal
> dan setelah habis masa idah Zainab dia akan mengawini
> perempuan yang sudah separuh jadi miliknya itu. Dan
> ketika dia mengenakan kembali celananya, dan Zainab
> menyelipkan celana dalamnya yang tadi terlempar di
> selangkangannya, rencananya itu dikatakannya pada
> Zainab. "Tapi bagaimana kalau aku hamil di masa idah
> ayah?" tanya Zainab manja. "Ya jangan diberitahu orang
> bahwa haid-mu tidak datang. Sebab kalau mulai sekarang
> kamu tidak berhubungan lagi dengan Zainal, berarti
> kandunganmu itu pasti buah cinta kita bukan?", kata
> ayah tersenyum. Zainabpun juga tersenyum mengerti. Dia
> juga sangat bahagia, sebab sejak dulu dia sebenarnya
> lebih suka kalau jadi isteri ayah.
>
> Inilah cerita seorang ayah mertua yang mencurangi
> anaknya, walau hanya anak angkat. Dan nama
> anak-angkatnya itu sebenarnya bukan Zainal. Namanya
> ZAID.
>

Minggu, 07 Oktober 2007

konde sayang....

sayang jangan pernah marah lagi ya aku tuuuh sayang bangeeet saama konde setiap syngku sms hati ini bergetar gak karuan yg toge bayangin pasti saat bercinta denganmu..suaramu..desahanmu...kontol kamu...gaya bercinta yang paling aku suka syngku dibawag telentang toge genjot2 naik turun goyang pinggul kanan kiri..ahhh..sambl tangan sayangku mainin toketkuu...ahhh,,mmm enak bngt yang, aku suka bayangin seperti itu.
tapi saat sayangku marah hatiku sakit....rasanya nangis...sayngku percya sama toge hanya sama konde melakukan hal begitu indah yang gak pernah terlupa.

yang...kangen..........

konde penghantar tidurku......

sayang aku juga suka kontolnya konde...muachhh..setiap aku bercinta denganmu selalu bayangin kulum kontolmu...ahhhh honey pengen...

Sabtu, 06 Oktober 2007

SMS SEX PART1

konde:enak yang jadi suami kamu service diranjang hot,banyak uang,mau donk kerokin sayang.

toge:ah gak yang masih dibawahmuijazah cuma smajadi gaji juga umr bgku udah lbh dr ckp.emm yang aq yg capek pijitin dong..pgl smua nich yang.

konde:mau seh pijitin tapi pijitin yang gampang dipegang aja,mau juga gosokin tapi gosoknya cuma pakaisatu jari mau?yang aku kangen...

toge:iya mau yang asal enk aja...yg digosok apa yang/terserah kamu..aq jg kangenyang...kangen itu km(bisikinditelingamu)

konde:ya enaklah palagi pijatnyasambil dipilin2ouch yang digosok itil sayang palagi digosok pakai kontol aqouch enak sayang.yg kontolQ senut2 nih

toge:aah mmm iya enak yang jd bayangin ...kontolmugesek2 memek.ohh yang memeku juga denyut.yang kontol klotegang gayak gmna..pingin bgt bs kulum kontol wkt tegang pasti enak

konde:klo lagi ngaceng ngalah2in tongkatnya pak satpam,tp gmanagtu... ukuran BH tambah g yang? aq pingin bgt ciumBH ma CD kamusambil ngocok kontolQ

toge:wow yang bener yang.waduh pasti sakit saat genjot memek...ah jadi takut yang.BHkuagak kendur mungkin kurusan dikit biasanya kenceng besok bl uk 36 biar pasyang..pingin cium kontolmu..aq remesendoke..ahh enakyang

konde:keras tapi kenyaldan denyut2 gtutrus diakan dikelilingi maotot segede cacingtanah itu tuk garukmemek kamu emang kemarin pake BHukuran berapa?

toge:oh aq suka kontolmu yang jd merinding kuatnya kontolmu..uk BH38 kadang 36bgak tentu tergantung merk BHyang saat kontol kamu senut2 langsungkeras naik keatas gtu?

konde:awalnya jenti2 gtu terus naik keatas kontol aq kepalanya mendol dan bengkok keatas tadi aq cukur tapi aku bentuk huruf M,yang klo toket kamu gmana?

toge:oh indah bgt yang bentuk kontolnya..bntk seperti itu enak bgt.toketku ya gd putingnya hitam kecoklatan krn gede agak bergelantung yang suka toket yang gede?waktu ma istri temenmu toketnya kamu apain yangceritain yang biar aq terangsangtrus kontol kamu juga dikulum?

konde:iya yang aku suka toket yang Gd mau ngantung mau kenceng yang penting gede,aq kenyot2 putingnya sambil jariku digosok2kanitilnya,aq disuruh terlentang trus kontolku dijepit ma toketnya...disedot2 trus dia mau gagahin aku tapi aq gak mau dia marah terus memeknya diletakin dimulut aq jembutnyalebat bgt yang kamu gak marah aku cerita begini?

toge:iya cemburu cew itu binal bgt smp kamu mau diperkosa tapi aq salaut ma kamu masih bisa jaga keperjakaanmu.yang aku baca smsmu sambilmainin itilklo disentuhkenapa enak banget sampe keujung kepala

bersambung......

Selasa, 02 Oktober 2007

ENAKNYA TOGEMU

say aq sangat suka sama togemu...aq selalu terkenang saat aq kenyot kenyot togemu yang seukuran kepalaku..ooohh enaknya togemu sayang